Koor Wilayah Kristoforus baru saja kehilangan salah seorang anggotanya. Fransiskus Xaverius Arif Mulyono yang selama ini memperkuat suara tenor meninggal dunia hari Sabtu (26/10) sekitar pukul 14.30 dalam usia 61 tahun karena sakit. Ia meninggalkan seorang istri, empat anak yang semuanya sudah berkeluarga, dan empat cucu.
Berita tersebut sangat mengejutkan, karena malam sebelumnya Pak Arif masih datang latihan koor di rumah korwil Kristoforus. Seperti biasa, usai latihan malam itu dia masih ngobrol ngalor-ngidul. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan pergi selamanya secepat itu.

Jenazah Pak Arif dimakamkan di TPU Selapajang, Kota Tangerang, Minggu siang (27/10) usai misa requiem yang dipimpin oleh Romo Lammarudut Sihombing, CICM, di rumah duka, GG. Gotong Royong, Desa Pinang.
Pak Arif mungkin memang kurang dikenal di paroki. Kecuali karena kesibukan kerja, ia bukan jenis orang yang eye catching. Bersahaja dan cenderung menarik diri dari keramaian. Namun sebagai anggota koor ia bisa memegang komitmen. Jarang sekali absen kalau ada latihan.

“Kalau dipikir capek ya capek, Pak, tapi kalau untuk latihan koor saya usahakan datang, kan dalam seminggu hanya 1 jam, walaupun kadang-kadang capek juga he-he-he,” ujarnya suatu ketika.
Suara Pak Arif biasa-biasa saja. Standar tidak fals. Ada kalanya membidik nada juga kurang pas, tetapi dia sangat terbuka menerima kritik. “Gimana… gimana? Coba, diulang lagi,” sering kata-kata seperti itu yang terlontar ketika dikoreksi. Kalau ada lagu yang belum dikuasai, tak segan-segan dia pinjam teksnya untuk dipelajari di rumah.

Meskipun tidak istimewa, suara jenis tenor Pak Arif dalam paduan suara dibutuhkan. Orang yang terbiasa ikut koor pasti tahu bahwa paduan suara dengan komposisi SATB tanpa tenor tidak akan mencapai harmoni musikal karena, ibarat masakan, seperti kurang garam sehingga rasanya cemplang alias hambar.
Pak Arif sehari-harinya bekerja di bengkel karoseri mobil Jawa Indah di Jl Hasyim Ashari, Pinang, dengan spesifikasi persiapan pra-pengecatan bodi mobil seperti mengamplas, mendempul, dst. Karena pekerjaannya itulah tiap hari ia harus mengenakan pakaian kerja bengkel. Jarak tempat kerja sekitar 2 Km dari rumahnya yang dia tempuh dengan sepeda ontel.

Pak Arif selalu makan siang di rumah, sehingga tiap istirahat siang pasti pulang ke rumah dengan sepedanya lalu kembali ke bengkel lagi.
Salah seorang bapak dari Wilayah Kristoforus pernah bertemu Pak Arif dengan pakaian kerja warna biru dongker yang kelihatan lusuh. Sebagai warga yang baru pindah dari wilayah lain, bapak tersebut waktu itu belum mengenal Pak Arif.

“Pakaiannya lusuh, saya kira dia… maaf… pemulung, lalu saya beri uang. Eh… ketika ada doa lingkungan, ternyata dia datang. Saya baru tahu Pak Arif itu orang Katolik. Aduh malu… Saya merasa menyesal mengiranya pemulung,” kata bapak tersebut dengan senyum kecil beberapa saat setelah upacara pemakaman.
Selamat jalan, Pak Arif...
Teks & Foto: ps/dok. keluarga/ Video: GAM Palendeng