Kamis, 10 Oktober 2019, Komunitas Simeon-Hanna mengadakan bakti sosial (baksos) ke Panti Sosial Trisna Wredha Melania, Ciputat, Tangerang Selatan. Berikut ini adalah sekadar catatan untuk mencoba memahami peristiwa itu.
Menurut para ahli perkembangan hidup manusia, memasuki usia lansia itu bukanlah penyakit, melainkan tahapan hidup. Pada tahapan itu secara fisik akan terjadi penurunan kemampuan dalam merespons atau beradaptasi dengan (tekanan) lingkungan sekitar.
Kemampuan intelektual lansia juga akan berkurang meskipun masih bisa dirawat dengan kegiatan-kegiatan tertentu yang menunjang dihindarinya kepikunan; contoh kecil misalnya melakukan senam otak seperti brain gym, mengisi teka-teki silang, dll.

Dari segi emosional, masa lansia bisa menimbulkan gangguan karena merasa tersisih, kurang diperhatikan, merasa kurang dibutuhkan lagi, sehingga hidup terasa kurang nyaman, dan hampa.
Secara spiritual, sejauh hidup tertata dengan relatif baik, usia lansia bisa menunjukkan semakin matangnya seseorang, yang antara lain ditandai dengan hidup yang semakin religius.

Sementara dari sisi kepribadian, sejauh bisa menerima segala pengalaman hidup secara positif, orang akan menjadi semakin matang, mantab, dan bijak. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, memasuki tahapan lansia bisa menjadi kembali seperti masa kanak-kanak.
Pada kenyataannya, keadaan lansia tidak semua sama. Ada yang secara fisik masih bisa mandiri, tapi tak sedikit yang sudah perlu dibantu orang lain. Ada yang daya ingatnya tetap kuat, tapi juga tidak sedikit yang pikun.

Ada yang merasa nyaman-nyaman saja menerima tahapan masa lansia, tetapi tidak jarang yang merasa tidak dibutuhkan lagi, merasa tersisih, dst. Banyak lansia yang hidupnya makin saleh dan kian mendekatkan diri dengan Tuhan, makin bijak dan menjadi jujugan orang bertanya dan minta nasihat, tetapi juga tidak sekikit yang “kembali seperti anak-anak lagi”.

Sebagai makhluk sosial, kesempurnaan hidup manusia dicapai dalam kebersamaan dengan orang lain; dalam bahasa Latin socius (akar kata sosial) juga merupakan kata sifat yang berarti sharing, berbagi. Orang-orang lanjut usia, sebagaimana mereka yang masih berusia muda, tetap membutuhkan kebersamaan untuk saling berbagi, saling memberi, agar hidupnya semakin berarti.
Jika memakai bahasa orang-orang bijak, hidup ini semakin bermakna melalui ada-bersama-yang-lain.***

Teks: ps/ Foto-foto: Komunitas Simeon-Hanna St Bernadet/