Bagi umat Katolik Indonesia, Sabtu 5 Oktober 2019 merupakan hari yang penuh syukur, karena pada hari itu Uskup Keuskupan Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dilantik menjadi Kardinal bersama 12 Kardinal baru lain oleh Paus Fransiskus, di Gereja Basilika St Petrus di Vatikan.
Pelantikan dilaksanakan pukul 16.00 waktu Vatikan yang di Indonesia bisa disaksikan langsung lewat kanal youtube pada pukul 21.00 WIB.

Tak lama sesudah itu menyebarlah foto dan video tentang pelantikan tersebut di berbagai grup Whatsapp dan medsos lainnya, entah siapa yang memulai, sampai-sampai orang bisa saja menerimanya lebih dari satu kali. Itulah cara umat mengungkapkan syukurnya yang penuh suka cita.
Jika menengok ke belakang, ketika konferensi pers di GKP Katedral Jakarta, Kamis (5/9), tak lama sesudah penunjukannya sebagai Kardinal, Mgr. Ignatius Suharyo mengatakan, "Saya diberitahu bahwa saya ditunjuk oleh Paus Fransiskus menjadi Kardinal, tentu saya terkaget-kaget karena tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Bukan apa-apa, memang begitulah cara Vatikan.”

Tak terlintas di benak pria 69 tahun asal Sedayu itu bahwa ia akan ditunjuk menjadi Kardinal ketiga asal Indonesia, sesudah Justinus Darmojuwono dan Julius Riyadi Darmaatmadja. Jangankan bercita-cita menjadi Kardinal, yang menarik Mgr Ignatius Suharyo sewaktu kecil pun cita-cita awalnya bukan menjadi imam, tetapi polisi.

“Sejak kecil saya ingin menjadi polisi. Seandainya hidup saya tidak dibelokkan oleh seorang pastor, mungkin saya akan pensiun sebagai anggota polsek,” cerita Mgr. Suharyo memancing senyum umat saat merayakan misa syukur 40 tahun imamatnya di kompleks Sekolah Santa Ursula, Jakarta, tahun 2016.

Cerita tersebut diungkapkan oleh Aloysius B. Kurniawan, mantan muridnya di Seminari Tinggi St Paulus dan Fakultas Teologi Wedabakti Universitas Sanata Dharma, Kentungan, seperti dikutip dalam buku Biografi Mgr. Ignatius Suharyo, 20 Tahun sebagai Uskup, Terima Kasih, Baik, Lanjutkan! (St. Sularto & Trias Kuncahyono, Jakarta, Penerbit OBOR: 2017, h. 52).
Menurut buku tersebut, meskipun kakaknya (alm. RP Suitbertus Ari Sunardi OCSO) sudah masuk Seminari Mertoyudan, Suharyo kecil masih bersikeras untuk tidak mau menjadi imam!
Adalah perjumpaannya dengan Romo Theodorus Holthuyzen SJ, dosen moral dan Hukum Gereja di Seminari Tinggi, yang “membelokkan” cita-cita Suharyo kecil itu.

Romo Holthuyzen, yang biasa melayani umat Paroki Sedayu tiap Jumat pertama, Sabtu, dan Minggu bertanya kepada Suharyo kecil, apakah mau ikut tes masuk Seminari Mertoyudan?
Suharyo tahu bahwa bapak-ibunya ingin ada di antara anak-anaknya yang menjadi pastor, bruder, atau suster. Kedua orangtuanya adalah orang-orang yang saleh, pendoa, dan pasti setuju kalau dia ikut tes. Maka dia pun setuju ikut tes dan lulus, dan mulai menempuh pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1961 selepas lulus SD.
Dalam buku tersebut (h. 9), Mgr. Suharyo mengatakan, “Sejauh saya rasakan, keluarga kami adalah keluarga yang biasa-biasa saja. Keluarga kami besar, Bapak/Ibu (semua almarhum) dengan sepuluh anak, satu (Fransiskus Xaverius Suharyono) dipanggil Tuhan ketika masih kecil.”

“Bapak dulu bekerja di Dinas Pengairan sementara ibu di rumah sebagai ibu rumah tangga. Tidak jarang kami berbeda pendapat. Watak pun berbeda-beda. Tak ada tanda-tanda apapun bahwa akhirnya dua di antara kami menjadi imam dan dua yang lainnya menjadi suster.”

“Kalau Tuhan akhirnya memberi kesempatan kepada kami untuk menanggapi panggilan Tuhan bagi kami masing-masing, itu bukan karena kami istimewa. Mungkin justru karena kami adalah orang-orang biasa. Moga-moga tidak ada seorang pun di antara kami yang menganggap diri istimewa. Kalau menggunakan kata-kata saleh, semua adalah rahmat.”

Mgr. Suharyo dikenal rendah hati. Dalam konferensi pers di DKP tersebut ia menegaskan, kalau penunjukan dirinya sebagai Kardinal karena prestasinya, itu salah. “Penunjukan saya sebagai Kardinal oleh Bapak Paus Fransiskus pasti bukan karena prestasi saya, tetapi karena Gereja Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Minggu (6/10) Wakil Ketua DPH Aritasius Sugiya minta Sie Komsos menyebarkan ucapan selamat. Bunyinya: “Segenap Romo, DPH dan umat Gereja Santa Bernadet Paroki Ciledug mengucapkan selamat kepada Mgr. Ignatius Suharyo yang telah ditetapkan sebagai Kardinal. Semoga menjadi berkat perutusan bagi Bangsa Indonesia.”
Teks, Foto & Video: berbagai sumber/ps