Sekitar 170 anggota Emmaus Journey (EJ) atau Emmauser mengadakan Gathering di Gereja St Bernadet Pinang, Sabtu (28/9) setelah mereka menyelesaikan pembelajaran buku 1 (Perjalanan Hidup Mendasar).
Acara tersebut dipandu oleh Ibu Yenny dan Ibu Ida. Bp Djoko Heru Murti dari panitia EJ Angkatan VII yang juga anggota DPH, memimpin doa pembukaan, dan 15 orang anggota EJ Remaja menghangatkannya dengan menyanyikan lagu-lagu rohani.

Panitia membagi Gathering dalam dua sesi. Romo Bonifasius Taran Kokomaking, SS.CC, dari Gereja St Odilia Paroki Citra Raya, mengisi sesi pertama dengan materi "Taat dan Setia Mengikuti Yesus". Biarawan yang akrab disapa Romo Asran Making ini mengajukan pertanyaan, apakah ‘taat’ dan ‘setia’ itu pengertiannya sama?
"Keduanya sekilas tampak sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Yang membedakan adalah motif atau dorongan yang mendasari seseorang untuk ‘taat’ atau ‘setia’,” kata Romo Asran.

“Kalau ‘taat’,” jelasnya, “biasanya didasarkan pada aturan yang harus diikuti, sesuatu yang sifatnya ‘di luar’ diri pribadi. Tetapi kalau ‘setia’ lebih dilandaskan pada dorongan dari dalam, kesadaran dan tanggung jawab bagaimana seseorang harus bertindak dan bersikap.”
Romo Asran memberi contoh tokoh-tokoh teladan ketaatan dan kesetiaan dalam Kitab Suci seperti Nabi Nuh, Bapa Abraham, Yusuf, dan baru kemudian Ruth.

Romo Asran lalu bertanya, apakah Emmauser sudah taat dan setia mengikuti proses EJ, termasuk dalam penulisan Jurnal? Beberapa peserta mengangguk-angguk dan tersenyum menjawab pertanyaan tersebut.
Mengapa seseorang harus ‘taat’ dan ‘setia’? “Sebab Yesus lebih dahulu setia, bukan hanya kepada Bapa, tetapi juga kepada umat manusia. Yesus selalu menemani, mengingatkan, menegur, dan tetap menunggu manusia yang berdosa untuk dipersatukan kembali dengan BapaNya,” katanya.

Rm Noel, yang mendampingi dalam acara ini, menegaskan, jalan bersama Yesus memang tidak mudah. “Karena itu kalian harus berani membuang hal-hal yang menutup pandangan mata kita seperti kemalasan, egoisme, kesombongan diri, dan hal-hal lain yang sifatnya negatif, sehingga kita bisa segera bangun, berdiri dan bangkit ketika jatuh,” katanya.
“Menjadi murid Yesus harus berani melawan kerapuhan iman dan jiwa yang ingin bebas agar bisa menjadi lilin yang memancarkan cahaya untuk sesama,” imbuhnya.

Sesi pertama selesai pukul 11.00 dan dilanjutkan dengan permainan, sebelum Pak Pak Sihono menyampaikan materi tentang “Membangun Kebersamaan dan Sikap Rendah Hati” pada sesi kedua. Dalam hidup bersama orang lain, sikap rendah hati, tidak egois, mau membuka diri dan menerima keberadaan orang lain, itu penting.
Termasuk dalam pengertian itu mau mendengarkan masukan/kritikan orang lain, mau dipimpin bukan hanya memimpin. “Jika tidak, maka tidak akan ada kerjasama dalam mencapai tujuan,” kata Pak Sihono.
Sementara itu permainan yang diperagakan adalah menurunkan pipa paralon ke tanah bersama-sama anggota kelompok hanya dengan menggunakan satu jari.

Permainan yang tampaknya sederhana itu ternyata tidak semua kelompok bisa melakukannya dengan baik, antara lain, karena terlalu banyak yang memberi komando, kurang fokus dalam mencapai tujuan utama, yaitu menurunkan pipa paralon, dan kurangnya kekompakan atau kerjasama.
"Sebenarnya permainan ini tidak sulit, tetapi akan menjadi rumit ketika semua orang tidak bisa menurunkan egonya, hanya ingin jadi pemimpin," kata Pak Sihono di akhir sesi.

Permainan kelompok tersebut juga bertujuan untuk memompa semangat dan kekompakan agar peserta termotivasi untuk melanjutkan perjalanan bersama di Buku 2 dan 3, mengikuti retret perutusan untuk melanjutkan karya pelayanan.
Seusai permaian, seluruh peserta kembali memasuki gereja dan acara ditutup dengan doa oleh Bp Edi Hartono sebelum mereka mendapatkan konsumsi sekitar pukul 13.00.
Teks: Maria Melati K Satriyani/ Foto-foto: Panitia, Edward Joedho