Romo Gunawan: Bapak Ibu punya Kitab Suci di rumah?
Peserta: Punyaaaaa…
Romo Gunawan: Pernah disimpankah?
Peserta: Ha-ha-ha-ha-ha…
Romo Gunawan: Kalau umat Katolik sekarang ini masih belum baca Kitab Suci, itu ketinggalan zaman…
Rupanya percakapan tersebut menyiratkan kesadaran membaca, mempelajari, dan mendalami Kitab Suci di kalangan umat Katolik yang masih harus terus digalakkan. Inilah yang menjadi salah satu dasar diselenggarakannya acara yang berlangsung di Balai Metro, Minggu 22 September, oleh Seksi KKS Santa Bernadet.

Dengan penampilan lagu Baca Kitab Suci Doa Tiap Hari oleh para EJR di awal seminar, semua peserta tampak sumringah hari itu. Menyusul kemudian kata sambutan Bu Etty Iswanti, Ketua SKKS yang memberikan apresiasi kepada para peserta yang hadir.

Romo Noel yang mendampingi acara ini bahkan sempat berdiri cukup lama di pinggir jalan untuk menyambut para peserta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, “Di manakah sebenarnya kekuatan (the power) Kitab Suci, sehingga hidup kita bisa dikuasainya seperti Paulus? Mari kita belajar bersama di seminar ini.”

Hampir 200 orang memenuhi Balai Metro ketika sekitar jam 09.10 acara ini dimulai dengan dipandu oleh Bu Mel, nama keren Ibu Maria Melati, dari Wilayah Monika. Acaranya mengalir dinamis.
Peserta tampak khusuk mendengarkan penjelasan Romo A Setya Gunawan, Pr, yang sesekali memancing gelak tawa sehingga peserta terus setia sampai akhir meskipun waktu sudah menunjukan pukul 13.05, melebihi rencana awal yang seharusnya selesai pukul 12.00.

Romo Gunawan begitu gamblang menjelaskan bagaimana cara mudah bisa membaca Kitab Suci, yaitu melalui Peta Israel, dari Utara hingga ke Selatan, dari Galilea sampai ke Yudea. Isi Alkitab satu demi satu dikupas oleh Romo Gunawan sambil melihat Peta, dan benar saja tampak jauh lebih mudah dibandingkan dengan jika hanya membaca saja tanpa tahu alur cerita kisahnya.

Secara runtut Romo Gunawan menceritakan awal mula sejarah munculnya agama Katolik (Matius 11:25) sampai kepada isi masing-masing Injil. Semuanya disampaikan secara garis besar karena jika diceritakan detail maka sampai sore pun tidak akan selesai…he-he-he.
Banyak istilah yang mudah diingat, seperti Isi Taurat Musa disingkat Kakak Ibu (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), lalu MCK = Mintalah, Carilah, Ketoklah, yang merupakan isi dari Matius 7: 7 yang disingkat Es Teler 77. Lalu makna dari 3 hadiah yang diberikan kepada Yesus oleh 3 orang “Maknyus” (maksudnya, Majus) dan masih banyak yang lain.

Rupanya seminar ini begitu mengasyikkan bahkan membuat ketagihan sebagian besar peserta yang hari itu datang.
“Tadinya saya takut diajak ikut seminar Kitab Suci. Yang saya pikirkan berat dan saya nggak akan paham. Beruntung saya nekat ikut. Ternyata ada juga pembahasan Kitab Suci yang ringan dan santai,” kata Ibu Cecilia Vetty Devitasari yang akrab disapa Mbak Vetty.
“Apalagi Romo Gunawan membawakannya dengan diselingi guyonan, misalnya MCK mintalah, carilah, ketoklah dari Mateus 7:7. Jadi mudah diingat atau nyantol, Banyak hal baru yang saya dapatkan dengan ikut seminar ini, seperti kenapa ada peta di Kitab Suci,” imbuh Mbak Vetty dari Wilayah Sesilia ini.

Hampir senada Pak Heri dari Lingkungan Fabiola 2 mengatakan, “Bagus sekali acaranya. Dibawa ke suasana dinamis dan lucu, sehingga apa yang disampaikan menarik dan inginnya terus lanjut. Gak bosen-bosen untuk mendengarkan ilmu-ilmu berikutnya.”
Ketua Panitia Seminar Pak Tulus Widodo melihat dan merasakan antusiasme peserta. “Terbukti dari target jumlah peserta sesuai kapasitas tempat, kurang lebih 200 orang. Mereka tetap mengikuti dari awal sampai akhir, dan banyaknya pertanyaan di sesi tanya-jawab,” katanya.

Pak Tulus sebenarnya belum mengenal Romo Gunawan. “Hanya mendengar pernah mengisi gathering Emmaus Journey, maka saya pilih untuk nara sumber seminar ini. Ternyata memang pilihan yang tepat,” imbuhnya.

Materi dan penyampaiannya, kata Pak Tulus lagi, sederhana dan memakai contoh-contoh yang nyambung dengan umat Paroki Ciledug, sehingga peserta tampak senang mengikuti. “Ternyata waktu cepat berlalu. ‘Tertawa terus,’ ungkap seorang oma dan banyak komentar positif yang saya terima,” tambahnya.
Sangat menggembirakan. Semoga ke depan makin banyak kegiatan serupa di paroki kita tercinta.
Teks: Arum Pranastuti, Bambang Gunadi/ Foto: Bambang Gunadi, Maria Melati.