Salah satu buah renungan bersama pada pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ke-3 Lingkungan Kristoforus 1, Sabtu, 21 September 2019, adalah bahwa bertobat itu tidak terbatas pada mengaku dosa saja, melainkan dalam hidup sehari-hari berani meninggalkan cara hidup lama.
Pada pertemuan tersebut, sesuai buku panduan, bacaan Kitab Suci diambil dari Kitab Yoel Bab 1: 5-14. Pertemuan di rumah Keluarga Ibu Samino, Pinang Griya Permai, itu dihadiri sekitar 15 orang, dipandu Prodiakon Pak Djoko Mulyono, dengan pemimpin ibadat Bp Edmundus.
Hadir juga Pak Palendeng yang pernah mendalami Kitab Suci pada Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS) dan katekis senior, Pak JC Simbolon.

Buku Panduan Bulan Kitab Suci 2019, pertemuan ke-3, mengambil judul "Berhikmat melalui Alam Ciptaan, Pewartaan Yoel tentang Pemulihan Lingkungan Hidup". Tema besar BKSN tahun ini adalah "Belajar Berhikmat dari Tokoh Kitab Suci".
Inti pewartaan Nabi Yoel adalah bahwa kerusakan lingkungan, yang digambarkan dengan hama belalang, merupakan akibat ulah manusia dan mengganggu hubungan religius dengan Tuhan. Karena alam rusak, bahan-bahan dasar peribadatan tidak bisa disediakan.
Hal tersebut terjadi karena bangsa Israel sesudah pembuangan Babel terbuai kenyamanan semu, comfort zone, sehingga abai terhadap kerusakan lingkungan. Karena itu, Nabi Yoel menyerukan pertobatan.

Belajar dari tokoh Kitab Suci Nabi Yoel, Pak Djoko Mulyono mengatakan bahwa manusia sendiri yang harus membangun alam lingkungannya. "Bertobat itu tidak hanya mengaku dosa saja, tetapi juga dalam perilaku sehari-hari berani meninggalkan pola hidup lama yang merusak lingkungan hidup," katanya.
Seperti disebut dalam buku panduan, kata Pak Djoko, pertobatan bisa berupa pemilahan sampah, gerakan anti-plastik, anti-sedotan, membuat lubang biopori, bawa botol minum sendiri, dan lain sebagainya.

Semuanya itu, menurut peserta lain, sesuai anjuran dalam ARDAS KAJ 2016-2020, yaitu seruan "pertobatan ekologis". Katekis senior, Pak JC Simbolon, menambahkan bahwa pertobatan harus dilakukan secara total. "Pertama-tama pertobatan rohani, kemudian pertobatan ekologis," katanya.
Berkaitan dengan itu, Pak Palendeng menawarkan tanaman lidah buaya di rumahnya untuk dibagi-bagikan secara gratis. "Silakan ambil lidah buaya di rumah saya, sudah saya tempatkan di gelas-gelas plastik," katanya. Tawaran itu mendapat sambutan positif karena merupakan contoh nyata bagaimana mengembalikan lingkungan dari kerusakan sebagaimana diserukan oleh Nabi Yoel.
Teks & Foto: ps