Misa hari Sabtu dan Minggu (7 dan 8 September) terasa berbeda. Paduan suara yang menjadi pengiring terdengar berbeda dari misa mingguan biasanya. Itulah persembahan Expo Kaum Muda yang bertajuk “Menjawab Panggilan dalam Karya”. Di samping itu, para petugas tata laksana juga orang-orang muda.

Dengan menggandeng Komunitas Karyawan Muda Katolik (KKMK) dan Orang Muda Katolik (OMK) dalam kepanitiaan dan kepesertaan, kegiatan pelayanan tersebut dikomandani oleh Aloysius Aditama Istiyanto dari lingkungan Fabiola 1.

Ide awalnya sederhana. Melihat kegiatan OMK dan KKMK yang berjualan secara bergantian di Taman Gereja Pinang setiap selesai misa Sabtu dan Minggu demi mencari dana untuk menghidupi komunitas mereka, muncullah ide bagaimana kalau “tetap” cari dana, tapi juga bermanfaat untuk umat paroki?

“Expo Kaum Muda ini adalah jawabannya,” kata Aditama tak lama setelah selesai acara. Dalam waktu dua bulan, dia dan rekan lainnya bekerja keras untuk mengurus perekrutan anggota koor, pemain musik, aransemen musik, dan menjadikan mereka memilki kecocokan chemistry. Kurang lebih 120 orang yang terlibat, meliputi anggota koor, pemusik, tata laksana, rekrutmen, serta penjaga kotak sumbangan.
-ok.jpg?1568400364216)
Berbicara susunan anggota koor dan pemusik, Aditama mengajak orang-orang yang kredibel di bidang tersebut untuk berkolaborasi. Ada Mbak Arum Pranastuti, yang dipercaya sebagai konduktor serta Aditya Diaz sebagai keyboardis.

Dalam perjalanan mengumpulkan teman-teman muda, Aditama juga mengajak Yoakim Edi selaku Ketua OMK untuk menggerakkan teman-teman dari berbagai wilayah untuk bergabung. Selain itu ada Aristo Pratama, Ketua Bidang Intelektual KKMK, dan Fransiska Denty, Ketua Bidang Sosial KKMK untuk melakukan hal yang sama, yakni mengajak teman teman muda bergabung menyukseskan acara ini. Ephemia Estiana (KKMK) dan Maria Isabella ditunjuk sebagai bendahara.

Tak hanya teman-teman muda saja yang mengambil bagian dalam perhelatan ini. Aditama tak sungkan mengajak teman-teman senior untuk ambil bagian. Bu Titik Amperawati bersama Mbak Iwen yang sama sama dari Fabiola 1 diminta mengurusi konsumsi. Sementara urusan tata panggung dibantu Pak Edwin Suryadi, dan sound system oleh Pak Prihardjo dan Mas Sigit.

Pasukan ‘jagoan’ melengkapi teman-teman muda dalam unjuk suara, yakni Pak Paulus Sulasdi, Pak Bambang Gunadi, Pak Albertus Sukindro (anggota DPH pembimbing KKMK), Pak Antonius Maria Claret Ingkiat, Pak Tri Haryanto, Pak Margo Yuwono, Mbak Veronika Sekar Dayu Astri, dan Mbak Ruliyanti. Tak kalah pentingnya, Pak Stevanus Pristi Wahyudono, anggota DPH pendamping OMK KKMK, yang selalu meminjamkan alat-alat musiknya.

Mengarahkan dan berproses bersama teman-teman muda dari berbagai latar belakang memiliki tantangan tersendiri bagi Aditama. Bagaimana untuk tetap menjaga kepercayaan teman teman muda melalui keseriusan dalam latihan, menjaga suasana tetap menyenangkan, baik saat latihan maupun rapat.

“Ketika hati sudah terbentuk, maka apapun akan efisien. Dan setelah efisien, segala masalah akan terselesaikan dengan cepat,” ungkap Aditama. Di antara semua tantangan, uang menjadi hal yang paling krusial. Di tengah minimnya dana, mereka tak berputus asa dan tetap berjuang di tengah keterbatasan yang ada hingga akhirnya semua lancar hingga hari H.

Melalui pelayanan ini pun Aditama berharap, untuk ke depannya teman-teman muda dari berbagai wilayah bisa ambil bagian dalam pelayanan ini, yang tentunya tanpa paksaan dan bukan untuk tujuan lain semata-mata pelayanan. Karena semua skill, kompetensi yang dimiliki oleh teman-teman muda adalah pemberian dari Tuhan.

Expo Kaum Muda menjadi semacam kejutan. Bagaimana reaksi wajah umat ketika menyaksikan koor dengan aransemen dan orkestrasi khas orang muda itu sudah menunjukkan bahwa mereka tengah melihat sesuatu yang tidak biasa. Tepuk tangan tak lain adalah ekspresi apresiasi.

Apa kata para senior? ”Saya mau hadir dan datang karena saya mempunyai harapan yang besar. Kami sudah senior, maka harus meregenerasi kaum muda yang memiliki potensi dalam bidang yang sama. Harapan saya kaum muda tidak hanya berhenti di sini, tapi tetaplah melangkah maju.” (Pak Ingkiat, tenor senior)
-ok.jpg?1568397880092)
”Awalnya saat saya mendengar rencana expo dengan anggota koor yang banyak dan perlu adanya komitmen, saya tidak yakin. Namun saat saya mencoba untuk berkecimpung di dalamnya, saya malah menjadi kagum, karena bisa membuktikan hanya dalam waktu 60 hari, bisa terus berkomitmen dan terus dalam keadaan semangat.” (Aditya Diaz, organis)
.jpg?1568398111064)
“Kadang ada rasa capek banget karena besoknya ada UTS. Awalnya juga ngerasa biasa saja, tapi semakin lama latihan saya merasa semakin solid, capek bareng, kepanasan bareng, tetapi kebersamaannya yang membuat saya memiliki komitmen dengan sendirinya, sampai pada hari bertugas meskipun Sabtu malamnya saya kecelakaan terjatuh dari motor. Namun saya tetap ingin hadir karena tidak ingin waktu latihan 2 bulan itu menjadi sia-sia.” (Amanda, peserta koor)

“Saya nangis karena saya tahu dari awal perjuangan Adi bener-bener dari awal banget, minta bantuan koor dan permintaan mbak Arum yang minimal kursi koor harus penuh. Sampai akhirnya bisa diwudjudkan keinginan kita semua. Mengingat latihan dari tanggal 14 Juli sampe 1 September, dari awal nggak kenal sampe sekarang menjadi keluarga, dan menjadi sukses semua berkat kerja keras dan latihan kita semua. Semua itu membuat saya menjadi susah move on hehe…”
-ok.jpg?1568399850426)
-ok.jpg?1568403309832)
Aditama, ketua penyelenggara, selalu menyampaikan sambutan di akhir setiap misa. Dia termasuk piawai bermain kata, sehingga konsentrasi pendengar terjaga ketika dia berbicara. Ia bermain-main dengan kosa kata “cinta” dan umat pun tersenyum senang mendengarnya.

“Expo Kaum Muda, semua ini kami lakukan karena kami mencintai paroki ini,” katanya disambut tepuk tangan. Semua itu dilakukan untuk mengantar ketukan hati kepada umat agar bersedia memberikan dukungan dana.

Sementara itu Romo Lamma mengatakan, meskipun Paroki Ciledug belum memiliki gedung gereja, fasilitas-fasilitas pelayanan serba terbatas, umat Santa Bernadet tahu diri. “Dalam keterbatasan, kita memberikan ruang bagi Tuhan untuk berkarya dengan rahmatNya. Sehingga, seperti yang dilakukan oleh kaum muda ini, kita masih bisa memberikan pelayanan yang terbaik,” katanya.

Proficiat untuk teman teman KKMK dan OMK atas Expo Kaum Mudanya, dan kita nantikan acara-acara besar lainnya.

Teks: Yollanda, Laraswati/ Foto-foto: Jassen Novaris, Hari Kristanto, Rafaela Chandra, Rini, ps/Video: omkstbernadet/ Tim KOMSOS