Minggu (11/8) Komsos Santa Bernadet mengadakan workshop yang bertema Creative Short Movie. Pembicaranya adalah Ita Sembiring, seorang penulis dan juga pembuat film. Acara dimulai pukul 09.30 bertempat di sekolah Abdi Siswa, Graha Raya. Sebanyak 35 peserta mengikuti workshop ini.

Acara diawali dengan doa pembukaan dari pak Tulus, salah satu peserta dari wilayah Hubertus. Pak Bambang Gunadi selaku Ketua Sie Komsos juga memberikan sepatah kata sebelum acara dimulai. Pak Bambang menceritakan secara singkat profil ibu Ita dan kegiatan sosial yang pernah dilakukan bersama dengan Bu Ita.
“Kalau komsos sudah bisa mengelola website, social media seperti instagram, maka kita harus belajar hal yang lain seperti membuat film untuk mewartakan. Kami mengajak teman-teman untuk sama-sama belajar,” kata Pak Bambang.

Workshop dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Bu Ita. Pada sesi ini peserta diajak untuk menemukan ide-ide dari hal yang sederhana.
“Ide bisa kita dapatkan dari mana saja, tidak perlu menunggu hujan, mencium aroma tanahnya, atau nongkrong di kamar mandi, lalu baru dapat ide,” kata Bu Ita yang disambut tawa oleh perserta. Bagi bu Ita sendiri cara beliau menemukan ide cukup dengan segelas teh hangat dan perasan jeruk lemon maka ide-ide itu akan mengalir.

Selain itu Bu Ita menjelaskan bagaimana membuat konsep, membuat alur cerita satu per satu, sehingga ceritanya menarik. “Membuat film pendek dengan durasi yang sedikit tidak perlu mendetail tetapi dikemas dengan menarik dan yang penting bagimana pesannya sampai kepada penonton,” jelas Bu Ita.
Kreativitas juga harus digunakan, misalnya, dengan budget yang terbatas tetapi film harus sesuai alur dan properti yang mendukung. Diskusi dua arah antara Bu Ita dan peserta membuat penjelasan menjadi menarik dan peserta diperbolehkan untuk langsung bertanya jika kurang jelas.

Tidak cukup hanya mendengar penjelasan teori saja, maka peserta diajak untuk berdiskusi dalam 5 kelompok. Tiap kelompok diajak membuat sebuah film pendek berdurasi 7 menit, konsep cerita diambil dari sebuah perikop atau tokoh dalam Kitab Suci.
Selesai berdiskusi dalam kelompok, maka tiap kelompok menjelaskan konsep cerita, alurnya, serta gambaran lokasi maupun properti yang digunakan. Tentunya cerita sederhana akan lebih mudah dipahami oleh penonton.
Bu Ita memberikan masukan untuk tiap kelompok agar konsep yang telah dibuat tersebut dapat diwujudkan. Di akhir sesi pertama, bu Ita memilih 1 kelompok yang akan dibahas lebih dalam lagi mengenai teknis pembuatan film pendeknya tersebut.

Setelah makan siang, sesi kedua dilanjutkan oleh Agdi salah satu tim Ibu Ita yang membantu di bagian visual editor. Pada sesi ini lebih banyak dibahas mengenai teknis pembuatan film. Satu kelompok yang ceritanya sudah terpilih dijadikan contoh untuk melakukan praktik.
Mulai dari jenis kamera dan properti yang digunakan, angle pengambilan gambar, sampai memilih scene yang lebih dahulu akan dilakukan shooting.

Mas Agdi yang pernah menjadi visual editor dalam film horor “Tusuk Jelangkung” ini menjelaskan, “Biasanya kalau shooting tidak selalu berurutan, tapi dilihat mana yang bisa dijadikan satu. Nah yang pertama kali biasanya itu ambil yang luar ruangan baru di dalam ruangan”. Waktu terasa singkat karena sudah pukul 15.00 dan acara harus berakhir.
Membuat film atau video pendek memang tidak mudah tetapi semua orang pasti pernah membuat video, entah itu memvideokan anak atau keluarga, video travelling, atau yang lebih kekinian dengan video blogger atau vlog.

“Maka kalau kita berkomentar film ini jelek, film itu jelek, ingatlah bahwa membuat film itu tidak mudah, butuh effort,” ujar Bu Ita.
Peserta dari wilayah Kristoforus, Ana, mengatakan, “Sesi sharing-nya seru, sangat brainstorming, menambah pengetahuan, dan pembawa acaranya keren.” Selanjutnya Ana pun berencana akan mencoba membuat video-video dan akan mengikuti lomba video pendek yang diadakan oleh seksi KKS.

Sementara itu Pak Yoyok, peserta dari wilayah Albertus, mengatakan sebagai awam jadi mengerti bagaimana cara membuat video. “Karena menarik, waktunya terasa kurang,” katanya.

Teks: Margaretha Elsa/ Foto-foto: Walter Arya