Tanggal 3 dan 4 Agustus 2019 berlangsung acara Pembekalan Pembina BIA dan BIR di Balai Metro Permata, hasil kolaborasi BIA-BIR St Bernadet dan Komkat KAJ. Hari pertama dimulai pada pukul 14.30. Sesudah registrasi, acara dibuka dengan doa oleh Kak Chio dan Kak Angela.

Sesudah itu Pak GM Budi Suryanto, anggota DPH, menyampaikan 3 pesan Romo Lamma untuk para pendamping BIA yaitu: melayani dengan patuh pada Tuhan, melayani dengan ikhlas, dan melayani dengan sederhana.

Pak Budi juga mengatakan bahwa kader BIA merupakan salah satu program KAJ untuk membangun masa depan penerus Gereja.
Setelah sambutan oleh Pak Budi, acara dilanjutkan dengan ice breaking (bernyanyi dengan gerakan) yang dipimpin oleh Kak Angela dan Kak Putra. Kami pun kemudian masuk sesi pertama bersama Kak Chrisiandy Yuniarto atau Kak Chris yang merupakan pakar BIA di Komkat KAJ.

Pada sesi ini kami belajar tentang "Inspirasi Menjadi Pelayan". Sebelumnya Kak Chris menyebutkan syarat melayani adalah peduli terhadap sesama. Kemudian kami diajak bermain lempar bola yang maknanya untuk berkenalan, menjalin komunikasi, dan meringankan beban sesama.

Setelah itu Kak Chris mengajarkan prinsip pelayan pintar sebagai pendamping BIA. Yang pertama harus mengawalinya dengan doa (Luk 22:40), kemudian saat pelayanan hanya ada 2 pilihan, yaitu mau/tidak mau (bukan bisa/tidak bisa) (Luk 19:3-4).
Yang ketiga, ada cara melayani yang berbeda (Mat 5:38-39), kemudian kita harus fokus pada tujuan pelayanan (Mrk 16:15) dan yang terakhir, jika gagal, coba lagi dengan cara berbeda (Mat 10:16).
Sesi Kak Chris pun berakhir dan dilanjutkan dengan makan nasi bakar bersama pukul 16.00, di sana juga disediakan teh dan kopi gratis. Sesudah makan bersama, acara dilanjutkan oleh Kak Maria Laurenti atau Kak Yeyen salah satu pakar BIA Komkat KAJ juga.
-ok.jpg?1565600963857)
"Spiritualitas Pendamping Iman" adalah tema yang digunakan kak Yeyen pada sesi ini.
Kak Yeyen mengatakan bahwa sebagai pendamping harus siap diutus di mana saja, dan kita harus menjadikan Yesus sebagai pusat hidup.

"Kata-kata menggerakan hati sesaat, tapi kalau sikap akan tinggal membekas lebih lama." Begitulah Kak Yeyen memberitahu bahwa adik-adik BIA akan lebih paham dan patuh jika materi yang disampaikan melalui sikap perbuatan atau praktik, berbeda jika kita mengajarkan hanya dengan kata kata saja.
Dalam menjalani pelayanan sebagai pendamping BIA kita juga diingatkan pada semangat 2D2K, yaitu Doa, Derma, Kurban Kesaksian.
-ok.jpg?1565601047565)
Dan sesi hari pertama selesai pukul 17.30 kemudian dilanjutkan oleh Kak Kris lagi yang memberikan ayat emas untuk seorang pelayan Tuhan, yaitu : "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kol 3:23)
Acara kaderisasi BIA hari pertama diakhiri dengan doa penutup pukul 18.00.
Hari kedua, Minggu, 4 Agustus 2019, mengambil tema "Karateristik Anak" bersama Kak Fifin dan Kak Marina. Acara dimulai pukul 12.00, dibuka dengan doa. Suasana saat itu tidak seperti biasanya karena siang itu semua listrik padam dan sinyal internet pun menghilang.

Tapi walaupun listrik padam, dan kurang penerangan, acara tetap berjalan dengan asyik, setelah doa, kami melalukan ice breaking yang dipimpin oleh Kak Putra, karena ice breaking-nya cukup seru susana mati listrik pun tidak kita pedulikan.
Setelah makan, kita masuk ke materi mulai jam 13.00. Sesi hari ini dibawakan oleh kak Maria Fifin Aneta dan kak Marina dari Komkat KAJ.
-ok.jpg?1565609012460)
Awalnya kami diajak berkenalan satu per satu oleh kak Fifin. Kak fifin meminta kami sharing tentang tujuan dan harapan kami sebagai pembimbing BIA.
Dari 40-an teman-teman yang hadir bisa diambil kesimpulan bahwa kami berharap pembekalan pembia BIA dan BIr ini bisa menimbulkan rasa kekeluargaan, di mana setiap adik-adik BIA merasa nyaman saat bina iman bersama. Sesi sharing pun selesai pukul 15.00.

Kak Fifin menjelaskan bahwa manusia memiliki golden age pada usia 1-5 tahun di mana pada usia tersebut anak-anak lebih cepat menyerap informasi yang mereka lihat dan dengar, dan pada usia 3-9 kemampuan meniru anak sangat cepat. Maka saat kita membimbing seorang anak pada usia 1-9 tahun kita harus mencontohkan yang baik untuk ditiru.

Setelah itu kami diberi ilmu tentang "mewariskan sikap hidup Yesus", yaitu AMPUH (akrab, mengasihi, peduli, ungkap syukur, hidup jujur).
Jadi, pembimbing yang baik adalah mereka yang mau melaksanakan 5 sikap hidup Yesus tersebut dan kita bisa belajar dari 5 sumber ajaran yang wajib ditularkan, yaitu Tritunggal Maha Kudus, ajaran dan tradisi Gereja, Kitab Suci, dan para kudus, Wahyu dan Iman, aplikasi gereja, dan masyarakat.

Kaderisasi hari kedua ditutup pada pukul 16.00 dengan doa dan foto bersama. Menurut jadwal, pembekalan masih akan berlanjut 18 dan 25 Agustus mendatang.
Teks: km/Foto-foto: Jassen Novaris, Pandu Prasetya, Nikolaus Tegar