Dekorasi Altar Wilayah Santa Sesilia, Gereja Pinang Rasa Bali

5 Agustus 2019
  • Bagikan ke:
Dekorasi Altar Wilayah Santa Sesilia, Gereja Pinang Rasa Bali
Dekorasi altar karya wilayah Santa Sesilia.

Minggu 4 Agustus 2019 tiba giliran Wilayah Santa Sesilia dalam lanjutan Lomba Dekorasi Altar ramah lingkungan yang diselenggarakan oleh Seksi Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Tim Tata Bunga Altar.

Bapak Cyprianus Phili Coli, Koordinator Wilayah Santa Sesilia yang biasa dipanggil Pak Cypri, mengungkapkan bahwa ini pengalaman pertama terlibat dalam mendekorasi altar.

Dekor4

Adenium merah dipadu dengan janur, daun, dan kain Bali.

“Umat kami tidak ada yang mempunyai pengalaman dalam hal seperti ini. Bersyukur banyak umat di wilayah Sesilia yang menyambut baik dan mau terlibat dalam kegiatan ini, jadi hanya kemauan bukan kemampuan,” kata Pak Cypri.

Lebih lanjut Pak Cypri menceritakan, “Semuanya diawali dari grup WA, bahwa untuk lomba dekorasi altar ramah lingkungan prinsipnya kita akan memanfaatkan apa yang ada di rumah atau sekitar rumah kita.”

Ternyata sambutan umat Sesilia luar biasa. Mulai ada yang menawarkan aneka tanaman hias, kipas, piring rotan, aneka kain dari berbagai daerah, dan janur. Kebetulan di Lingkungan Sesilia 4 Komplek Mahkota Simprug banyak sekali pohon kelapa.

Dekor7

Altar tenda bawah. Ada rasa Bali di sana.

Menurut Pak Cypri, kegiatan itu dimulai dari hari Kamis 1 Agustus 2019 kira-kira jam 20.00. Sekitar 15 orang hadir di gereja Pinang dengan membawa aneka rupa properti sesuai yang di-list dalam group WA.

Karena bingung, berdoa dulu

“Setelah semua diturunkan dari mobil dan dibawa ke sekitar altar, sebagian ibu-ibu mulai memilih dan menata aneka tanaman dan bunga. Di sinilah masalah mulai.  Timbul kebingungan tanaman dan bunga apa yang harus dipakai dan mau ditaruh sebelah mana,” cerita Pak Cypri lagi.

Dekor3

Kompak bekerja setelah berdoa.

“Berangkat dari hal (kebingungan) itu, maka kami ajak semua berhenti dulu, mari kita berdoa dulu sebelum kita mendekorasi altar ini. Lalu nanti kita lanjutkan dengan diskusi atau sumbang saran tema atau model dekorasi yang akan kita tampilkan dengan melihat sarana dan prasarana yang ada,” kata Pak Cypri menceritakan ajakannya ke umat Sesilia waktu itu.

Ajakan tersebut disambaut baik, salah seorang di antara umat mengatakan setuju karena juga merasa bingung mau bantu apa.

Dekor5

Mematut-matut untuk memperoleh rasa Bali.

Nah titik terang mulai muncul setelah berdoa.  Saat diskusi mulai dikelompokan dulu tanaman yang ada bunganya apa saja. Ternyata ada andenium merah dan kastuba, lainnya hanya tanaman berdaun.

Lalu ada kain Bali, tenun, kipas tangan, piring rotan, dan janur. Adalah Bp Abraham Budi Handoyo—biasa dipanggil Pak Budi—yang mengatakan bahwa melihat bahan yang tersedia boleh dikata sebagian besar adalah khas Pulau Bali. “Maka saya usul, tema dekor kita adalah  Bali,” katanya.

Dekor8

Perlu diskusi dan terang ilahi untuk membuat dekorasi.

Ternyata, kata Pak Cypri, semua sepakat dengan usulan tersebut. “Mungkin ini contoh konkret penghayatan tahun berhikmat,” ungkapnya. Lalu Pak Budi membuat sketsa dekorasi altar dan menentukan tanaman dan pernak-pernik apa yang sesuai untuk dipadu-padankan.

“Nah kalau begini jadi gampang kita mau bantu dan mengerjakannya,” ungkap seorang ibu ketika melihat hasil sketsa Pak Budi dan diamini oleh semua yang hadir malam itu. “Lalu janurnya bagaimana?” tanya ibu lain. Ternyata ada seorang bapak yang bisa merangkai janur.

Sudah disusun, ditata ulang

“Jadi malam itu tidak banyak yang kami kerjakan. Kami hanya memilah-milah mana yang cocok untuk tenda atas dan mana untuk tenda bawah. Dan tanaman yang tadinya sudah disusun di depan altar pun kita turunkan semua untuk ditata ulang sesuai sketsa,” cerita Pak Cypri lagi.

Kegiatan dekorasi altar tersebut dilakukan hari Jumat setelah Misa Jumat Pertama selesai. Nah hari Jumat, 2 Agustus 2019, mulai jam 22.00 sampai sekitar jam 01.00 dini hari, sketsa yang sudah disepakati bersama itu direalisasikan.

Dekor2

Bapak-bapak pun melapisi pot dengan kain Bali.

“Nah itulah hasilnya Gereja Bernadet nuansa Bali karya Wilayah Sesilia. Semoga berkenan,” harap Pak Cypri.

Serasa Gereja Palasari

Ibu Tricory Anggraeni, Lektor pada Misa jam 08.30, mengungkapkan Misa pagi itu serasa di Gereja Palasari Denpasar Bali. “Dekorasinya membangun suasana doa,  apa lagi hari ini kotbahnya Romo Noel bisa menggabungkan bacaan 1 dan 2, Masmur tanggapan, bait pengantar Injil, dan Injil menjadi satu rangkaian yang nyambung,” katanya.

Dekor1_1

Dekorasi altar yang menghadirkan nuansa Bali.

Ibu Tricory menambahkan, “Apalagi anak-anak BIA menutup Misa pagi ini dengan Puisi dan lagu yang setema dengan bacaan hari ini:

Apa yang dicari orang? Uang/ Apa yang dicari orang? Uang/ Apa yang dicari orang siang malam pagi petang? Uang uang uang/ Apa yang Yesus cari? Orang/ Apa yang Yesus cari? Orang/ Apa yang Yesus cari? Orang berdosa seperti saya/

Begitulah Bu Cory mengakhiri percakapan pagi itu dengan mendendangkan lagu yang dinyanyikan anak-anak BIA.

Bambang Gunadi/KOMSOS/ Foto-foto: Gerdy

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna