Langit di atas Graha Bintaro yang muram karena disaput-rata awan putih tebal, Sabtu 3 Agustus 2019 siang itu, melengkapi suasana rasa kehilangan umat dari berbagai wilayah Paroki Ciledug dan warga lain yang tengah menghadiri Misa Requiem meninggalnya Bp Fredericus Djarwo Pramono.

Misa diselenggarakan jam 13.00 di Cluster Gracia Residence, Graha Bintaro, di rumah salah satu kerabat almarhum, dipimpin oleh Romo Lamma Sihombing CICM, serta diiringi koor warga senior yang dibantu beberapa orang muda.

Dalam homilinya Romo Lamma menyampaikan, sosok Pak Mono sebagai pribadi yang santun dan pendiam. Sedikit bicara banyak berkarya. “Tentu kita merasa kehilangan sosok pelayan gereja, khususnya bidang musik gereja yakni organis,” kata Romo Lamma.

“Bacaan Injil yang baru saja kita dengar tadi, yakni dari Lukas 12:35-48, tentang berjaga-jaga dipilih oleh keluarga ini karena inilah bacaan favorit Pak Mono. Kematian adalah hal yang pasti yang tidak mungkin kita tolak atau hindari. Hanya cara dan waktunyalah yang kita tidak tahu. Maka Bapak Mono pada peristiwa ini mengajarkan kita sebagai umat beriman untuk berjaga jaga,” lanjut Romo Lamma.

Tampak hadir Romo Derikson Turnip, CICM, yang pernah berkarya di Paroki Ciledug (2004-2010). Ia menyatakan sependapat dengan Romo Lamma bahwa Pak Mono pendiam dan santun. “Dan selama 6 tahun saya kenal beliau yang luar biasa emosinya datar, dalam menghadapi berbagai hal tidak seperti kebanyakan orang yang emosinya naik turun. Pak Mono tidak. Semua disikapi dengan tenang,” kenang Romo Derick.
Menurut Bapak Tarcisius Sihono, salah satu warga senior di Paroki Ciledug, pada awal Paroki Ciledug ada, organis itu ya hanya Pak Pramono dan Ibu Dewi Murthy istri almarhum yang biasa disapa Bu Dewi.

“Maka dulu kalau kita misa, baik di Gedong Tinggi, asrama Polri atau di Ciledug Indah, ya hanya beliau berdua ini secara bergantian sebagai organis. Maka kita sungguh kehilangan seorang organis dan seorang guru. Banyak organis yang saat ini ada hasil bimbingan Pak Mono,” kata Pak Sihono.

Senada dengan Pak Sihono, salah satu murid Pak Mono, yakni Maria Rosario Oktaviani dari Wilayah Sesilia, siang itu mengungkapkan kenangannya.

“Umur 10 tahun, kelas 4 SD, saya mulai belajar organ dengan Pak Mono. Sebagai anak kecil seumur itu pasti bahasanya angot-angotan, kadang semangat kadang males, masih pingin main tapi harus les. Pak Mono itu sabarnya luar biasa,” ungkap Via, sapaan akrab Maria Rosario Oktaviani.

“Puji Tuhan, 6 bulan saya belajar organ bersama Pak Mono sudah berani ngiringi misa meski di lingkup Misa Wilayah. Dan terus belajar dengan Pak Mono sampai saya berani mengiringi paduan suara untuk Misa di Gereja. Terima kasih Pak Mono yang luar biasa,” kata Via mengakhiri cerita kenangannya.

Dalam sambutannya setelah Misa Bapak Aritasius Sugiya, Wakil Ketua Dewan Paroki Harian Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet, mewakili seluruh umat menyampaikan rasa duka dan kehilangan, dan turut berduka cita kepada Ibu Dewi dan keluarga besar.
Pak Ari juga menyampaikan rasa terima kasih atas segala bentuk pelayanan yang telah diberikan oleh Pak Mono kepada seluruh umat.

“Mewakili seluruh Pengurus Gereja, kami juga mohon maaf jika selama ini kurang memberi perhatian dan apresiasi atas segala karya Pak Mono. Semoga Pak Mono beristirahat dalam kebahagiaan surgawi dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” kata Pak Ari Sugiya.
Menurut cerita Ibu Dewi, sang isteri, Jumat sore Pak Mono dibawa ke Rumah Sakit Medika Karang tengah setelah didapati dalam keadaan tak sadarkan diri. Ketika sampai di sana, pihak rumah sakit menyatakan Pak Mono sudah meninggal.

Selesai Misa sebagian umat yang hadir bersama keluarga mengantar Pak Mono ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum Selapanjang.

Selamat jalan Pak Mono ke pangkuan Bapa di Surga. Terima kasih atas karya dan pelayanan selama ini bagi umat Santa Bernadet.
Teks: Bambang Gunadi/Foto-foto: Bambang Gunadi, Henny, ps/KOMSOS