Ternyata peserta Bina Iman Anak (BIA) Paroki Ciledug yang selama ini diadakan di Aula Pinang tiap hari Minggu tidak semuanya datang dengan kemauan sendiri. Bukan tidak mau tetapi mungkin memang belum tahu. Itulah sebabnya dua remaja, Mio dan Saskia, melakukan jemput bola.
Sejak selesai misa pertama, menjelang misa kedua, Minggu, 28 Juli, di gang menuju gereja dari parkiran bawah kedua remaja putri itu mendekati pasangan orang tua yang membawa anak kecil mereka.

“Ayo, Dik, ikut BIA, ya,” kata Mio lembut merayu ke seorang anak yang datang ke gereja bareng kedua orang tuanya. Si anak tidak langsung mengangguk tapi melirik kedua orangtuanya dulu seakan minta persetujuan.
“Ada yang ngantar nggak?” tanya si bapak. “Ada… ada…” sahut Saskia, dan tahu-tahu muncul seorang yang siap mengantar si anak naik ke Aula Pinang. Dan digandenglah anak itu oleh pengantar tersebut.

Sesudah itu Mio dan Saskia terus menyapa ramah tiap pasangan orang tua yang datang bersama anaknya. Mio membawa papan bertuliskan kutipan Sabda Yesus, “Biar Anak-anak Datang kepadaKu” (Mark 10:14), sementara Saskia membawa papan bertuliskan, “Yuk Kita BIA”.

Mereka terus sibuk menjemput pasangan orang tua yang membawa anak sambil “merayu” si anak agar mau ikut BIA. Sementara itu di seputar mereka beberapa stan bersiap-siap menjaring dana, seperti Emmaus Journey, KEP, dan panitia pembangunan Gereja Santa Maria Benteng Gading Serpong.

Sebenarnya menjaring peserta BIA itu bukan yang pertama kali dilakukan, tetapi setiap Minggu menjelang misa kedua ada upaya itu.
Itu pun inisiatif pribadi, bukan karena disuruh oleh pengurus BIA Santa Bernadet Paroki Ciledug. “Ini inisiatif pribadi, ya siapa yang mau aja,” kata Mio, anggota OMK Wiayah Fabiola 3 yang juga pendamping BIA itu.

“Dengan cara begini, kita bisa menjaring banyak anak, sehingga peserta BIA bisa sampai 80 anak tiap Minggunya,” tambah Saskia asal Wilayah Petrus itu.
Menurut Mio dan Saskia, pengurus BIA Santa Bernadet memang memberi kesempatan kepada anak-anak OMK untuk mengajar atau mendampingi anak-anak BIA di Aula Pinang hari Minggu pertama setiap bulan.

“Ayo, dik, ikut BIA, ya… Banyak temannya, lho… Ikut, ya…” begitulah berulang kali kedua remaja putri itu dengan ramah terus menyapa dan mengajak anak-anak yang datang. Sejauh pengamatan, memang sebagian besar di antara mereka mau menerima ajakan itu.
Sementara anak-anaknya ikut bina iman di Aula Pinang, orang tua bisa mengikuti Misa Kudus, sampai akhirnya semua anak BIA menerima berkat dari imam di akhir misa.

Memang sayup-sayup pernah terdengar suara, BIA di Paroki itu menjadi semacam “penitipan anak” supaya orang tua tidak terganggu mengikuti misa; seharusnya anak-anak dibiasakan ikut misa sejak dini.

Tetapi ada juga suara lain yang mengatakan, anak-anak memerlukan pembinaan iman sesuai dunianya, dunia anak; mereka juga memerlukan sosialisasi dengan anak-anak lain demi sehatnya perkembangan kejiwaan mereka.

Tentu kedua pandangan itu tidak perlu dipertentangkan karena masing-masing mengandung kebenaran. Barangkali yang perlu dipikirkan adalah mencari jalan tengahnya.
Lepas dari itu, sebagai remaja pendamping BIA, Mio dan Saskia sudah melakukan hal yang baik, menjaring anak-anak untuk menebarkan iman. “Biar, Anak-anak datang kepadaKu,” sabda Yesus.
Teks: ps/ Foto-foto: ps, Jassen Novaris.