Pada tanggal 20-23 Juli 2019 Kementerian Agama menyelenggarakan Pertemuan Dialog Kerukunan Umat Beragama Katolik Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat di salah satu hotel di Subang, Jawa Barat.
Temanya “Moderasi Beragama, Menjaga Kebersamaan Umat” dengan subtema: “Meningkatkan peran masyarakat Katolik dalam mewujudkan nilai-nilai kebangsaan”.

Hadir para pejabat Kemenag, antara lain Bp Fransiskus Endang, Direktur Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik. Acara diikuti oleh 60 orang peserta, yang terdiri dari para penyuluh agama Katolik, aktivis Gereja, dan tokoh umat katolik lain, termasuk 10 utusan Provinsi Banten.

Ibu Yustina Sardiyem, Ketua Seksi Penguatan Lembaga Kemenag, selaku Ketua Panitia Pelaksana mengatakan, kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang adanya perbedaan antar umat beragama sebagai suatu kekayaan yang saling melengkapi.

Mengembangkan sikap dan perilaku keberagamaan yang inklusif dan toleran, kata Bu Yustina, diharapkan dapat meminimalisasi pola pikir, sikap, dan tindak-tanduk yang radikal, sehingga tercipta suasana demokrasi yang modern, beretika, dan ke-Indonesiaan.
Sikap inklusif menempatkan diri pada sudut pandang pihak lain, memandang perbedaan secara positif, sehingga satu sama lain saling memperkaya dan melengkapi.
"Bapak-ibu, tokoh agama/Gereja, tokoh umat, dan kaum muda yang mengikuti acara ini harus siap menjadi ‘duta’ (sikap inklusif dan toleran) di lingkungan masing-masing sesuai dengan peran dan tugas yang telah dipercayakan," tegas Bu Yustina.

Dialog dengan hati
Salah satu nara sumber, Romo Agustinus Sugiharto, OSC, Ketua Komisi HAAK Keuskupan Bandung, menyampaikan materi "Peran Tokoh Agama dalam Membangun Kerukunan Umat dan Sikap Gereja Katolik tentang Dialog Antar Umat Beragama".
"Kita harus melakukan komunikasi timbal balik yang harmonis dengan umat beragama lain, ramah, rendah hati, tidak sombong, hormat, dan penuh persahabatan," ujar anggota Ordo Salib Suci, pegiat Jaringan Antar Umat Beragama di Jawa Barat itu.

Seringkali yang menjadi hambatan dalam dialog, kata Romo Sugiharto, adalah ketidakcukupan dasar iman dalam melihat Sang Pencipta, terbatasnya pengetahuan tentang nilai ajaran agama lain secara benar dan seimbang, dan merasa diri paling sempurna dan tidak membutuhkan orang lain.
Hambatan itu, ditambah faktor eksternal seperti keadaan sosial dan politik, dapat memicu terjadinya konflik dan kekerasan. Terus kalau itu sudah terjadi? “Gunakan dialog dengan hati,” katanya.

Sementara nara sumber lain, Kasubdit Kelembagaan Agama Katolik Kemenag FX Rudy Andrianto mengingatkan kembali akan tugas peserta untuk mengamalkan, berpartisipasi aktif, ambil bagian dengan penuh tanggung jawab, dalam menjadi ragi, garam, dan terang dunia. "Bukan hanya sebagai penonton atau komentator saja," katanya.

Pada bagian akhir acara Romo Sigit Setyantoro, Pr, Pastor Paroki Kristus Sang Penabur Subang, memberikan banyak informasi tentang manfaat dokumen dalam manajemen pengelolaan umat, serta pengelolaan konflik. Peserta juga mendapat kesempatan berdiskusi menjelang akhir pertemuan.

Kesepuluh peserta dari Provinsi Banten memanfaatkan waktu yang masih tersisa untuk berziarah ke Gua Maria Paroki Kristus Sang Penabur, Subang.
Teks: Maria Melati KS/ Foto: Maria Melati KS, Antonius Sutrisno.