Bagaimana Membedakan Musik Liturgi dan Musik Rohani/Pop Rohani?

16 Juli 2019
  • Bagikan ke:
Bagaimana Membedakan Musik Liturgi dan Musik Rohani/Pop Rohani?
Musik Liturgi punya kedudukan integral dalam Perayaan Ekaristi.

Pengertian Musik Liturgi

Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat/liturgi yang mempunyai kedudukan integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat.

Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Latihan-ok_2

Latihan bersama bertujuan memupuk kesatuan hati umat beriman.

Musik rohani adalah musik yang sengaja diciptakan untuk keperluan di luar ibadat liturgi, misalnya: pertemuan mudika, arisan-arisan, rekreasi, pelatihan, pentas musik rohani, rekaman, sinetron, nongkrong di café bahkan sampai dengan usaha membentuk suasana rohani di rumah. Contoh lagu: Dia Mengerti, Hati sbagai Hamba, Tuhan Pasti Sanggup, Mujizat Itu Nyata, dan lain-lainnya.

Musik rohani/pop rohani tidak memiliki tujuan-tujuan seperti di atas, tidak mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, dengan syair yang sangat individual lagu ini tidak memupuk kesatuan hati umat beriman yang sedang beribadat. Kesimpulan ini berlaku bagi semua lagu pop rohani yang beredar di kalangan umat, karena musik rohani memang tidak liturgis, tidak memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat.

pemazmur-ok
Pendarasan Mazmur punya fungsi dan kedudukan jelas dalam ibadat.

Dengan kata lain semua lagu pop rohani/musik rohani jelas-jelas bertentangan dengan isi Konstitusi Liturgi (SC) art. 112. Prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik adalah Lex orandi, lex credendi: apa yang didoakan adalah apa yang dipercaya/diimani (lih. KGK 1124). Jadi apa yang dinyanyikan (yaitu doa yang dimadahkan), itu harus menjadi ungkapan.

Fungsi dan Kedudukan Musik Liturgi

Musik liturgi memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat (Contoh: untuk nyanyian Pembuka/Persiapan, Ordinarium, Mazmur Tanggapan, Persembahan/Komuni/Pengutusan). Musik liturgi dalam arti tertentu mengacu pada semua macam musik yang inspirasinya atau maksud dan tujuan serta cara membawakannya mempunyai hubungan dengan iman Gereja.

PSE-ok

Barangsiapa bernyanyi dengan baik berdoa dua kali.

Kita menggunakan istilah “musik-liturgis” dan bukan “musik dalam liturgi” karena dengan “musik-liturgis” mau digarisbawahi pandangan Gereja tentang musik sebagai bagian utuh dari perayaan liturgi dan bukan sebagai suatu unsur luar yang dicopot dan dimasukkan ke dalam perayaan liturgis seakan-akan suatu barang asing atau hal lain dari liturgi lalu diletakkan di tengah perayaan liturgi.

Harus meninggalkan diri sendiri

Musik-liturgi menggerakkan seluruh diri manusia yang menyanyi. Sekaligus demi harmoni dituntut kurban untuk meninggalkan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan tempat, dengan situasi, dengan maksud-tujuan musik/nyanyian liturgis, yaitu demi Tuhan dan sesama. Ini memang cocok dengan hakikat dari liturgi sebagai perayaan bersama yang melibatkan banyak orang demi kepentingan umum (kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia, bukan hanya demi diri sendiri).

Passio-ok

Berlatih passio tak lepas dari penghayatan iman Gereja.

Oleh karena itu Gereja mewarisi pandangan bahwa orang yang menyanyi dengan baik sebenarnya berdoa dua kali (si bene cantat bis orat). Sekali lagi, nilai yang tinggi itu tercapai kalau ada kurban dengan meninggalkan diri sendiri dan bersatu dengan yang lain dalam menyanyi atau bermusik demi kepentingan bersama.

katedral-ok

Reputasi koor St Caecilia Katedral punya sejarah panjang.

Merupakan suatu keprihatinan bahwa masih ada yang belum bisa memahami atau belum bisa membedakan antara Musik Liturgi dan Musik Rohani. Semoga di paroki kita, kita tetap selalu mengacu dan mampu mempertahankan lagu-lagu yang liturgis untuk setiap tugas misa. (Andreas Nayoko)

Tulisan di atas sebelumnya diunggah dalam WAG Pasdior St Bernadet, dimuat seizin penulisnya.
Foto-foto ilustrasi: dok. KOMSOS

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna