Romo Lamma: Kasih dalam Perkawinan tanpa Pengorbanan Itu Omong Kosong!

23 Juni 2019
  • Bagikan ke:
Romo Lamma: Kasih dalam Perkawinan tanpa Pengorbanan Itu Omong Kosong!
Romo Lamma memimpin misa perkawinan Eva dan Paul.

Perkawinan bukanlah usaha manusia sendiri tetapi merupakan rencana dan kehendak Tuhan. Jika hanya usaha manusia, maka ketika terjadi kesulitan yang muncul hanyalah mementingkan diri sendiri, ego sendiri.

Karena sudah menjadi rencana dan kehendak Tuhan, Tuhan tidak akan pernah membiarkannya karena Dia menginginkan umat-Nya bahagia. Itulah sebabnya hidup perkawinan harus memberi tempat bagi Tuhan.

DSC_0142-ok_1

Pernikahan keluarga Batak.

Romo Lamma Sihombing CICM mengatakan hal tersebut dalam homili ketika memimpin misa perkawinan Eva Lucyanti Simbolon (Eva) dan Paulus Nelwan Ganda Sitompul (Paul) yang dilayani kolaborasi koor Kristoforus dan wilayah lain di Gereja Bernadet Pinang, Sabtu (22/6).

Kasih dan syukur

Romo Lamma selanjutnya mengajak mempelai untuk merenungkan dua ajakan Santo Paulus dalam bacaan hari itu, kenakanlah kasih dan bersyukurlah. (Kol 3: 12-17) Kasih adalah tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Manusia tidak ada yang sempurna, karena itu berbeda pendapat itu biasa. ”Berbeda pendapat itu baik. Kalau yang terjadi adalah konflik, berarti gagal dalam menangani perbedaan,” kata Romo Lamma.

DSC_0141-ok_1

Janji perkawinan mempelai.

Perbedaan bisa kita terima kalau kita bisa mengelola keegoan kita. Untuk itu diperlukan keterbukaan. Dalam iman Katolik dikatakan bahwa kasih itu pengorbanan. “Pengorbanan terletak pada kemauan untuk terbuka dalam mengelola keegoan kita,” jelas Romo Lamma. “Kasih tanpa pengorban itu omong kosong. Sesulit apa persoalan yang kita alami, kalau kita terbuka, beres,” imbuhnya.

Banyak orang mengatakan, kita bersyukur kalau ada alasan yang spektakuler. Kalau tidak ada alasan seperti itu, tidak perlu bersyukur, yang penting hidup saja. “Ini tidak menggambarkan syukur. Itu namanya asal hidup. Asal hidup itu tidak membawa kebaikan bagi orang-orang lain,” kata Romo Lamma. Ia menekankan  bahwa syukur harus menjadi nyata dalam perilaku yang membawa kebaikan bagi orang lain, bukan asal hidup.

DSC_0147-ok_1

Adel, sepupu Eva, menyanyikan lagu Ave Maria Schubert usai misa.

Untuk bisa bersyukur, kita harus memberi tempat bagi Tuhan dalam hidup kita. Romo Lamma mengaku sering memberikan nasihat, terutama untuk para perantau, agar selalu datang ke Gereja.

“Selalu datanglah ke Gereja, mencari Tuhan, sesibuk apapun. Jangan malas datang ke Gereja dengan alasan misalnya karena Romonya tidak lucu. Kita datang ke Gereja  bukan untuk mencari yang lucu-lucu, tetapi mencari Tuhan,” kata Romo Lamma mengakhiri homilinya.

Teks & Foto: ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna