Gladi bersih misa perkawinan tidak hanya bertujuan untuk menghafalkan tata gerak, tetapi juga untuk memberikan ketekese atau ajaran Kristen tentang perkawinan Katolik itu sendiri. Sekalipun demikian, tata gerak harus dihafal betul agar tidak terjadi kekeliruan yang bisa mengganggu kekhidmadan misa.
Hal tersebut tampak ketika Pak Kasdana dan Pak Wagiyo dari Sub Seksi Tata Laksana bersama Ibu Sularni memandu gladi bersih misa perkawinan untuk calon mempelai Paul Nelwan Ganda Sitompul dan Eva Lucyanti Simbolon di gereja Pinang, Rabu malam (19/6).

Sebelum gladi bersih dimulai, Pak Kasdana menjelaskan sifat-sifat dasar perkawinan Katolik. Sebagai gambaran persatuan ilahi antara Kristus dan GerejaNya, perkawinan Katolik bersifat monogami atau satu suami untuk satu isteri dan sebaliknya; dan perkawinan Katolik merupakan ikatan yang tidak terceraikan kecuali oleh kematian.
“Itu tidak mudah, karena pernikahan Katolik menyatukan dua pribadi yang berbeda. Di agama Katolik tidak mungkin hari ini menikah besok bisa ganti pasangan kalau tidak cocok,” kata Pak Kasdana.

Ia juga menekankan, sebelum misa perkawinan calon mempelai harus siap secara fisik dan rohani. “Kalau punya dosa, mengaku dosa dulu supaya hati bersih dan siap menerima sakramen perkawinan,” imbuhnya.
Ketika mengucapkan janji pernikahan kepada pasangannya, diingatkan agar sedapat mungkin hafal dengan mata tertuju kepada pasangan. “Jangan mengucapkan janji tetapi melihat teks. Lihatlah mata pasangan karena janji itu bukan kepada kertas,” ingat Pak Kasdana ketika salah satu dari pasangan itu masih terpaku pada teks.

Dalam hal tata gerak, pasangan juga diingatkan untuk hampir semua yang harus dilakukan, seperti kapan pria ada di kanan wanita dan kapan bertukar tempat di kiri, cara menggandeng tangan pasangan, cara mengenakan cincin pada pasangan, melakukan sungkeman ke orang tua, menerima Persembahan, menerima Komuni dalam dua rupa, dst.
Namun tidak hanya tata gerak pasangan calon mempelai yang digladi, melainkan juga pihak orang tua dan pihak lain yang terlibat seperti saksi dan pembawa persembahan.

Lebih dari itu diingatkan pula agar teks yang dicetak sudah betul dan sudah disetujui Imam yang akan memimpin misa perkawinan. “Kalau tidak, bisa saja Romo tidak setuju dan minta diubah,” katanya.
Acara gladi bersih misa pernikahan yang dibuka dan ditutup dengan doa tersebut selesai kira-kira dalam waktu satu jam.
Pernah dipuji Uskup
Di luar acara gladi bersih tersebut Pak Kasdana mengatakan, sebenarnya tata cara pernikahan berbeda-beda sesuai adat dan tradisinya walau inti misa sama dengan misa biasa. Yang membedakan dalam misa pernikahan adalah adanya janji penganten dan pemberkatannya, juga dalam Doa Umat dan Prefasi dalam Doa Syukur Agungnya.
Ketika ditanya tentang pentingnya gladi bersih misa pernikahan, Pak Kasdana hanya menjawab, “Supaya semuanya berjalan lancar saja.”

Namun, kata Pak Kasdana, upaya mengadakan gladi bersih misa pernikahan itu sempat mendapat pujian dari seorang Uskup dari Kalimantan ketika memimpin misa pernikahan di Gereja Bernadet, tetapi dia lupa namanya. "Saya akan minta paroki-paroki di keuskupan saya agar mengadakan gladi bersih misa pernikahan," kata Pak Kasdana menirukan kata-kata uskup itu.
Menurut info dari Bu Ratih di Sekretariat Paroki, Uskup dari Kalimantan yang pernah memimpin misa pernikahan di Gereja Bernadet adalah Mgr Agustinus Agus pada 14 Juli 2018 dalam misa konselebrasi dengan Romo Lamma Sihombing, CICM. Pak Kasdana membenarkan, dialah uskup yang dimaksud.
Mgr Agustinus Agus adalah Uskup Agung dari Keuskupan Agung Pontianak.
Teks & Foto: ps