Ibu Maria Theresia Irene Corry Wangke, yang akrab disapa Ibu Irene, meninggal dunia Kamis pagi, 13 Juni 2019, pukul 05.00 dalam usia 69 tahun di rumahnya, Jl Barata Tama IV/615, Kompleks Perumahan Barata, Karang Tengah, Ciledug.
Kepergian isteri sesepuh Paroki Ciledug Bp Stephanus Soegijatno Soesilo itu mengejutkan karena, meskipun kondisi kesehatannya sudah tidak prima lagi seiring dengan usianya, tak ada tanda-tanda akan secepat itu.

Berita itu segera menyebar dan para anggota Komunitas Simeon-Hanna Santa Bernadet yang pernah dipimpinnya selama 3 periode Kamis pagi kemarin segera bergegas ke rumah duka untuk mengadakan doa bersama di sekeliling peti jenazah almarhumah, dipimpin oleh Ketua Komunitas Simeon-Hanna Ibu Herawaty Manurung.
Kepada anggota komunitas yang hadir diberikan kesempatan untuk menyampaikan farewell speech (ucapan selamat berpisah). Beberapa ibu tak kuasa membendung air mata pada waktu menyampaikan kata-katanya.

Ketika dipersilakan berbicara, Pak Soesilo menceritakan bahwa Kamis pagi itu seperti biasa ia bangun pagi-pagi dan berdoa Rosario. Ibu Irene dari baringan tempat tidur memegang tangannya sambil mengatakan, “Ayo, Pa, kita berdoa Rosario.” Pak Soesilo merasa agak aneh karena tidak biasanya begitu.
Menurut Pak Soesilo, sesudah selesai berdoa Rosario Ibu Irene diam tak bergerak. Terus disapa tetapi tak ada reaksi apapun. “Dalam hati saya berkata, tidak mungkin isteri saya meninggal! Tetapi saya panik dan saya panggil Simbok yang biasa bantu-bantu di belakang, karena saya belum pernah menunggui orang waktu meninggal,” kata Pak Soesilo.

Simbok datang dan memegang bagian nadi tangan dan leher Ibu Irene. Kemudian Simbok berkata sambil menangis, “Mengapa Ibu tega meninggalkan saya…?” “Ada apa, Mbok?’ tanya Pak Soesilo dan dijawabnya, “Ibu sudah meninggal…” Ketika itulah Pak Soesilo baru percaya bahwa isterinya sudah pergi untuk selamanya dan merasa sangat terpukul.

Pak Soesilo lalu menceritakan bahwa Ibu Irene dulu adalah Ketua Presidium Legio Mariae Bintang Timur di Paroki Ciledug. “Devosinya kepada Bunda Maria sangat kuat dan tadi pagi ia meninggal setelah selesai berdoa Rosario. Ia meninggal dalam pelukan Bunda Maria,” katanya. "Sekarang, saya minta Anda semua untuk mendoakan saya," pinta Pak Soesilo.


Bersyukur atas usia lansia
Ibu Th Irene adalah Ketua Komunitas Lansia Simeon-Hanna Santa Bernadet selama tiga periode sejak 2010 sebelum digantikan oleh Ibu Herawaty Manurung untuk periode 2019-2021 yang serah terima jabatannya berlangsung di Rumah Joglo Ageng, Ciputat, 21 November 2018.

Dalam sebuah wawancara 3 tahun lalu, ketika ditanya apa yang membuatnya terus bersedia untuk tetap memimpin komunitas kategorial Simeon-Hanna Bernadet, Ibu Irene menjawab, “Saya selalu bersyukur kepada Allah karena mencapai usia lansia sementara banyak teman saya sudah dipanggil.”

Sudah sejak kepemimpinan Ibu Irene, komunitas Simeon-Hanna berjalan berdasarkan program-program yang sudah ditentukan, baik di tingkat paroki, dekenat, maupun keuskupan. Ziarah setiap tahun ke taman-taman makam pahlawan hanyalah salah satu contoh kegiatan yang memang sudah diprogramkan.

Sebagai Ketua Komunitas Simeon-Hanna Paroki Ciledug, nama Ibu Th Irene Corry tercatat di Komunitas Simeon-Hanna Keuskupan Agung Jakarta. Dalam misa requiem yang dipersembahkan Romo Noel CICM dan Romo Ecce Pr tadi malam hadir juga Ketua Komunitas Simeon-Hanna KAJ, Bp Yohanes Surya.

Ibu Irene, wanita berdarah Manado kelahiran Jember itu, sudah menunjukkan peran terbaiknya bagi Gereja Santa Bernadet Paroki Ciledug. Bahkan, seperti kata salah satu Suster Sang Timur dalam sambutan sesudah misa semalam, “Sekolah Sang Timur berawal dari rumah ini, rumah Ibu Irene dan Pak Soesilo.”
Benar, ruang kelas Sekolah Sang Timur yang pertama dulu adalah garasi rumah di Jl Barata Tama IV/615 itu.
Terima kasih, Ibu Irene. Selamat jalan menuju rumah Bapa …

Teks: ps, Warta Bernadet edisi 003/XII/2016 dan 009/XII/2018/Foto-foto: Komunitas Simeon-Hanna St Bernadet.