Solusi Masalah Koor pada Waktu Liburan, Pola Gotong Royong

8 Juni 2019
  • Bagikan ke:
Solusi Masalah Koor pada Waktu Liburan, Pola Gotong Royong
Komsos Plus, koor Sie Komsos plus relawan koor lain.

Libur panjang seperti lebaran selalu berpotensi menimbulkan masalah pelayanan koor karena ada saja umat yang pulang kampung atau liburan. Akibatnya, koor yang sudah mendapat jadwal tugas bisa kekurangan orang.

Liburan lebaran tahun ini bersamaan waktunya dengan Misa Novena Roh Kudus 9 hari, sehingga diperlukan prakarsa kreatif agar selalu ada koor yang bisa melayani misa setiap hari selama masa novena itu.

“Syukurlah koor selama novena selalu terisi,” kata Ketua Sie Liturgi St Bernadet Yulianus Sunaryo yang akrab disapa Pak Naryo, Selasa lalu. Menurut dia, dalam pelayanan koor yang terutama adalah spiritualitas dari pelayanannya.

tHOMAS-OK

Koor Wilayah Thomas melibatkan relawan koor wilayah lain.

Pada saat-saat sulit, terutama masa-masa liburan seperti  lebaran ini, kata Pak Naryo, yang dibutuhkan adalah bantuan atau kontribusi dari setiap insan koor yang mau berpartisipasi sehingga misa tetap bisa berjalan dengan lancar.

“Kita memahamilah, wilayah-wilayah atau kategorial yang mendapat tugas koor pada masa liburan mengalami kesulitan karena anggota koornya mudik atau libur. Namun karena misa harus tetap berjalan, pola gotong royong, saling sokong, menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keadaan sulit itu,” katanya. Misalnya beberapa koor wilayah atau kategorial yang bertugas selama Misa Novena Roh Kudus melibatkan relawan koor dari wilayah lain.

Tetapi jauh hari sebelumnya, Minggu 19 Mei, relawan koor yang secara informal menamakan diri “Laskar ZZZ” bisa menghimpun 30-an personel dari 10 wilayah lebih juga untuk bergotong-royong mengisi kekosongan koor hari itu. Pelayanan suka rela seperti itu bahkan bukan yang  pertama kalinya dilakukan.

PDPKK-ok

PDPKK Yoselina plus relawan usai tugas koor di Gereja Pinang, Kamis. 

Dirigen dan organis

Untuk wilayah atau komunitas lain yang memang mengalami kesulitan untuk tugas koor, Pak Naryo mengatakan bahwa yang paling penting harus ada dirigen dan organis. “Setelah itu nanti kami melalui sub seksi Pasdior (paduan suara, dirigen, dan organis) menggerakkan siapa yang mau ikut bernyanyi, baik dari pemazmur maupun siapa saja yang mau menyanyi,” katanya.

Biasanya yang mau membantu itu mereka yang memang sudah terbiasa ikut koor, sehingga jika terpaksa tidak ada latihan pun tidak akan timbul masalah berarti.

Namun disarankan dalam kondisi keterbatasan seperti itu dipilih lagu-lagu yang sudah dikuasai, tidak sulit, dan sudah familiar seperti yang ada di Puji Syukur supaya koornya lancar. “Jangan memaksakan lagu yang sulit karena akan mengalami kesulitan sendiri,” imbaunya.

STRADA-ok

Koor SMP Strada Bakti Utama Jakarta mendapat jadwal prime time.

Menyinggung adanya koor dari sekolah-sekolah, Pak Naryo mengatakan semuanya itu atas permintaan mereka. Dengan tambahan koor dari luar itu serta tambahan jadwal misa Minggu sore, penyusunan jadwal tugas koor menjadi tidak sederhana. Karena itu diminta pengertiannya kalau misalnya mendapat tugas pada waktu yang mungkin dirasa kurang nyaman, misalnya jam 06.00.

Koor sekolah-sekolah yang selama ini pernah minta tugas di Gereja Bernadet misalnya dari Ricci, Absis, Amore, Tarakanita, Sang Timur, dan Strada. “Kita sengaja memberi jadwal mereka jam 08.30. Ya kita respek lah atas kesediaan mereka membantu sehingga kita beri prime time,” katanya.

Teks: ps/ Foto-foto: Ficia, ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna