Pada Idul Fitri hari pertama, Rabu (5/6), beberapa anggota Sie HAAK Santa Bernadet bertandang ke sejumlah keluarga tetangga gereja Pinang untuk bersilaturahmi, berangkat dari pos sekuriti bawah sekitar jam 10.30 sesudah bersilaturahmi di rukun tetangga (RT) masing-masing.
Untuk menghemat tenaga, lagi pula karena cuaca cukup terik, jarak rumah keluarga yang agak jauh ditempuh dengan mobil, sementara yang dekat-dekat gereja cukup dengan sepeda motor. Karena memang tidak ada janjian sebelumnya, beberapa keluarga tidak bisa ditemui karena telanjur punya acara sendiri sejak pagi.

Walaupun demikian semua keluarga yang dikunjungi memberikan sambutan sangat ramah dan hangat, tentu dengan suguhan minuman dan penganan-penganan kecil yang segera mengalir.
Keluarga almarhum Bang Nimin, yang dulu bekerja di bagian sekuriti gereja Santa Bernadet, mendapat kunjungan pertama. Rumahnya di Jalan Matahari, tak jauh dari gereja. Dalam obrolan ringan, istri almarhum menceritakan bahwa Bang Nimin adalah anak kedua dari 12 bersaudara yang 10 di antaranya masih hidup. Anak pertama meninggal lebih dulu.

Kunjungan Sie HAAK ke rumah Bang Nimin berbarengan dengan kedatangan adik Bang Nimin dan keluarganya. Rumah jadi ramai karena banyak anak-anak yang satu per satu mengajak bersalaman. “Kalau lebaran pada ke sini karena Bang Nimin jadi yang tertua. Coba ya, masih ada Bang Nimin …” kata isteri almarhum.
Kunjungan selanjutnya ke rumah Mpok Juju di Jl Tarakanita. Ada suasana "country" khas Betawi di sana. Semua suguhan minuman dan penganan disajikan di atas semacam dipan di teras rumah dengan tempat-tempat duduk dari kayu lama. Suasana informal yang cukup kental membuat orang tidak merasa kikuk untuk berbicara satu sama lain.

Di antara sekian macam suguhan di rumah Mpok Juju ada penganan khas Betawi, tape uli Betawi. Enak atau tidak enak itu tentu relatif, tetapi dua tamu dari Sie HAAK makan tape uli itu sampai nambah tiga kali...
Kebetulan Pak Guru Sadi lewat dan mampir ikut ngobrol. Pak Rikkie Yulianto sempat mengungkapkan maksud kedatangan Sie HAAK. “Kami datang ke sini untuk bersilaturahmi sebagai tetangga, sebagai sesama anak bangsa,” kataya.
Sekitar jam makan siang rombongan menuju rumah Bu Ratman di Kompleks Tarakanita. Di sana sudah berkumpul anak, menantu, dan cucu. Bu Ratman suka bercerita tentang apa saja, termasuk cerita tentang jengkol masakannya yang disajikan sebagai salah satu menu lauk makan siang lebaran hari itu.

Perut sudah terisi tetapi perjalanan belum berakhir. Dari rumah Bu Ratman, lebih dari jam 12.00, anggota Sie HAAK berangkat ke RS Bhakti Asih Karang Tengah untuk membesuk Bp Abdul Syukur, adik Gubernur Banten Wahidin Halim, yang sudah beberapa hari dirawat di sana, sehingga di rumahnya tidak ada open house.
Terbersit rasa kurang enak untuk mengambil gambar pasien yang sedang dirawat. Namun obrolan berjalan lancar, terutama sekitar penyakit yang diderita dan obatnya. Dari tempat berbaringnya, Pak Abdul Syukur masih sempat bercanda, “Ini bukan open house tetapi open hospital….”
Teks: ps/ Foto: ps, Iwen, Samodra