Seksi Lingkungan Hidup (LH) Paroki Ciledug panen sayuran lagi Sabtu kemarin (25/5). Panen ini sudah kesekian kalinya dilakukan di kebon LH pojokan Kompleks Tarakanita. Seperti biasa panen dilakukan Ketua Sie LH Pak Antonius Suyanto bersama beberapa warga kompleks.
Sebenarnya yang ditanam tidak hanya sayuran. Sebulan yang lalu panen pisang, sukun, kangkung, kacang panjang, terong. Sabtu kemarin malah tambah cabe meskipun belum bagus hasilnya karena baru pertama kali panen. Sebentar lagi panen kacang tanah dan singkong.

Sudah beberapa kali hasil panen itu dijual di kompleks atau di saung depan tenda bawah Pinang. Puji Tuhan hasilnya lumayan. Sebenarnya hasil penjualan pisang lumayan juga tapi sekarang sudah banyak yang dikurangi pohonnya.
Uang dari penjualan hasil kebun LH tentu untuk menambah uang kas Sie LH. Uang digunakan terutama untuk “biaya operasional”, misalnya memberi upah orang yang mencabuti rumput dan mencangkul.

Beruntung Ketua Sie LH Pak Antonius Suyanto termasuk “aktivis” lingkungan hidup sejak dia masih aktif mengajar di Sekolah Tarakanita, sehingga urusan kebon sayur tidak asing lagi, bahkan termasuk hobinya.
Paroki Ramah Lingkungan
Kegiatan menanam dan panen sayur di kebun LH tentu bukan sekadar pengisi waktu luang bagi para pensiunan. Dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), kegiatan ini berkaitan dengan pentingnya memperhatikan masalah lingkungan hidup.
Prioritas ke-5 Arah Dasar 2016-2020 KAJ berbunyi: Meningkatkan keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Menjaga lingkungan hidup adalah sebuah gerakan, dan gerakan itu perlu dukungan struktur, yaitu adanya Seksi LH Paroki. Jadi, salah satu ciri khas paroki ramah lingkungan adalah adanya Sie LH dalam struktur paroki.

Menjaga pohon-pohon dan tanaman-tanaman tetap terawat dan selalu hijau adalah bagian dari gerakan lingkungan hidup. Termasuk di sini memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami sayuran dan dirawat sebagaimana kebun LH itu.
Ardas 2016-2020 KAJ memberi landasan iman mengapa kita mesti memperhatikan lingkungan hidup. Pertama, menjaga lingkungan hidup merupakan gerakan untuk "mewujudkan Kerajaan Allah" demi “keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan." Artinya gerakan belarasa tidak hanya menyangkut sesama manusia tapi juga lingkungan hidup kita.

Kedua, upaya ikut menjaga lingkungan hidup adalah bagian terpadu dari iman kita, bukan sekadar tempelan. Paus Fransiskus, dalam ensiklik Laudato si, dengan jelas mengatakan bahwa kepedulian pada bumi bukan sekadar pilihan tapi kewajiban iman.
Sebagai sebuah “gerakan”, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan bisa melibatkan semakin banyak umat. Upaya Sie LH untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi produktif diharapkan bisa menular ke umat yang lebih luas, tidak hanya di pusat paroki.

Tentu masalah lingkungan hidup lebih luas daripada sekedar urusan berkebun sayur. Ardas 2016-2020 KAJ bahkan memberi tekanan khusus pada persoalan sampah yang di paroki kita juga mendapat perhatian.
Kita tunggu kabar panen Sie LH berikutnya…
Teks: Maria MS, ps/ Foto-foto: Maria MS