Komunikasi yang harmonis di dalam keluarga merupakan penangkal jitu dalam mencegah bahaya narkoba, khususnya bagi remaja. Hal ini dikatakan oleh Kombes Pol Sumirat Dwiyanto dari Rumah Sakit Bhayangkara Tk I Pusdokkes Polri.
Kombes Pol Sumirat mengatakan hal tersebut sebagai salah satu narasumber dalam acara Pembinaan Tingkat Nasional Tenaga Penyuluh Agama Katolik Non-PNS di Hotel Merlynn Park, Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung 20-23 Mei 2019 itu diikuti oleh sekitar 100 peserta dari 34 provinsi.

“Orang tua harus benar-benar mengenal dan memahami anak, sebab pengguna narkoba bisa dikenali dari perilakunya,” katanya.
“Misalkan anak Bapak-Ibu bercerita bahwa bisa mendapat uang yang banyak dengan mudah tanpa jelas apa pekerjaannya, orang tua harus curiga dan melakukan penyelidikan karena mereka bisa jadi sasaran pengguna atau bandar narkoba,” jelas mantan Kepala Badan Narkoba Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Utara itu.

Itulah sebabnya, menurut polisi peserta Pendidikan Lemhannas PPRA Angkatan LIX itu, komunikasi orang tua dengan anak remajanya sangat penting diperhatikan agar remaja tidak salah dalam berteman.
Angkatan pertama
Pembinaan Tingkat Nasional Tenaga Penyuluh Agama Katolik Non-PNS tersebut baru pertama kali diadakan sehingga pesertanya adalah Angkatan 1. Bimas Katolik Provinsi Banten mengirimkan 8 orang, satu di antaranya dari Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet.

Menurut Kasubdit Penyuluhan Ditjen Bimas Katolik Kemenag, AH Yuniadi, jumlah Tenaga Penyuluh Agama Katolik Non-PNS secara nasional adalah 4.042 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Tema acara pembinaan “Jaga Kebersamaan Umat”, menurut Ketua Panitia Penyelenggara Alexander Joko Kurniawan, sesuai dengan tema Hari Amal Bakti ke-73 Kemenag tahun 2019, dengan subtema ”Menjadi Penyuluh Agama Katolik Non PNS yang memajukan Umat dan Mempersatukan Bangsa.”

"Penyuluh akan dibekali dengan berbagai materi agar dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kompetensi dalam melaksanakan tugas penyuluhan mengingat keberadaan tenaga penyuluh sebagai penyambung lidah dan ujung tombak bagi Gereja dan Ditjen Bimas Katolik sangat penting," kata Alexander pada hari pertama.

Pembinaan yang berlangsung 4 hari itu menampilkan 9 narasumber, antara lain dari internal Gereja Katolik RD PC Siswantoko (Sekretaris Komisi Kerawam KWI), RD Benyamin Sudarto (Pastor Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Cileungsi), Pastor Franz Magnis-Suseno (Dosen STF Driyarkara Jakarta), dan sejumlah narasumber lain.

Acara tersebut terselenggara dengan dana dari Rencana Kegiatan Anggaran Kementerian Lembaga (RKA-KL). Para penyuluh pada kesempatan ini mendapat oleh-oleh rosario dari istri Dirjen Bimas Katolik, sebuah Alkitab, dan satu buku referensi pendukung.
Teks: Maria Melati KS, peserta pembinaan/ Foto-foto: Panitia