Tragedi Ini Jangan Terulang Lagi

20 Mei 2019
  • Bagikan ke:
Tragedi Ini Jangan Terulang Lagi
Poster Drama Musikal.

Bunyi undangan khusus untuk Seksi Komsos Paroki Se-KAJ: Saksikanlah Drama Musikal “Kemuning Mempelai Berkalang Luka” Sabtu 11 Mei 2019 di Ciputra Artpreneur  Jakarta Selatan. Undangan itu disebar lewat grup WA Komsos Keuskupan Agung Jakarta pertengahan April 2019, konfirmasi paling lambat 1 Mei 2019.

Sayang kalau dilewatkan. Maka Komsos Bernadet hadir bersama-sama Komsos se-Dekenat Tangerang. Kebetulan salah satu pemainnya sering terlibat aktif di kegiatan Komsos Dekenat Tangerang, yakni Ibu Ita Sembiring.

Drama musikal ini disutradarai oleh Romo Hary Sulistyo PR, Ketua Komisi Komunikasi Sosial KAJ. Wajar Komsos Paroki se-KAJ diundang.

Drama musikal ini dipersembahkan untuk merayakan hari jadi RS St Carolus yang memasuki usia 100 tahun. Cerita yang diangkat adalah kisah nyata pergulatan batin dan konflik keluarga akibat tragedy '98. “Tentu ditambahkan cerita fiksi agar menjadi sebuah tontonan yang menarik,” ungkap Romo Hary sebelum pementasan.

kemuning 2-cover

Kemuning dalam pelukan Mawar, ibunya.

Dikisahkan Mawar seorang ibu rumah tangga yang hidup damai dan bahagia bersama suami dan kedua anak laki-lakinya. Tiba-tiba keadaan itu berubah saat terjadi huru-hara kerusuhan Mei 1998. Suami dan satu anak laki-lakinya ditemukan sudah tidak bernyawa, sementara anak laki-lakinya yang bernama Xaodan hilang. Mawar sendiri diseret oleh orang tidak dikenal dan diperkosa.

Mawar terluka, jiwa-raganya terpuruk dalam derita perih. Mawar pun mempertanyakan di mana Tuhan yang  serba maha itu kalau kenyataannya ia mengalami hal yang sedemikian memilukan dan menyakitkan?

Lalu Mawar mendapat pertolongan medis di RS St Carolus. Beberapa saat kemudian diketahui oleh tim medis bahwa dia hamil dari buah perkosaan yang dialaminya.

Guncangan jiwa Mawar makin menjadi-jadi. Dan dia mengalami gangguan jiwa alias gila. Ia kemudian dipindah, berada bersama pasien penderita gangguan jiwa lain.

kemuning3-ok_1

Para pemain drama musikal garapan Romo Hary.

Kehadiran orang-orang yang mengalami gangguan jiwa inilah yang menghibur penonton. Kekalutan dan larut dalam penderitaan Mawar berubah jadi tawa ria. Guyonan-guyonan up-to-date kekinian mampu membuat para penonton ger. Dari siapa presiden dan serdadu yang merasa lebih patriot dari patriot, dan juga seorang gila yang akan dipindahkan ke Kamerun kalau tidak menurut.

Kemuning

Mawar yang semakin kalut dan tidak bisa menerima kenyataan hidup berniat membuang janin dalam tubuhnya dengan aneka cara. Beruntung ada seorang pastor, suster, perawat, dan dokter yang selalu menemaninya. Akhirnya Mawarpun mau menerima kehamilan itu, tetapi kelak jika bayi ini lahir tak mau mengasuh, bahkan melihatnyapun tak mau. Keinginan ini pun diamini oleh para pendamping dan kelak bayi yang lahir akan diurus oleh dokter.

Bayi perempuan cantik yang lahir itu diberi nama Kemuning yang akhirnya diadopsi oleh seorang keluarga Muslim yang amat saleh, kerabat dari dokter yang merawat Mawar.

Xaodan, anak laki laki yang hilang itu, juga ditemukan oleh sebuah keluarga Katholik yang terpandang. Kelak Kemuning dan Xaodan berpacaran. Tentu karena latar belakang keluarga yang berbeda keyakinan ini timbul aneka konflik. Sementara Mawar selepas melahirkan hijrah dan menetap di Amerika menata kehidupan yang baru.

Dua puluh tahun kemudian Mawar pulang ke Jakarta dan mampir ke RS Carolus yang sedang berulang tahun ke-100, serta menemui dokter, pastor, serta suster yang dulu merawatnya. Perjumpaan itulah yang memunculkan rasa rindu untuk melihat bayi yang dulu dilahirkannya. Harapan itu akhirnya terwujud.

Perjumpaan dengan ibu kandungnya itu justru memunculkan amarah amat luar biasa pada diri Kemuning karena ia melihat seorang perempuan yang begitu tega memperlakukan darah dagingnya sendiri. Jangankan menggendong dan menyusui, justru membuangnya.

kemuning 4-ok

Sebagian Komos  Dekenat Tangerang dan Ibu Ita Sembiring.

Luka batin dan kepedihan Kemuning bertambah dalam karena ternyata Xaodan, lelaki impian yang ingin segera diajaknya ke jenjang pernikahan itu ternyata saudara kandungnya.

Jangan terulang

Drama musikal ini mengangkat lagu-lagu lama karya almarhum Aloysius Riyanto yang lebih dikenal sebagai A. Riyanto. Bahkan ada beberapa lagu yang dinyanyikan oleh putri almarhum, Lisa Ariyanto.

Drama musical ini didukung oleh 200 orang pemain, di antaranya Rm Lucky Nikasius, Rm Yakin Ciptamulya, Ria Probo, Widi Dwiananda, Yati Surachman, Susan Bachtiar, Lisa A. Riyanto, Ita Sembiring, para Suster CB, para dokter, perawat, karyawan RS St Carolus, para Mahasiswa STIKS Tarakanita, dan para Siswa Sekolah Tarakanita 1 dan 4.

Menurut Romo Harry, kisah nyata ini diangkat bukan untuk mengungkit luka lama tetapi untuk melawan lupa; bahwa aneka pertikaian dan kerusuhan akan menimbulkan aneka penderitaan. “Maka semoga peristiwa seperti ini tidak terulang di negara kita tercinta Indonesia,” harapnya.

Teks & Foto: Bambag Gunadi

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna