Romo Lamma: OMK Paroki Kita Pun Bisa Mengguncang!

16 Mei 2019
  • Bagikan ke:
Romo Lamma: OMK Paroki Kita Pun Bisa Mengguncang!
Peserta Kaderisasi Sie Kepemudaan di Sekolah Abdi Siswa.

Minggu 12 Mei 2019 Sie Kepemudaan St Bernadet memulai sesi pertama kaderisasi pengurus wilayah di Sekolah Abdi Siswa Bintaro, dihadiri sekitar 90 peserta bersama pendamping dari tiap wilayah.

tiga-ok_1

Mulai registrasi peserta.

Pukul 10.00 sudah ada teman-teman yang datang. Kegiatan diawali dengan makan siang bersama teman-teman yang sudah datang dari berbagai wilayah di Paroki Ciledug sambil menunggu teman-teman lain. Setelah itu dimulai registrasi.

dua-ok

Peserta datang dari berbagai wilayah.

Acara dibuka oleh Rachel dan Sonny selaku MC dan doa pembuka oleh Edo dari Sie Kepemudaan.

Menyusul kemudian sambutan Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM, yang mengingatkan kita akan kata-kata Soekarno, "Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia!”

empat-ok

Romo Lamma: "Jika disatukan OMK paroki kita bisa mengguncang."

“Sama seperti OMK kita, jika disatukan maka OMK Paroki Ciledug pun bisa mengguncang tenda gereja sampai roboh sehingga gedung gereja pun berdiri dengan bangunan yang kokoh!” kata Romo Lamma disambut tepuk tangan peserta.

Harus punya gunung

Sesi kaderisasi pertama dimulai jam 12.00 dengan tema Unstoppable Youth, yang bisa diterjemahkan “masa muda yang tak terbendung”. Maksud ungkapan ini, masa muda itu pendek, rapuh, berbahaya, namun sangat menentukan masa depan. Sukses atau gagal, penuh derita atau bahagia, sangat tergantung pada bagaimana mengelola masa ini. Karena itu masa muda harus dijadikan investasi masa depan.

10-ok

Kak Patrick dari Sie Pelatihan dan Kaderisasi (Pekad).

Kaderisasi dibawakan oleh Kak Teguh dan Kak Patrick dari Seksi Pelatihan dan Kaderisasi (Pekad). Berkaitan dengan tema Unstoppable Youth  tersebut mereka berbicara tentang mental block.

Mental block adalah hambatan psikologis seseorang untuk meraih sesuatu sesuai dengan yang diinginkannya. Hambatan ini terjadi di alam bawah sadar karena pikiran terkekang akibat pengalaman masa lalu yang buruk, menyakitkan atau traumatik.

MC sony-ok

Kak Sonny selaku Master of Ceremonies (MC).

“Kita hidup itu harus punya gunung masing-masing,” kata Kak Patrick. Artinya setiap orang punya tujuan hidup yang harus dicapai. Dalam perjalanan mencapai puncak gunung pasti dibutuhkan bekal.

“Nah dengan kalian ikut aktif dalam gereja, siapa tahu ini merupakan salah satu bekal untuk mencapai gunung kita masing-masing,” katanya.

Saling kenal dulu

Lalu Kak Teguh dan Kak Patrick mengajak peserta untuk memainkan beberapa games supaya tidak bosan.

enam-ok

Games dilakukan oleh pasangan-pasangan.

Games-nya seru banget. Peserta dibagi dalam pasangan-pasangan. Awalnya dibagi kertas berisi pertanyaan. Nah terus kita diajak dan mengajak tos dengan teman pasangan sambil tukar pertanyaan. Yang satu lalu menjawab pertanyaan yang dimilik pasangan dan sebaliknya.

tujuh-ok

Saling bertanya secara bergantian tiap pasangan.

Pertanyaannya macam-macam di setiap kertas. Misalnya siapa namanya. Terus ada pertanyaan, “Apa arti cinta menurutmu?”,  “Apa genre film favoritmu?” dan lain-lain. Jawabannya bebas tergantung masing-masing karena tujuannya agar tambah akrab.

Kemudian peserta diajari beberapa tos dengan gerakan yang berbeda-beda dengan pasangan yang berbeda. Tosnya ada tos coca cola hand shake, fish hand shake, dan lain-lain.

8-ok

Yang penting kenal satu sama lain dan akrab dulu.

Games itu berlangsung sekitar 20 menitan dan tujuan kaderisasi tahap pertama ini memang supaya  peserta saling kenal akrab satu sama lain lebih dulu.

Kaderisasi sesi pertama itu ditutup dengan ucapan terima kasih Edi Sukaryo, Ketua Sie Kepemudaan, sambil mengingatkan teman-teman OMK untuk hadir dalam kaderisasi sesi kedua, 26 Mei 2019.

9-ok

Peserta bebas menjawab pertanyaan yang dibagikan.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa dan foto bersama, dan makan snack bersama.

Sampai jumpa di kaderisasi sesi kedua, teman-teman. Don’t miss it!

lima-ok_1

Memberikan pertanyaan dari kertas yang dibagikan.

Teks: Karin Melinda, ps/ Foto-foto: Jo Richard, Carolus Wahyuntoro.

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna