Pelantikan Anggota Baru THS-THM di Gereja Bernadet

9 Mei 2019
  • Bagikan ke:
Pelantikan Anggota Baru THS-THM di Gereja Bernadet
Kordis THS-THM KAJ Ganang Prasetiono siap melantik  anggota baru.

Koordinator Distrik (Kordis) THS-THM Keuskupan Agung Jakarta V Ganang Prasetiono melantik anggota-anggota baru di Gereja Santa Bernadet Pinang setelah homili dalam misa Minggu sore (5/5) yang dipimpin Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dengan koor Wilayah Agustinus.

Anggota-anggota baru tersebut datang dari unit latihan khusus (ULK) Kolese Gonzaga Pejaten, ULK Kolese Kanisius Menteng, Ranting Santa Maria Regina Bintaro Jaya, dan Ranting Santa Bernadet Ciledug.

20190505_172313-ok

Imam memberkati seragam THS-THM untuk anggota baru.

Pelantikan didahului serangkaian tata cara protokoler, dari pengantar kakak pendamping, pernyataan kesanggupan anggota baru, pengucapan janji prasetya, serta penyerahan simbolisasi dan pemberkatan seragam oleh Romo Lamma.

Sesudah melantik anggota baru, Ganang memohon kepada Imam, “Romo Lammarudut Sihombing CICM yang terhormat, mereka kini siap malaksanakan tugas kerasulan Tuhan, dengan hati bersukaria kami mohon Romo menumpangkan tangan di atas kepala mereka dan memberkati mereka sebagai tanda karunia Roh Kudus yang turut hadir dalam ucapara ini.”

20190505_172821-ok_1

Imam menumpangkan tangan di kepala anggota baru.

Kemudian Romo Lamma turun dari panti imam, menyampaikan doa pemberkatan, lalu menumpangkan tangan pada kepala semua anggota yang baru dilantik.

20190505_172825-ok

Imam menumpangkan tangan di kepala anggota baru.

Setelah itu, menutup rangkaian pelantikan, semua anggota baru mencium Bendera Merah Putih, kemudian bendera THS dan THM, sebagai wujud bakti terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wadah organisasi.

Pelantikan tersebut juga didatangi para senior. Misalnya Bindu (Ranting Paroki Pasar Minggu), Ignas dan Eca (Paroki Grogol) yang mengaku datang sebagai bentuk solidaritas kepada anggota baru.

20190505_172936-ok

Mencium Sang Merah Putih dan bendera THS-THM.

20190505_172942-ok

Mencium Sang Merah Putih dan bendera THS-THM.

Kader militan

Embrio Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) sebagai Pencak Silat Katolik bisa dilacak jauh ke belakang ketika tahun 1983 Seminari Mertoyudan Magelang mengundang seorang frater (sekarang Romo Hadiwijoyo, Pr) untuk mengajar silat.

benderadobel-ok

Motto THS-THM Pro Patria et Ecclesia (demi Tanah Air dan Gereja).

Peserta awal 73 seminaris rontok tinggal 11 orang karena frater tersebut hanya bisa mengajar 2 jam dalam sebulan. Namun tahun 1984 anggota yang masih setia meningkatkan latihannya di Kaliurang, lereng Gunung Merapi, didampingi seorang dokter dan seorang psikolog.

Tahap akhir latihan dilaksanakan di Parangtritis, Yogyakarta, dan di situlah tercipta jurus-jurus otentik Seminari oleh para seminaris dan frater. Mereka masih muda, miskin pengalaman,  namun berbulat tekad untuk berbakti bagi seminari, mau berkorban demi iman, dan cinta suci pada Ibu Pertiwi. Dari sinilah lahir gagasan “Beladiri sebagai sarana kerasulan”.  

Terbentuklah kemudian Dewan Pendiri, beranggotakan para perintis, pendiri, dan pemrakarsa bentuk-bentuk idealisme kegiatan THS-THM. Tercatat nama Romo M Hadiwijoyo, Pr (bebas tugas, sekarang Pastor Moderator Komunitas Lansia KAJ), Dr RMS Haripurnomo Kushadiwijaya, Brigjen TNI (Purn) Ign Imam Kuseno Miharjo, Dra MM Emmy Putraningrum, Ibu Imam Kuseno Miharjo, dan masih banyak lagi.

20190505_181730-ok_1

Ganang (berlutut paling kiri) foto bersama senior dan anggota baru.

Pada 10 November 1985, bertepatan dengan penetapan tahun itu sebagai Tahun Pemuda Internasional, juga bertepatan dengan Hari Pahlawan, diresmikanlah berdirinya Organisasi Beladiri Pencak Silat Katolik Tunggal Hati Seminari di Gelanggang Remaja Jakarta Utara dengan jumlah anggota 223 orang. Satu tahun kemudian, 10 November 1986, diresmikan Tunggal Hati Maria (THM) untuk perempuan.

Anggota THS-THM terus berkembang, tak hanya di Indonesia tetapi juga luar negeri. Organisasi dengan motto Pro Patria et Ecclesia (demi Tanah Air dan Gereja) dan semboyan Fortiter in Re Suaviter in Modo (tangguh dalam pendirian [iman] lembut dalam cara) ini memang bertujuan mencetak kader-kader Gereja yang berguna dan militan, 100% Katolik, 100% Indonesia.

20190505_175015-ok

Ben (calon anggota) dan para senior THS-THM Bindu, Ignas, dan Eca.

Seorang tokoh THS-THM di sebuah paroki mengatakan,  kehadiran THS-THM semakin relevan dengan perkembangan zaman sekarang yang membutuhkan kader-kader militan tangguh untuk memperjuangkan masa depan Bangsa dan Gereja, seperti melawan gerakan radikalisme. “Jangan biarkan generasi muda hanya asyik dan larut bermain gadget,” katanya.

Teks: ps/berbagai sumber/ Foto-foto: ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna