"Kerinduan ingin berziarah bersama sudah dirasakan sejak tahun 2018 dan sempat merencanakan ingin pergi ke Romo Yohanes, Lembang. Tetapi karena terkendala dengan berbagai bencana alam seperti longsor maka diputuskan untuk tidak pergi ke sana," ujar Ibu Noffy, Bendahara Isidorus 5.

Dan akhirnya diputuskan untuk pergi ke Gua Maria Cibinong tanpa terencana sebelumnya. Seminggu sebelum pergi baru diumumkan bahwa Sabtu, 4 Mei 2019, kami akan berziarah bersama. Ada 18 orang dewasa, 4 OMK,dan 4 BIA yang berpatisipasi dari Lingkungan Isidorus 5.

Kami berangkat pukul 07.00 menuju destinasi pertama yaitu Gua Maria Cibinong di Gereja Katolik Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Tiba di sana kami berdoa rosario sekaligus sebagai pembukaan untuk doa rosario di lingkungan kami.

Berdoa kami bertemu dengan Bp Toni dari DPH Paroki Keluarga Kudus yang mengajak kami untuk melihat ruang Adorasi. Namun ruangan tersebut sedang digunakan untuk pemberkatan pernikahan karena di sana belum ada kapel dan Gerejanya terlalu luas sehingga memakai ruang Adorasi atas permintaan dari mempelai.

Lalu kami juga diizinkan untuk berdoa di dalam gereja tersebut yang baru diresmikan oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM pada tahun 2017. Menurut Pak Toni, luas gereja ini 1,5 hektar dengan jumlah umat 12.000 jiwa. Sebelum mendapatkan izin gereja ini juga sama seperti gereja kita Santa Bernadet Paroki Ciledug, yang menggunakan tenda untuk beribadah.

Setelah dari Cibinong kami melanjutkan perjalanan ke Jumbo tempat untuk membeli oleh-oleh khas Bogor sekaligus makan siang bersama di dalam bus. Pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan lagi ke Gereja Katedral Santa Perawan Maria, Bogor. Di sana kami berdoa koronka bersama di kapel yang ada di situ.

Dan destinasi terakhir kami adalah ke Gereja Santo Fransiskus Asisi, Sukasari, Bogor untuk misa di sana. Tiba pukul 15.00 kami pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke Surya Kencana, tempat yang sangat terkenal kulinernya, untuk acara bebas sambil menunggu misa yang dimulai pukul 17.00.

Ada yang sedikit berbeda dari misa di sana, dari lektor, putra altar, dan juga nyanyian Ordinarium. Yang unik dari lektor adalah ketika penerimaan komuni, kedua lektor turut mendampingi di samping Romo dan Prodiakon yang membagikan hosti. Karena hanya ada 3 putra altar, maka mereka pun mendampingi para Prodiakon.

Nyanyian Ordinarium juga dibawakan dalam bahasa Latin dengan versi yang kami belum pernah dengar. Lagu Kemuliaan dan Bapa Kami pun dinyanyikan dalam bahasa Latin dan umat turut bernyanyi. Menurut kami itu sesuatu yang unik dan belum pernah kami temui sebelumnya, rasanya seperti misa di Vatikan…

Misa selesai pukul 18.00 dan kami bergegas untuk kembali pulang ke Ciledug dan tak lupa dengan berdoa agar selamat sampai tujuan.

Teks & Foto: Margaretha Sylvia Calista