Misa pertama biasanya selalu menjadi pilihan umat beserta keluarga untuk mengikuti misa. Dari sisi waktu masih sore sehingga pulang tidak larut malam. Hal itu juga yang terjadi pada misa Malam Paskah pukul 16.30 di Pinang.

Petugas tata laksana harus menata kursi-kursi tambahan karena kursi yang sudah disediakan telah terisi penuh. Hanya saja cuaca yang cerah membuat udara cukup panas di dalam tenda.

Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dan Romo Yoakim Ritan, CICM, memimpin misa Malam Paskah pertama diiringi koor dari Wilayah Ign Loyola. Romo Ritan membawakan homili pada misa ini. Ia mengatakan bahwa setiap tahun kita merayakan paskah, merayakan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Kita telah ditebus dosanya. Tapi mengapa kita terus berbuat dosa bahkan dosa yang sama?

"Kenapa masih berdosa? Karena Allah tidak memaksa ciptaanNya untuk mencintai Dia. Allah memberi kebebasan dan kebebasan itu mahal harganya," kata Romo Ritan bersemangat.
Ia melanjutkan lagi, "Karena Yesus, kita yang debu itu layak masuk ke rumah Tuhan. Karena Yesus menebus kita maka kita layak dan pantas masuk ke dalam kerajaan surga. Kita yang hina diangkat mulia bukan karena jasa kita tapi karena kurban Kristus di salib."

Romo Ritan menggambarkan sakramen pembaptisan sebagai sebuah tiket. Tiket dari Tuhan sudah kita miliki dan harus dipegang dengan baik. Namun kita juga memiliki pilihan untuk merusak tiket itu, merobeknya, atau bahkan membuangnya. Akibat dari itu pula nama kita yang sudah tercatat di surga bisa hilang karena kita ingin memiliki semuanya bukan apa yang kita butuhkan.

"Berbuat baik bukan karena ingin masuk surga tetapi karena nama kita sudah tercatat di surga. Kita jadi yakin Allah lebih mencintai manusia karena Ia rela mengurbankan anakNya. Jangan buang tiket yang telah kita pegang sampai akhir hayat. Tiket itulah janji baptis kita."

Dalam homili misa kedua Malam Paskah di Pinang, Romo Lamma mengatakan bahwa karena Allah mencintai kita, hendaklah kita saling mencintai satu sama lain. Sedikit menyinggung kondisi masyarakat kita pasca Pemilu ini, Romo Lamma mengatakan agar membuang kebencian dan kebohongan karena itu bukan cerminan mencintai satu sama lain.

Kebangkitan adalah kunci iman kita, kata Romo Lamma. Artinya karena Allah mencintai manusia, Dia membangkitkan Yesus dari kematian untuk menyelamatkan manusia. “Percaya kepada kebangkitan adalah pergumulan iman yang tidak mudah, lebih mudah memahami kematian,” katanya.

Romo Lamma mengilustrasikan penyelamatan Allah atas manusia berdosa itu dengan cerita anak bandel yang tidak mengindahkan peringatan ayahnya agar tidak mandi di sungai yang ada buayanya. Ketika anaknya itu diserang buaya sang ayah menyelamatkannya walaupun harus kehilangan salah satu kaki. Sang ayah tetap memaafkan anaknya yang diselamatkan itu karena ia mencintainya.

Akan tetapi percaya kepada kebangkitan yang menyelamatkan itulah warta penting yang dibawa oleh para wanita yang pagi-pagi menengok makam Yesus kepada ke-11 murid lainnya.

Secara khusus Romo Lamma mengingatkan betapa besar peran wanita dalam sejarah keselamatan Allah, seperti peran Maria yang melahirkan Yesus Sang Penyelamat, serta Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus yang dibacakan dalam Injil Lukas malam itu.



Tugas kita mewartakan
Sementara itu misa Malam Paskah Sabtu kemarin juga diadakan di Balai Pertemuan Metro Permata. Di dalam aula tampak hiasan daun dan telur paskah ditempel melingkari tiang-tiang dalam aula.

Pemazmur Bernadet yang tampil di Metro adalah Rosa dan Una, sedang koor dari Wilayah Maria Goretti yang tampak rapi berseragam warna merah. Ibu-ibu menggunakan seragam bergambar bunga dan bapak-bapak mengenakan kemeja warna merah polos. Misa sore itu dimulai pukul lima sore, namun sejak pukul setengah empat sore umat telah memasuki Balai Pertemuan.


Memimpin misa bersama Romo Manuel V Valencia, CICM, Romo Paulus Dalu Lubur, CICM, dalam khotbahnya menyampaikan bahwa tugas untuk mewartakan karya keselamatan sebagaimana dibawa oleh para wanita dalam Iniji itu ada pada diri kita masing-masing, karena Yesus telah mati untuk kita.

Romo Paulus juga berpesan agar kita berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat setiap manusia yang kita jumpai dan yang kita layani, seperti Yesus sendiri yang telah menebus dan mengangkat kita manusia yang lemah ini, atau dalam bahasa Romo Ritan, “Karena Yesus, kita yang debu itu layak masuk ke rumah Tuhan”.

Baik di Gereja Pinang maupun di Metro, sebelum berkat penutup, perwakilan dari panitia Paskah dan Dewan Paroki diberi kesempatan untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasinya kepada seluruh panitia dan petugas yang terlibat, dan juga kepada seluruh umat Paroki yang telah ikut menyukseskan program Geser (Gerakan Seribu Rupiah).

Selamat Hari Raya Paskah bagi kita semua! Tuhan memberkati.
Teks: Margaretha Elsa, Alexandra Rosy, ps
Foto-foto: Alexandra Rosy, Hari Kristanto, Carolus W, Walter Arya, ps, Bambang G, Pasdior.