Balai Pertemuan Metro Permata menjadi salah satu tempat perayaan Jumat Agung pada hari Jumat, 19 April 2019 lalu. Nampak seorang ibu berbaju batik memasuki balai dan mencelupkan jarinya ke dalam tempat air suci. Tapi ternyata, tak setetes air pun ia dapati di dalam kedua tempat air suci di dinding itu.

"Oh, bagaimana panitia ini? Mengapa air sucinya belum disiapkan?" gumamnya sedikit keras. Kebetulan, seorang bapak dengan pin panitia duduk dekat situ. "Betul bu, karena hari ini Jumat Agung semua tempat air suci dikosongkan," katanya. Ibu itu pun mengangguk-angguk paham. Dalam tradisi liturgi Gereja Katolik, wadah-wadah tersebut baru akan diisi dengan air suci baru yang akan diberkati pada Misa Malam Paskah.

Ibu tersebut rupanya bukan satu-satunya yang “kecele”. Beberapa kali tampak umat yang lain juga mencelupkan jarinya ketika masuk ke dalam balai. Tak hanya tempat air suci, meja altar pun juga sudah dikosongkan. Hal ini adalah salah satu tata cara liturgis dalam perayaan Jumat Agung ketika umat Kristiani mengenang sengsara dan wafat Kristus yang mati di kayu salib.

Meski jadwal Jumat Agung pukul dua siang, namun sejak pukul setengah satu siang beberapa umat sudah hadir dan duduk di dalam. Untuk menampung umat, panitia menyiapkan dua tenda di bagian luar Balai Pertemuan. Masing-masing tenda dilengkapi dengan proyektor dan layar sehingga umat yang kedapatan duduk di tenda tetap dapat mengikuti jalannya ibadat di dalam. Di bagian dalam sendiri, pendingin ruangan dan kipas bekerja baik sehingga ruangan terasa nyaman.

Pukul satu siang, petugas memulai Doa Novena Kerahiman Allah. Sesuai jadwal, Jumat 19 April adalah hari pertama novena. Tepat pukul dua siang, misa pun dimulai dan berjalan dengan khidmat. Terdengar sedikit kendala teknis pada sound system di tengah-tengah pasio, namun petugas dengan sigap membereskannya sehingga tak sampai mengganggu jalannya perayaan. Koor "Vox Populi" mengiringi lagu-lagu di perayaan itu dengan suara yang sungguh merdu. Pembagian suara di dalam koor terdengar dengan baik sehingga menghasilkan harmoni lagu yang indah.

Kesetiaan latihan koor
Koor yang mengiringi perayaan hari itu bisa menyanyi dengan baik bukan serta-merta. Vox Populi ternyata sudah mulai berlatih sejak Februari. Bu Sita selaku dirigen dan pelatih bercerita tentang jadwal latihannya.
"Kami berlatih setiap hari Senin di Metro Permata sini pada pukul delapan malam. Walaupun biasanya latihan baru bisa dimulai pada pukul setengah sembilan. Latihan biasanya berakhir sekitar pukul sepuluh malam," tutur Bu Sita. Rumahnya yang berlokasi di Pondok Indah tak lantas mengingkari komitmennya untuk datang melatih.

"Dengan paduan suara, kita diajak untuk lebih memahami perayaan Ekaristi karena menyanyi yang baik sama dengan berdoa dua kali. Koor ini mengajak umat untuk lebih menghayati Ekaristi," menurut pemilik nama lengkap Resita Budiarti, puteri alm Pak Boediono itu.
Hidup adalah persembahan
Mengenai kesetiaan pada janji dan komitmen, Romo Yoakim Ritan, CICM pun dalam khotbahnya mengungkapkan bagaimana Yesus telah setia terhadap janjinya kepada Allah untuk menebus kesalahan kita manusia. Kebenaran yang Ia tebus sungguh pahit hingga merenggut nyawa-Nya. Oleh karena itu, inilah perayaan kebenaran yang kita rayakan dan kita kenangkan.

"Kesetiaan dan kebenaran membawa kita pada kebangkitan. Kesetiaan dan kebenaran memang tidak ada manis-manisnya. Walaupun demikian, seperti obat, kita perlu mengambil pahit tersebut supaya sembuh."

Yesus telah menunjukkan kebenaran itu walaupun nyawa menjadi taruhannya dan Allah melihat ini sebagai sebuah persembahan. "Semoga hidup kita menjadi persembahan yang mulia bagi Tuhan dan bagi orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita," tutup Romo Ritan yang memimpin perayaan bersama Romo Lamma di akhir kotbahnya.

Sementara itu di Gereja Bernadet Pinang, Romo Manuel V Valencia, CICM, dan Romo Paulus Dalu Lubur, CICM, memimpin perayaan Jumat Agung. Pada jadwal pertama umat membeludak, dan pada jadwal kedua lantai atas dan bawah tempat duduk penuh meski umat tidak sebanyak sebelumnya. Paduan suara yang bertugas adalah Wilayah Monika dengan tata laksana Wilayah Petrus.

Koor Wilayah Monika bernyanyi a capella atau tanpa iringan instrumen musik apapun sesuai tradisi liturgi Gereja Katolik. Selama bernyanyi koor mampu menjaga stamina dan stabilitas nada atau hampir tak terdengar nada fals.




Senada dengan Romo Ritan, dalam kotbahnya Romo Manuel V Valencia, CICM menekankan komitmen untuk tetap setia memikul salib sebagaimana Yesus setia memenuhi janjiNya sampai wafat di kayu salib. “Kita sering terganggu godaan-godaan duniawi sehingga kita tidak setiadalam janji cinta. Tetapi cinta Allah telah memurnikannya,” kata Romo Noel dalam penggalan akhir kotbahnya kemarin.

Perayaan Jumat Agung kedua kemarin sempat diwarnai hujan lebat, sehingga banyak umat yang menunggu hujan reda sebelum pulang dengan minum teh atau kopi hangat atau menyantap konsumsi yang tersedia. Gereja Pinang baru benar-benar sepi umat sekitar jam 22.00.


Teks: Alexandra Rosy, ps/ Foto-foto: Alexandra Rosy, Carolus W, Walter Arya