Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34)

"Kamis Putih adalah perayaan kejujuran. Kamis Putih menampilkan sosok Yesus yang memberi teladan sejati," kata Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dalam homili Misa Kamis Putih kedua di Pinang yang sempat diguyur hujan, tadi malam.

Dalam homili tersebut Romo Lamma menjelaskan betapa sulitnya mencari orang jujur. Contoh nyata tindakan tidak jujur adalah korupsi. Menyebarkan informasi yang tidak benar juga salah satu bentuk ketidakjujuran. Melebih-lebihkan sesuatu atau sering disebut "lebay" juga akan memunculkan kebohongan.

Ia juga mengatakan, "Kejujuran itu nilainya sangat tinggi di mata Tuhan. Kalau kita jujur, maka orang akan menghargai, orang akan menghormati kita."
Lebih lanjut, kata Romo Lamma, wujud kasih harus nyata nampak dalam diri kita. Yesus memberi suatu perintah, yaitu untuk saling mengasihi satu sama lain. Dengan kerendahan hati kita juga harus menjadi teladan bagi sesama. "Kejujuran akan menghantarkan kita pada sebuah keteladanan," ujar Romo Lamma

Romo Lamma punya kebiasaan bertanya kepada umat ketika menjelaskan sesuatu dalam homili. Misalnya untuk menjelaskan tindakan Yesus membasuh kaki para murid sebagai tindakan simbolis kejujuran dan kerendahan hati.

“Apakah kita pernah menemukan tulisan yang menceritakan bahwa para murid melakukan tindakan yang diharapkan Tuhan Yesus?” tanya Romo Lamma kepada umat. Harapan Yesus yang dimaksud adalah “Kamu harus saling membasuh kaki saudaramu.” Umatpun menjawab serempak, “Tidak pernah menemukan.”

Romo Lamma mengatakan bahwa sejak belasan tahun belajar sampai sekarang menjadi pastor juga belum pernah menemukannya. Di situlah Romo Lamma menjelaskan bahwa membasuh kaki para murid itu adalah tindakan simbolis kejujuran dan kerendahan hati.

Tolong, maaf, terima kasih
Ketika memimpin misa pertama jam 16.30, Romo Yohakim Ritan, CICM, menyatakan hal yang mirip. Mengutip sabda Yesus “kamu semua sudah bersih namun tidak semua”, Romo Ritan mengatakan bahwa kita sebagai manusia sudah membawa dosa asal.

“Ada setitik noda dosa dalam diri kita, maka kehadiran kita ke Gereja juga mohon ampun atas segala kedosaan kita,” ungkapnya.

Pembasuhan kaki adalah wujud kerendahan hati dan Romo Ritan mengajak kita belajar dari Paus Fransiskus dengan menggunakan tiga kata: tolong, maaf, dan terima kasih mulai dari rumah kita masing masing.

“Katakan ‘tolong’ jika membutuhkan bantuan, katakan ‘maaf’ jika memang berbuat salah, dan katakan ‘terima kasih’ jika mendapatkan sesuatu. Maka sikap rendah hati itu akan mengubah perilaku dan tutur kata kita. Dengan cara inilah semoga kita bisa membersihkan setitik noda dosa dalam diri kita,” harapnya.

Margaretha Elsa, Bambang G