Misa kedua Minggu Palma, Minggu (14/4), di Gereja Santa Bernadet Pinang dipadati umat. Petugas tata laksana dari Wilayah Ignatius Loyola sengaja menyebar beberapa orang yang membawa checker untuk menghitung orang yang mengikuti misa. Jumlah umat yang mengikuti misa kedua itu terdeteksi 1.541 orang, belum termasuk anak-anak.

Para petugas checker misa yang dimulai pukul 08.30 tersebut disebar di tenda bawah, baik di sebelah kiri maupun sebelah kanan, di area parkiran motor dan di gereja lantai atas.

Untuk upacara awal, area parkiran motor disulap menjadi tempat yang layak dengan tenda sebagai atapnya. Di tempat inilah pemberkatan daun palma dilakukan dan perarakan dimulai. Meskipun umat harus berdiri dan sinar matahari terik menembus tenda, ibadat berlangsung khidmat.

Perayaan Minggu Palma itu dipimpin oleh Romo Yoakim Ritan CICM bersama Romo Lammarudut Sihombing, CICM. Seiring dengan jalannya prosesi atau arak-arakan kedua pastor dan para petugas liturgi lain menuju gereja lantai atas, umat pun mengikutinya sambil berlomba mencari-cari tempat duduk. Dalam hitungan menit bangku-bangku penuh terisi, baik di gereja lantai atas maupun tenda bawah. Menyusul kemudian perayaan Ekaristi yang berlangsung lancar hingga selesai.

Sementara itu di Balai Metro Permata kemarin Romo Manuel V Valencia, CICM, juga memimpin Misa Minggu Palma pukul 17.00, diikuti oleh umat yang banyak di antaranya duduk di luar balai.

Minggu Palma mengawali Pekan Suci. Inilah perayaan untuk menyambut Yesus di Kota Yerusalem tetapi sekaligus juga merenungkan kisah sengsara Yesus. Romo Yoakim Ritan,CICM, dalam homilinya menceritakan peran-peran dalam bacaan Injil yang bisa kita pilih seperti Herodes, Pilatus, wanita yang menangis, juga algojo dan para penghujat.

Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif mau menjadi siapakah kita, Romo Ritan mengajak kita untuk mengambil bagian dalam menyambut Paskah tahun ini. Apakah kita akan menjadi seperti Herodes atau bijaksana sekaligus penjilat seperti Pilatus?

Apakah kita akan menjadi wanita-wanita Yerusalem yang menangisi Yesus, namun hanya menangisi saja tanpa ada tindakan nyata dari penderitaan yang Yesus alami di sepanjang perjalanan menuju bukit Golgota. Atau kita akan seperti algojo dan para penghujat yang suka merendahkan dan memaki Yesus?

Baca uraian lebih lanjut pada tulisan lain berjudul, Maukah Kita Menjadi Simon dari Kirene Masa Kini?
Teks: Elsa, Yolla, Hari KN