Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet kedatangan tamu moderator Berkhat Santo Yusup (BKSY), yakni Romo Yoseph Kristanto Suratman, Pr, yang biasa disapa Romo Kris. Romo Kris hadir mempersembahkan misa pada Sabtu (30/3) dan Minggu (31/3) sekaligus menjelaskan apa itu BKSY saat homili.
BKSY merupakan sebuah gerakan rohani, gerakan belarasa, bergotong royong menolong sesama dalam kesehatan dan kematian khususnya bagi yang kecil lemah miskin terpinggirkan dan difabel.

BKSY menjadi cara mengasihi sesama dalam perbuatan yang nyata dengan memberi secara ikhlas tanpa mengharap manfaat bagi diri sendiri. “Karena Allah Bapa kita telah lebih dulu mengasihi kita seperti bacaan Injil yang baru saja kita dengar tadi dalam perumpamaan anak yang hilang,” ungkap Romo Kris yang malam sebelumnya menginap di Paroki Alam Sutera itu.

Gerakan ini digagas oleh Uskup Agung kita yang merupakan Magister, guru bagi umat Keuskupan Agung Jakarta, yakni Mgr Ignatius Suharyo, pada 30 November 2013. Mgr Suharyo mengajarkan kepada umat KAJ untuk berbelarasa. Hal ini sesuai dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta tahun 2011 – 2016, Gereja yang hidup adalah Gereja yang umatnya semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa.
“Mgr Suharyo menjadi peserta pertama dengan membayar Rp 80.000 untuk satu tahun,” kata Romo Kris, pastor diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang yang sejak 2017 menjabat Sekretaris Komisi Seminari (Komsen) KWI itu.

Manfaat bagi peserta BKSY akan mendapat bantuan jika sakit dan dirawat dirumah sakit akan mendapat bantuan Rp 100.000 per hari maksimal 90 hari dalam 1 tahun atau Rp 9 juta. Dan jika meninggal akan mendapat bantuan sebesar Rp 10 juta. Tetapi gerakan BKSY bukan seperti membeli asuransi melainkan ikut BKSY berarti memberi.

“Maka saya mengajak umat di Paroki Ciledug ini untuk ikut gerakan iman ini baik sebagai peserta aktif ataupun donatur pending coffee BKSY. Seperti di kedai-kedai kopi ada orang yang membayar lebih nanti untuk yang pengin minum kopi tetapi tidak mampu untuk membayar. Jadi kalau bapak ibu sudah punya jaminan kesehatan dan berbagai jenis asuransi bukan berarti tidak cocok ikut BKSY. jJstru di sini Anda dapat menjadi donatur pending coffee bagi yang membutuhkan,” jelas mantan Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta itu.

Romo Kris mengajak merefleksikan mukjizat Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan dari anak kecil yang diterima Santo Andreas dan dibawa kepada Yesus. “Zaman sekarang ini kita bisa membuat penggandaan 5 roti dan 2 ikan tersebut dengan bergotong-royong lewat BKSY Rp 80.000 setahun atau Rp 6.700 per bulan, niscaya ribuan orang akan tertolong,” katanya.
“Dari 66 paroki di Keuskupan Agung Jakarta baru 32 Paroki yang ikut, termasuk Paroki Ciledug yang masih beratap tenda ini. Pada hal berdasarkan data, sekitar 40% umat Katolik di KAJ ini butuh dibantu dan diperhatikan. Maka pilihannya jelas seperti Injil hari ini, sebagai si sulung kita mau ikut masuk dalam pesta suka cita bersama bapa dan si bungsu dengan bermurah hati, atau tidak demikian?” Romo Kris memberikan tawaran.
Diurus PSE
Ibu Cecilia Fatmawati Ketua PSE Paroki Ciledug menambahkan bahwa pengurusan BKSY mulai dari pendaftaran dan pemberian bantuan semua diurus lewat PSE. “Bukan karena PSE bagian dari BKSY tetapi ini karena menyangkut mereka yang mebutuhkan perhatian dan bantuan maka PSE tergerak untuk ikut terlibat,” jelasnya.

Minggu Laetare
Dalam antipon pembukaan yang tadi disampaikan Romo Noel pada Minggu Prapaskah ke 4 ini yang biasa disebut Minggu Laetare “Bersukacitalah” . Maka tampak beda hiasan di seputar Altar. Kalau Minggu Prapaskah 1-3 tidak tampak hiasan bunga, pada Minggu Prapaskah ke-4 ini Altar kembali dihiasi dengan bunga. Dan koor yang mengiringi Misa pagi itu juga menampilkan suasana ceria baik dari kostum dan pemilihan lagu. Maka dengan ikut BKSY semoga semakin banyak orang yang bersukacita.

Teks: Bambang Gunadi