Pesan Kerukunan dan Persaudaraan Misa Minggu Sore

19 Maret 2019
  • Bagikan ke:
Pesan Kerukunan dan Persaudaraan Misa Minggu Sore

Misa Minggu sore bukan sekadar tambahan jadwal misa bagi umat Gereja Santa Bernadet, melainkan merupakan pesan persaudaraan dan kerukunan.

Menurut Romo Lammarudut Sihombing, CICM, biasanya umat Katolik kalau ada kegiatan lingkungan seperti kerja bakti RT atau RW mengatakan tidak bisa dengan alasan pergi ke gereja untuk beribadah. Dengan adanya misa sore, kalau pagi-pagi ada kegiatan semacam itu, tidak ada alasan lagi sebagai orang Katolik tidak bisa bergabung.

Bangku

“Baiklah kita bergabung dengan warga sekitar kita, bergotong bergotong royong  membersihkan area di sekitar RT atau RW. Minggu sore kita bisa misa. Supaya kerukunan, persaudaraan dengan warga RT/RW pun tetap bisa terjalin, melalui kegiatan kerja bakti atau kegiatan sosial lainnya,” kata Romo Lamma pada akhir Misa Minggu sore perdana, 17 Maret 2019, di Gereja Pinang.

Beberapa umat yang ditemui usai misa menyatakan sependapat dengan Romo Lamma. “Bagus sekali Minggu sore ada misa, di kompleks bisa ikut kerja bakti seperti kata Romo tadi. Saya senang sekali, support,” kata Adrianus. Hal senada dikatakan oleh Thomas.

Pemazmur lektor                           Pemazmur dan lektor Misa Minggu sore perdana

Sementara itu  Vincent mengatakan, kalau ada misa Minggu sore tidak harus terburu-buru seperti kalau mau misa pagi. “Karena ada tambahan pilihan waktu,” katanya.

Bersejarah

Pada misa perdana Minggu sore di gereja lantai atas yang jatuh pada Hari Minggu Prapaskah II itu belum banyak umat yang hadir, diperkirakan sekitar 250 orang. Deretan-deretan tempat duduk tidak selalu  terisi penuh. Tempat parkir juga masih kelihatan lega.

Walaupun demikian, bagi umat Paroki Ciledug, misa perdana Minggu sore tersebut bersejarah karena untuk pertama kalinya di Gereja Santa Bernadet Sudimara Pinang diadakan misa sore pada hari Minggu.

Koor

Koor dipuji

Yang bertugas koor pada Misa perdana itu adalah paduan suara gabungan atau lebih tepatnya “koor comotan” dengan dirigen Pak Ing Kiat. Tak ada latihan khusus, cukup dibagikan lagu-lagu lewat aplikasi Whatsapp untuk dilatih sendiri.

Alhasil, karena memang vokal sudah terlatih, dengan lagu-lagu tradisional-liturgis yang sudah diketahui umat pun, paduan suara itu berhasil menciptakan suasana khidmad dalam ibadat. “Koornya bagus sekali,” kata salah seorang yang mengikuti misa sore itu.

parkir sepi

Teks: ps/bg/ Foto-foto: Eddy Sarwono, Kevin Meydio

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna