Rekoleksi Orangtua Baptis Bayi

13 Maret 2019
  • Bagikan ke:
Rekoleksi Orangtua Baptis Bayi

Rekoleksi Orangtua Baptis Bayi bulan Februari 2019

 

Pada hari Minggu, 10 Maret 2019, berlangsung rekoleksi orangtua baptis bayi di Gereja Santa Bernadet dengan peserta 15 orang, termasuk calon wali baptis. Kepada para peserta, katekis Yuliana bertanya, “Siapa yang menerimakan Sakramen Pernikahan, Bapak-Ibu?” Hampir semua serempak menjawab, “Romo!”

“Kurang tepat, Bapak-Ibu. Kan kita selalu mendengar pengumuman di Gereja, ‘Akan saling menerimakan Sakramen Pernikahan’. Jadi yang menerimakan Sakramen Pernikahan adalah pasangan. Romo memberkati pernikahan,” kata Bu Yulia, sapaan akrab koordinator baptisan bayi Santa Bernadet itu.

Bu Yulia mengajukan pertanyaan tersebut untuk mengingatkan bahwa orangtualah pendidik iman yang pertama dan utama anak-anaknya sesuai dengan janji kesediaan mereka dalam pernikahan untuk “mendidik anak-anak sesuai hukum Kristus dan GerejaNya”, bukan pastor atau orang lain.

“Sakramen Baptis sebagai tanda dan sarana untuk menerima rahmat keselamatan Allah merupakan gerbang untuk menerima sakramen-sakramen yang lain,” jelas Bu Yulia.

“Seperti halnya seorang ibu yang memberikan tetes pertama air susu ibu (ASI) kepada bayi segera sesudah dilahirkan agar si anak berkembang sehat, demikian pula orangtua bertanggung jawab untuk segera membaptiskan anaknya selagi masih bayi demi keselamatan jiwanya,” imbuhnya.

“Kalau perkembangan iman anak kelak kurang baik, jangan salahkan orang lain, jangan salahkan lingkungan, karena bapak-ibu sekalian penanggung jawab utama. Wali baptis juga tidak boleh lepas tangan sebagai ‘orangtua kedua’,” kata Ibu Yulia.

baptis bayi1

Karena akan membesarkan dan mendidik anak-anaknya, khususnya dalam hal pembinaan iman, sesudah pembaptisan orangtua bertanggung jawab juga untuk mempersiapkan mereka menerima sakramen-sakramen lain seperti Ekaristi (Komuni I) dan Penguatan (Krisma), yang ketiganya disebut Sakramen Inisiasi.

Menyinggung pilihan nama baptis, Ibu Yulia berpesan agar anak diarahkan untuk meneladani hidup Santo atau Santa pelindung yang namanya dipilih. “Jadi bukan asal keren ya, bapak itu,” kata perempuan yang sudah 24 tahun menjadi pamong sabda itu.

Kurang waktu

Dalam percakapan sebelum memimpin rekoleksi itu, Ibu Yulia mengungkapkan bahwa rekoleksi orangtua baptis bayi di Paroki Ciledug dirasa masih kurang waktu. Di paroki lain, katanya, ada yang mengadakan tiga kali pertemuan dengan hari berbeda-beda, untuk orangtua bayi sendiri, wali baptis sendiri, dan latihan pelaksanaan (gladi bersih) pada hari tersendiri. “Jadi persiapannya  matang,” katanya.

“Kita di Bernadet ini hanya punya waktu 2 jam, Minggu setelah misa kedua. Dipotong untuk registrasi dan macam-macam, waktunya jadi berkurang. Padahal rekoleksi orangtua baptis bayi ini termasuk yang paling dasar. Kita harus memberi bekal cukup kepada orangtua bayi dan wali baptis. Kadang untuk membaca Alkitab saja tidak sempat,” imbuh Ibu Yulia.

Hari itu anggota tim katekese baptis bayi hadir lengkap. Selain Bu Yulia, katekis lainnya adalah Pak Gatot Untoro dan Pak Suraji dengan tugas masing-masing.

Teks: ps/ Foto: ps, Carolus Wahyuntoro Aji

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna