Pada hari Minggu, 3 Maret 2019, diadakan pertemuan orangtua misdinar dengan Romo Lamma Sihombing, CICM, Ketua Sie Liturgi Y Sunaryo, Pendamping Misdinar Khatarina Wahyuni, dan Ketua Misdinar Yohanes Andrew Wijaya, di lantai atas Gereja Bernadet.
Salah satu hal yang penting dalam pertemuan tersebut adalah mengajak orangtua untuk ikut terlibat dalam pembinaan ana-anak misdinar ini. Pengurus berkeinginan agar komunitas misdinar ini juga menjadi wahana untuk pembinaan karakter terkait dengan kecerdasan emosional, sosial, maupun spiritual.

Andrew
Jadi di komunitas misdinar inilah anak-anak bisa mengasah kecerdasan-kecerdasan tersebut yang diharapkan dapat menjadi bekal anak-anak misdinar ke depan.
Menjadi misdinar artinya tidak hanya melayani di dalam ibadat tetapi juga berinteraksi bersama teman-temannya, mengasah kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Dan di sini peran orangtua sangat penting.
Kami mengajak orangtua meyakini komunitas ini cocok untuk menjadi sarana investasi; investasi dalam hal mengembangkan kepribadian, mengembangkan karakter anak-anak yang untuk saat ini merupakan sesuatu hal yang sangat penting.

Khatarina Wahyuni
Nanti mau dibentuk kepengurusan, jadi pendampingannya itu formatur, tim. Pendamping misdinar yang sekarang ini sudah 8 tahunan, nggak pernah ada yang menemani. Romo Lamma ingin ada penyegaran, ada beberapa orangtua yang nanti ikut terlibat. Romo menarik perhatian orang tua agar ikut terlibat dalam pendampingan dan pembinaan misdinar.
Jadi jangan sampai mereka melepas anaknya begitu saja, tidak tahu di sini banyak hal yang terjadi karena tidak ikut terlibat.

Y Sunaryo
Kami kerap merasa prihatin karena ada orangtua yang mengikutsertakan anaknya ke pelatihan-pelatihan di luar dengan harga jutaan. Dengan mudahnya melepas uang, tetapi untuk pembinaan-pembinaan mental, spiritual, iman, kadang berat sekali. Nah itu tidak fair.
Komunitas misdinar ini merupakan sesuatu yang sangat positif dan harus didukung, dan orangtua harus aware soal ini.
Teks: Y Sunaryo/ Foto-foto: Agustinus Sigit Dwisusila