Jambore Persaudaraan dalam Kebangsaan

6 Maret 2019
  • Bagikan ke:
Jambore Persaudaraan dalam Kebangsaan

Acara dimulai jam 07.30 pagi, jumlah peserta 227 anak terdiri dari 13 sekolah negeri, 1 komunitas Gereja Kristen, 1 kategorial Gereja Katolik (OMK).

Penyelanggara utama dari komunitas Kawal Nusantara (KAWAN) bekerjasama dengan Ansor Banten dan Bosca Training Partner. Bertempat di Kramat, Pakuhaji, Tangerang, Banten, Sabtu, 2 Maret 2019.

OMK BERNADET

OMK Bernadet

 

KAWAN adalah sebuah komunitas yang terbentuk dari para alumni sekolah Santa Ursula, Jalan Pos, Jakarta. Mereka tidak mau menggunakan nama alumni Santa Ursula karena visi dan misi mereka terus mengajarkan anak muda di Indonesia tentang indahnya Toleransi, Kebhinnekaan, dan Persaudaraan. Tidak menggunakan nama alumni Santa Ursula, karena tidak mau dianggap identik, karena tidak semua anggotanya Katolik.

Acara jambore Persaudaraan dalam Kebangsaan initargetnya ke anak muda minimal 17 tahun, ingin mengajarkan toleransi antar agama dan suku, sekaligus sosialisasi informasi pentingnya suara kita sebagai anak muda di pemilu nantinya, supaya tidak Golput, dan tentang bahayanya berita hoax.

JamboreA

“Sebelumnya di tahun 2018 ada Wisata ke Rumah Ibadat, salah satunya kunjungan teman-teman lintas agama ke Gereja Santa Bernadet yang disambut oleh Romo Lamma, CICM,” kata Kak Helen Simarmata dari KAWAN.

 Pesan dari Kak Helen Simarmata KAWAN untuk anak muda Indonesia, Indonesia ada karena keberagaman itu. Keberagaman itu indah, kaya, bukan hanya jargon semata, tetapi itu memang betul. Artinya kalau warna putih semua juga kan bosen, tetapi begitu warna-warni jadi indah. Artinya tidak bisa berkata tidak mungkin.Dengan dengan menghargai perbedaan kita akan tambah kaya,” kata Kak Helen.

IMG-20190303-WA0026

Toleransi itu, kata Kak Helen lagi, bukan tentang antar umat beragama saja, mulai dari agama sendiri masing-masing pun kita harus bertoleransi. Seperti kita umat Katolik, ada orang yang suka dengan gaya berdoa karismatik, ada yang devosinya ke Bunda Maria kuatsekali, kita kan tidak mungkin memaksa harus seperti apa gaya berdoa seseorang.

 

Teks & Foto: Carolus Wahyuntoro Aji 

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna