Rekoleksi Lansia Sukses, Tak Salah Disebut “Rekolekreasi”

1 Maret 2019
  • Bagikan ke:
Rekoleksi Lansia Sukses, Tak Salah Disebut “Rekolekreasi”

Pada hari Rabu-Kamis, 27-28 Februari 2019, Komunitas Lansia Dekenat 1 dan 2 Tangerang mengadakan Rekoleksi di Rumah Khalwat Soverdi Tugu Wacana SVD, Cisarua, Bogor. Dengan mengambil tema “Menjadi Lansia yang Berhikmat dan Bermartabat”, rekoleksi dibimbing oleh Romo Wayan Jaka Sunarya, SVD.

Peserta “rekolekreasi” itu berjumlah 48 orang dari 11 paroki. Paroki Ciledug mengirim 5 orang pengurus Lansia Simeon-Hanna, yaitu yang biasa akrab disapa Pak Marlan, Bu Tatik Marlan, Bu Agnes, Bu Henny, dan Bu Okti.

Lansia 4

Rekoleksi tersebut tak salah disebut “Rekolekreasi” karena merupakan gabungan dari rekoleksi dan rekreasi. Pada hari pertama, misalnya, setelah siang menerima materi Romo pembimbing, malam harinya ada Malam Keakraban. Para peserta yang sudah oma-opa itu pun nyanyi bersama tembang kenangan alias lagu-lagu jadul, joget bareng, bahkan ada games berhadiah. Semua larut dalam kegembiran bersama, penuh canda tawa.

Romo Wayan pada hari pertama memaparkan materi dengan topik “Menjadi Tua Itu manakjubkan” (Mazmur 90:10). Uraiannya menarik, disertai tampilan kutipan kata-kata Paus di layar, "Barang siapa memberi tempat kepada mereka yang lanjut usia, berarti memberi ruang kepada kehidupan. Barangsiapa menyambut orang lanjut usia, menyambut kehidupan."

 

Pasrah menerima kenyataan

Seluruh uraian Romo Wayan intinya mengajak para lansia untuk menerima kenyataan bahwa mereka sudah menjadi lansia. Dengan mengikuti teori ahli psikologi asal Jerman Erik Erikson, Romo Wayan memaparkan persoalan-persoalan orang lanjut usia, yang meliputi persoalan fisik, emosi, dan sosial.

Lansia Kamis2

Persoalan fisik lansia, misalnya, mudah lelah, mudah sakit, pengurangan fungsi tubuh seperti penglihatan, pendengaran, dan daya ingat. Kalau sakit, proses penyembuhannya lama.

Persoalan emosi, misalnya, sulit menerima diri menjadi lansia, tergantung pada orang lain, merasa sendiri atau kesepian karena tidak ada teman (loneliness).

Dalam kehidupan sosial, lansia juga mengalami masalah terbatasnya ruang lingkup, karena tak bisa ke mana-mana lagi seperti dulu.

Lansia juga mengalami persoalan sosial. Misalnya masyarakat kurang pedulikan mereka, menganggap lansia tidak punya gairah, dan lansia tidak boleh punya persoalan karena akan merepotkan. Lansia juga sering diidentikkan dengan rambut putih, tidak aktif, tidak punya hasrat seksual, hanya menunggu kematian. Akibat perlakuan sosial seperti ini lansia merasa disingkirkan, tidak berguna.

Retret8

Lalu bagaimana solusinya? Romo Wayan mengajak agar lansia sendiri bisa mencari solusinya. Ini tergantung sikap tanggap terhadap kenyataan tersebut karena semuanya itu adalah sesuatu yang bersifat kodrati. Yang terpenting, kata Romo Wayan, sebagai orang beriman, lansia mesti pasrah dan bersyukur menerima itu sebagai suatu kenyataan yang niscaya.

Sukses

Hari kedua, Kamis (28/2) dibuka dengan olahraga pagi bersama, mengikuti irama lagu daerah Riau, Lancang Kuning, dengan aba-aba instruktur. Tidak ada yang tidak semangat. Salah seorang ibu yang sudah sepuh bahkan ikuti senam sambil duduk di kursi sambil menggerak-gerakkan tangan.

Hari itu, setelah mendapat materi dari pembimbing, acaranya sharing tentang lansia yang berhikmat dan bermartabat.

Retret10

Pemandangan alam yang indah membuat sejumlah peserta menikmatinya sambil jalan-jalan mengirup udara segar di rumah retret itu.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan Misa Kudus pukul 13.00. Umumnya sekitar pukul 17.00 peserta sudah  sampai di rumah masing-masing. Setelah itu di grup WA Lansia Dekenat 1 dan 2 Tangerang ucapan selamat dan sukses muncul silih berganti.

Selamat untuk Komunitas Lansia Dekenat Tangerang 1 dan 2 atas suksesnya “Rekolekreasi” kali ini! Tetap semangat ya, oma dan opa!

 

Lansia 1

 

Teks: ps/YB Sumarlan/ Foto-foto: Komunitas Lansia Dekenat Tangerang 1 & 2

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna