"Berita palsu adalah pertanda sikap intoleran dan hipersensitif, dan hanya berujung pada penyebaran arogansi dan dan kebencian. Itu adalah hasil akhir dari kebohongan," kata Paus, Rabu (24/1/2018).

Pernyataan itu ada pada dokumen yang diterbitkan setelah perdebatan selama beberapa bulan soal seberapa jauh berita palsu memengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat serta pemilihan Presiden Donald Trump.

"Menyebarkan berita palsu bisa dilakukan untuk tujuan tertentu, memengaruhi keputusan politik, dan dilakukan untuk kepentingan ekonomi," kata Paus, mengecam "penggunaan media sosial secara manipulatif" dan bentuk komunikasi lainnya.

"Berita salah namun mudah dipercaya ini 'kerap mencari gara-gara' merebut perhatian orang dengan mengundang stereotipe dan prasangka sosial umum, dan mengeksploitasi emosi seketika seperti kegusaran, kebencian, kemarahan dan frustrasi," ujarnya.

Berita palsu menyebar sangat cepat sehingga bahkan bantahan otoritas kerap tidak dapat membendung kerusakan yang terjadi dan banyak orang berisiko menjadi "pembantu penyebar ide bias dan tanpa dasar secara tak sadar," kata Paus.

Dia menyerukan "edukasi kebenaran" yang bisa membantu orang-orang mengevaluasi dan memahami berita untuk mengenali "rayuan licik dan berbahaya yang merasuk ke dalam hati dengan argumen salah."

Teks: breakingnews.co.id