Peserta dengan penuh antusias dan sukacita mengikuti Retus EJ Angkatan XI.
Pada 17–18 Mei 2026, Kelompok Spiritualitas Emmaus Journey (EJ) Angkatan XI Gereja Santa Bernadet, Paroki Pinang, Kota Tangerang, menyelenggarakan Retret Perutusan (Retus) di Wisma Samadi, Klender, dengan tema “Siap Diutus dengan Hati yang Berkobar-kobar” (Luk 24:32).
Sebanyak 129 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas peserta EJ Angkatan XI, panitia, fasilitator, pengurus, serta beberapa Emauser angkatan sebelumnya yang belum sempat mengikuti Retus karena pandemi Covid-19. Hadir pula peserta dari berbagai daerah seperti Bogor, Bandung, Malang, Palembang, dan Banjarnegara yang sebelumnya mengikuti Emmaus Journey secara daring, serta sejumlah anggota Emmaus Journey Remaja (EJR).

Bp. Margo Yuwono mengajak peserta untuk berdinamika kelompok.
Retus merupakan puncak perjalanan formasi Emmaus Journey yang berlangsung selama sembilan bulan. Sebelumnya peserta telah mengikuti berbagai kegiatan, antara lain pendalaman materi, Misa Kudus, gathering, dan bakti sosial.
Acara dibuka dengan lagu Mars Emmaus Journey, dilanjutkan puji-pujian dan doa pembukaan. Ketua Panitia EJ Angkatan XI, Bapak Inov, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap seluruh peserta semakin mengalami kasih Tuhan dan siap menjalankan perutusan sebagai murid Kristus.

Peserta mengikuti Retus dengan penuh khidmad.
Meneguhkan Kembali Perjalanan Iman
Sesi awal dipandu oleh Bp Margo Yuwono (Pak Margot) yang mengajak peserta merefleksikan kembali inti sari materi Emmaus Journey yang telah dipelajari selama sembilan bulan. Suasana semakin hangat melalui berbagai aktivitas interaktif dan sharing kelompok yang membantu peserta melihat kembali karya Tuhan dalam perjalanan iman mereka.
Pada sesi berikutnya, Bp Stanislaus Prasetyo dari EJ Center mengingatkan bahwa tujuan utama Emmaus Journey adalah membangkitkan antusiasme iman melalui perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus.
Beliau merangkum perjalanan spiritualitas Emmaus Journey sebagai berikut:
-Buku 1: Menyadari kuasa Sabda Tuhan dan doa dalam realitas hidup, sehingga peserta memperbarui komitmen pribadi kepada Yesus.
-Buku 2: Menyadari bahwa iman harus terus bertumbuh sepanjang hidup dalam kasih, sukacita, dan damai sejahtera Tuhan.
-Buku 3: Menjadi murid yang diutus untuk memuridkan sesama dan menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga menekankan pentingnya dua latihan rohani yang harus terus dipelihara, yaitu komunikasi pribadi dengan Yesus melalui doa, Kitab Suci, dan jurnal rohani, serta komunikasi dalam komunitas melalui Sakramen Ekaristi.

Bp. Stanislaus M Prasetyo.
Dalam sesi tanya jawab, Pak Stanislaus membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi tugas sebagai narasumber internasional di Jerman. Ketika dalam perjalanan kereta diliputi keraguan dan rasa tidak percaya diri, ia menemukan kekuatan melalui pembacaan Kitab Suci dan jurnal rohani. Ketika seorang wanita kusut dan muram yang duduk di hadapannya bertanya apa yang dilakukannya dan Pak Stanislaus memberikan pencerahan dan sharing pengalaman iman, wanita tersebut wajahnya tidak semuram sebelumnya. Pengalaman tersebut kembali meneguhkan keyakinannya bahwa Tuhan sungguh bekerja melalui Sabda-Nya dalam situasi nyata kehidupan.
Panggilan Menuju Kekudusan
Pada sesi berikutnya, Romo Paulus Juju Junaedi, OSC, menyampaikan materi bertajuk “Panggilan Menuju Kekudusan”. Romo mengajak peserta memahami tiga panggilan dasar setiap orang yang telah dibaptis (Tria Munera Christi), yaitu sebagai Nabi, Imam, dan Raja.

Romo Paulus Juju Junaedi, OSC.
Sebagai Nabi, umat dipanggil untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi saksi Kristus melalui pewartaan maupun teladan hidup.
Sebagai Imam, umat diajak aktif menghidupi kehidupan sakramental, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat, serta mempersembahkan hidup yang kudus kepada Tuhan.
Sebagai Raja, umat dipanggil untuk melayani sesama melalui talenta dan karunia yang telah dianugerahkan Allah.
Romo menegaskan bahwa hidup kudus dijalani dengan menaati perintah Tuhan, meneladan Kristus, serta menanggalkan manusia lama agar semakin hidup sebagai manusia baru dalam Roh Kudus.
Anugerah yang Berbuah
Dalam sesi berikutnya, Romo Juju membahas tema “Anugerah yang Berbuah.” Beliau menjelaskan bahwa perutusan, panggilan, dan pelayanan merupakan anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma.
Anugerah Allah berpusat pada karya keselamatan Kristus di kayu salib. Anugerah tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga memberdayakan umat untuk hidup kudus dan menghasilkan buah-buah kasih.

Perutusan bukan ceramah tapi kehadiran bagi sesama.
Romo menekankan pentingnya bekerja sama dengan Allah (working together with God). Hal ini diwujudkan melalui kebersamaan, keterbukaan terhadap sesama, kerendahan hati menerima keterbatasan diri, serta kesediaan melihat sesama bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai sarana pertolongan Tuhan.
Agar anugerah menghasilkan buah, umat diajak untuk tetap tinggal dan melekat pada Kristus sebagai pokok anggur dengan menghidupi firman Tuhan, mengembangkan buah-buah Roh, dan mewujudkan iman melalui tindakan kasih.
Di penghujung sesi, peserta diajak berefleksi melalui pertanyaan: “Apakah dengan kehendak bebasku aku sudah membuka hati untuk mengembangkan dan membagikan anugerah dari Allah?” Refleksi ini dilanjutkan dengan simbol pembakaran kertas berisi ketakutan dan beban pribadi sebagai ungkapan penyerahan diri kepada Tuhan.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. (Yoh 15:16)
Hati yang Berkobar, Kaki yang Melangkah
Pada hari kedua, Romo Juju menyampaikan materi terakhir bertajuk “Hati yang Berkobar, Kaki yang Melangkah.” Berangkat dari kisah murid-murid Emaus, peserta diajak memahami bahwa perutusan berawal dari berjalan bersama sesama, mendengarkan, memahami luka mereka, dan menghadirkan Kristus melalui kehadiran yang nyata.
Romo menegaskan bahwa hati seorang murid harus terus dinyalakan oleh Sabda Tuhan dan dipelihara melalui perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi. Perutusan yang sejati tidak lahir dari aktivitas semata, melainkan dari relasi pribadi dengan Tuhan.
Beliau juga mengingatkan bahwa kekecewaan dan harapan duniawi sering kali menjadi penghalang dalam melihat karya Allah. Karena itu, seorang murid perlu terus mengalami transformasi agar mampu melihat hidup dari perspektif keselamatan Allah.

Setiap orang beriman dipanggil menuju kekudusan.
Sebagai pedoman praktis, Romo memperkenalkan The 3 Step Walk:
Dalam pelayanan, Romo juga menekankan tiga hal penting: Commitment, Consequence, dan Consistency. Beliau menutup sesi dengan pesan yang sangat menguatkan:
"Tuhan tidak selalu memilih orang yang SIAP untuk menjadi PELAYAN tetapi Dia selalu MENYIAPKAN orang-orang yang dipilih-Nya.

Panitia EJ Angkatan XII diperciki oleh Romo Juju, OSC.
Puncak dalam Ekaristi
Rangkaian Retret Perutusan ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Paulus Juju Junaedi, OSC.
Dalam homilinya, Romo mengajak seluruh peserta untuk meneladani cara Yesus berkomunikasi: komunikasi yang menyembuhkan, bukan menghakimi. Di tengah derasnya arus informasi, media sosial, hoaks, dan ujaran kebencian, umat Kristiani dipanggil menjadi pembawa harapan melalui kata-kata yang menguatkan, kesaksian hidup yang baik, serta kehadiran yang membawa damai.

Para juara bibliphoto.
Setelah pengumuman berbagai kegiatan dan penghargaan kelompok, seluruh peserta mengikuti foto bersama dan makan siang sebagai penutup rangkaian Retret Perutusan Emmaus Journey Angkatan XI.
Retret ini menjadi momentum bagi para peserta untuk meneguhkan kembali relasi dengan Kristus, memperbarui semangat pelayanan, dan melangkah sebagai murid yang siap diutus dengan hati yang berkobar-kobar.
Teks dan Foto: Panitia EJ XI dan TIM SKKS