Seminar G Series: Mencari Mukjizat Ekaristi

18 November 2025
  • Bagikan ke:
Seminar G Series: Mencari Mukjizat Ekaristi

Standing flyer seminar "Mencari Mukjizat Ekaristi" di Aula Sejati-Sejiwa.

“Seminar G Series adalah sebuah rangkaian kegiatan nyata dari enam seksi: Sie Kerasulan Kitab Suci, Sie Pelatihan dan Kaderisasi, Sie Pendidikan, Sie Kepemudaan, Sie Katekese dan Sie Liturgi, untuk memberikan materi-materi yang berkaitan erat untuk meningkatkan semangat serta iman umat dalam berkegiatan dan menggereja. Tujuannya agar  gereja harus dilihat tidak hanya sebagai bangunan kokoh dan indah yang berdiri tegak saja, tetapi justru sebagai sebuah semangat persatuan umat yang solid dalam iman akan kasih Tuhan kita Yesus Kristus, itu yang utama,” papar Ketua Seksi Pelatihan dan Kaderisasi yang ditunjuk menjadi ketua pelaksana seminar perdana ini, Florentina Herispuspitasari, yang akrab dipanggil mbak Heris.

“Romo Hieronimus CICM sangat mendukung sinergi kolaborasi seminar ini dan selalu aktif berdiskusi dengan panitia selama persiapan acara. Seminar ini akan dilanjutkan dengan tema-tema lain yang berkaitan dengan peningkatan semangat dan iman umat dalam hidup menggereja,” tambah mbak Heris. Sabtu (15/11) lalu di Aula Sehati Sejiwa Paroki Pinang sejak pagi sudah ramai dengan kehadiran sekitar 300an umat yang akan ikut serta seminar. Panitia pun dengan sigap menerima mereka di depan pintu masuk aula dan mengantarkan mereka ke tempat duduknya masing-masing.romo dan pesertaPAKAI_1

Romo Wenan selaku narasumber dan 300-an peserta seminar.

Eucharistia berasal dari sebuah kata kerja dalam bahasa Yunani, eucharistein yang berarti mengucap syukur. Jadi pada dasarnya Ekaristi berarti mengembalikan kesatuan kita dengan Kristus, menyatukan umat manusia dalam iman kepada Kristus,” buka Romo Albertus Adiwenanto Widyasworo, Pr, akrab dipanggil Romo Wenan, seorang pastor yang juga seorang dokter yang hadir sebagai pemateri tunggal dalam seminar ini. Beliau membawakan judul materi Mukjizat Cinta dalam Ekaristi.

“Jika kita bermaksud membawa hati dan pikiran kita yang galau atau dalam persoalan dan butuh jawaban, maka Ekaristi akan mempunyai arti sebagai sebuah proses dan pencarian mukjizat penyembuhan. Tapi jika tidak, maka saat tanda salib pembuka misa sampai pada kata Amin, maka kita biasanya sekalian nebeng menguap, hooaaa…mmiinnnn,” sergah Romo Wenan yang disambut gelak tawa hadirin yang hadir sembari manggut-manggut.

Santo Yohanes Paulus II menuangkan makna Teologi Tubuh dengan salah satu maknanya adalah manusia akan mencari kondisi original solitude atau kesendirian asali, sebuah kondisi dimana saat kita diciptakan Tuhan dalam kondisi sendirian dan istimewa sebagai gambaran rupa Allah serta memiliki nafas kehidupan Allah di dalam dirinya. Seorang manusia akan memiliki kerinduan pada sisi kesendiriannya yang masih terus terbawa sampai saat ini, di dunia modern sekarang ini.

gelapPAKAI_2

Romo Wenan memaparkan materi seminar.

“Seorang manusia akan merindukan kondisi kesendirian ini pada saat ia memiliki atau terlibat dalam sebuah persoalan hidup. Ia akan berusaha menyendiri dan menjauh dari rutinitas kehidupannya sehari-hari, dan salah satu kondisi tersebut dapat ditemukan dalam Ekaristi, saat dimana kita hadir dan menyendiri untuk bersatu dengan Allah sebagai pencipta manusia,” papar Romo Wenan.

Bersatunya manusia dengan Allah semestinya bersatu dalam segala hal, di dalam semua aspek kehidupan. Hal ini disebabkan karena Tuhan telah berfirman dalam kitab Yeremia 29:11, “Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, yaitu rancangan-rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Janji Tuhan tersebut mewajibkan kita untuk tetap menjaga kekudusan diri kita bagi Tuhan karena Tuhan telah memilih manusia bahkan sejak sebelum dunia dijadikan agar manusia hidup dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan, seperti yang disebutkan dalam Efesus 1:4. “Akan tetapi manusia selalu terdistraksi (terpecah perhatiannya, red) oleh hal-hal keduniawian yang menghilangkan kekudusan manusia seperti mencari uang, membesarkan anak, mengurus orang tua dan sebagainya. Hal inilah yang kadang dapat mendatangkan dosa pada manusia,” jelas Romo Wenan melanjutkan.

pesertaPAKAI_2

Narasumber dan peserta dalam suasana doa.

“Dan untuk benar-benar masuk dalam suasana kesendirian asali di dalam Ekaristi inilah manusia perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Maka Tata Perayaan Ekaristi selalu didahului dengan Ritus Pertobatan. Dalam kondisi hati yang remuk redam dan berdosa inilah maka dengan pengakuan dalam Doa Tobat di awal misa, kita bisa mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan-Nya sehingga kita bisa melanjutkan misa secara lebih baik dan hati yang mantap,” tambahnya.

Di bagian berikutnya dalam misa berupa Madah Kemuliaan, kita disadarkan untuk selalu memuji dan memuliakan nama Tuhan, terutama kepada Yesus Kristus. ”Di dalam madah tersebut jelas disebutkan soal Tri Tunggal yang Maha Kudus, Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Tetapi bagian yang terbanyak adalah Allah Putera yakni Yesus Kristus,” ungkap Romo Wenan kemudian.

Di dalam bagian berikutnya berupa Liturgi Sabda, sepanjang kita meletakkan hati kita dengan keterbukaan penuh dalam Perayaan Ekaristi, maka Tuhan akan bersabda pada kita melalui bacaan pertama, bacaan kedua, dan bacaan Injil. “Hati dan pikiran kita harus terbuka menerima sabda Tuhan agar dapat benar-benar kita renungkan. Tentunya kemudian pada saat homili, di situlah saatnya Imam akan berbagi soal mukjizat dan karya Tuhan pada hidup kita, yang mereka alami atau dengar. Makanya jangan mengobrol atau malah ketiduran,” papar Romo Wenan disambut tawa para hadirin.

ohieronPAKAi_2

Romo Hieron terlibat dalam obrolan dengan peserta.

“Syahadat Para Rasul adalah rangkuman iman yang kita yakini dan hayati, wajib disebutkan dengan sepenuh hati. Dilanjutkan dengan Doa Umat yang mewakili doa kita semua untuk segala hal yang merisaukan kita dan butuh solusi dari Tuhan. Ini doa bersama yang benar-benar dapat menghadirkan Yesus Kristus di dalam persekutuan iman kita, sesuai janjiNya,” tegas Romo Wenan.

“Pada saat Persembahan, Santo Yohanes Maria Vianey mengungkapkan bahwa di situlah saatnya malaikat pelindung kita berdiri di sisi kita dan membawa persembahan kita ke hadapan altar Tuhan. Dilanjutkan dengan Doa Syukur Agung yang memuat banyak doa dahsyat karena kita diajak untuk mempersiapkan pujian bersama-sama dengan malaikat dalam doa Kudus yang biasanya dinyanyikan,” jelas Romo Wenan dengan bersemangat. Para hadirin yang mendengarkan tidak sempat mengantuk karena pemaparan materi romo benar-benar runut dan jelas.

“Pada saat Konsekrasi, di situlah saat dimana mukjizat terbesar terjadi, Yesus hadir dalam rupa roti dan anggur. Itulah dasar misteri iman kita yang dituangkan Santo Yohanes Paulus II dalam dokumen ”Ecclesia de Eucharistia”, Kristus sungguh hadir, hidup dan nyata. Sesudah itu ditutup dengan doa imam untuk secara khusus dan rinci memuji dan memuliakan Tri Tunggal Maha Kudus,” ungkap Romo Wenan kemudian.

bulitaaPAKAI_1

Romo Albertus Adiwenanto Widyasworo, Pr, menerima tanda ucapan terima kasih dari panitia, didampingi Ketua SKKS Priscilla Lita Noviana dan Korbid Peribadatan Yulianus Sunarya.

“Dilanjutkan dengan doa Bapa Kami yang disertai dengan doa embolisme, ’Tuhan bebaskan kami dari segala...’ yang mendoakan kita agar ’terbebas dari segala yang jahat, memberi damai sepanjang hidup, supaya kita yang telah dikuatkan oleh kelimpahan belas kasih-Nya selalu bebas dari dosa, dan dijauhkan dari segala gangguan, sambil menantikan harapan yang membahagiakan dan kedatangan Penyelamat kita, Yesus Kristus,” tegasnya.

Bagian berikutnya adalah Pemecahan Roti dimana kesadaran akan tujuan hidup abadi didoakan oleh imam, dilanjutkan doa Anak Domba Allah sebagai doa permohonan pada belas kasihNya. “Lalu pada saat imam mengatakan: Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang dalam perjamuanNya, kita meyakini ketidakpantasan kita dan pengakuan iman bahwa dengan Tuhan bersabda saja maka kita sembuh,” lanjut Romo Wenan pada para hadirin.

suasanaPKAI_1

Sebagian peserta seminar G Series di Aula Sehati-Sejiwa.

“Menerima komuni suci berarti menerima Kristus di dalam diri kita dan menjadikan diri kita sebagai tabernakelNya yang suci. Lalu setelah pengumuman akan dilanjutkan pada berkat penutup misa, pergilah dengan hati damai karena Perayaan Ekaristi sudah usai,” jelas romo kemudian. “Nah, apakah benar kita bisa pulang dengan hati damai saat kita berhadapan dengan parkiran yang mengantre panjang atau saat antre membeli jajanan di UMKM?” tanya Romo Wenas yang disambut dengan senyum kecil para hadirin.

“Kita minta kepada Tuhan kita agar makin jatuh cinta kepada Tuhan pada saat kita merayakan Ekaristi sebagai momen terindah pada saat kita mengambil Tubuh dan Darah Yesus,” tutup Romo Wenas dengan tersenyum.

Ditambah pesan sponsor dari panitia, ditunggu partisipasi umat pada seminar-seminar berikutnya. (tots)

panitiaPAKAI_1

Panitia seminar foto bareng Romo Wenan.

Foto-foto: Panitia


Artikel ini bisa dibaca di Google dengan mengetik kata kunci Gereja Santa Bernadet, scroll ke bawah klik Santabernadet.

Klik ikon GEREJA SANTA BERNADET (kiri atas) untuk melihat artikel-artikel lainnya.

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna