Romo Ignas Pun Pelanggan OPTIK KITA (Entrepreneur Katolik-1)

12 November 2025
  • Bagikan ke:
Romo Ignas Pun Pelanggan OPTIK KITA (Entrepreneur Katolik-1)

Romo Ignasius Sudaryanto CICM di OPTIK KITA, Minggu, 5 Oktober 2025.

Romo Ignatius Sudaryanto CICM datang ke OPTIK KITA Graharaya, diantar dua orang ibu dan seorang driver, Minggu siang, 5 Oktober 2025. Di depan pintu masuk pastor itu berseloroh, ”Saya mau bikin kacamata untuk selfie...”

Memasuki optik Romo Ignas disambut sapaan ramah seorang karyawati berkerudung, “Selamat datang, Romo.” Sapaan ini menyiratkan bahwa kedatangan Romo Ignas ke optik itu bukan untuk yang pertama kalinya.

Sambil duduk di ruang ber-AC itu Romo Ignas menyapu-pandang display kacamata berbagai model dan ukuran yang tertata rapi dalam lemari kaca di depannya. Sesekali ia mengamati lemari kaca berisi berbagai kacamata serta produk optik lainnya di bagian dinding belakang dengan mata menyelidik.

“Saya mau selfie di Cibodas,” tiba-tiba Romo Ignas nyeletuk, memancing tawa orang-orang di sekitarnya. Pastor Rekan Paroki Pinang itu memang terdaftar sebagai peserta Rekreasi Sehat BEP Sanberna yang diadakan 24 Oktober 2025.

Gayanya romo ignas di Cibodas OAKAITulisan 1_1

Gaya Romo Ignas dalam acara Rekreasi Sehat BEP Sanberna di Kebon Raya Cibodas, 24 Oktober 2025.

Ketika sore harinya pemilik optik tersebut ditanya lewat WA apakah Romo Ignas adalah pelanggan OPTIK KITA, dia menjawab, ”Iya. Romo Matius juga...” Maksudnya Romo Matius Pawai CICM Pastor Kepala Paroki Pinang.

Cabang ke-4

Owner atau pemilik optik dengan ikon mata yang di bagian pupilnya terdapat lettermark OK itu adalah Ignasius Trisno Kambali (64), salah satu entrepreneur katolik yang juga seorang Katekis, Prodiakon, dan Pewarta dari Wilayah Hubertus Paroki Pinang.

Optik di Ruko Melia Walk Graharaya Blok MD-A No 2 yang menempati lantai 1 dari ruko tiga lantai itu adalah cabang ke-4 yang dibuka Mei 2023. Dua lainnya di Plaza Baru Ciledug, dibuka tahun 2002 pasca-kerusuhan Mei 1998 dan 2017. Satu lagi di CBD Ciledug Mall dibuka tahun 2007.

Optik tampak depan alternatifTULISAN 1 PAKAI_1

OPTIK KITA di ruko 3 lantai Melia Walk Graharaya, cafe ada di lantai 3.

Lantai 2 dijadikan ruang pertemuan plus perpustakaan. Koleksi bukunya 1.000 lebih dengan genre fiksi maupun non-fiksi. Ada serial cerita silat klasik Kho Ping Hoo, sastra Peranakan Tionghoa, kisah-kisah nyata inspiratif Chicken Soup for The Soul, novel, komik lama, sampai komik Kitab Suci untuk anak-anak.

Ada juga majalah politik berideologi Marhaenisme, Fikiran Ra’jat, yang hanya sempat terbit setahun (1932-1933) karena dibreidel pemerintah kolonial. Edisi lengkap setahun itu dibeli dari seorang kolektor buku kuno yang butuh duit. ”Semua buku ini saya bawa sendiri dari rumah di Ciledug Indah,” kata Pak Trisno yang ditemui Sabtu malam sebelumnya, 4 Oktober. Ia hafal di rak mana letak buku apa.

Lantai 2 juga dilengkapi meja-kursi dan Smart TV 65 inch yang bisa digunakan untuk rapat atau makan-minum. ”Bisa disewa, TV bisa dipakai. Sementara belum ada tarif kecuali makan dan minum,” katanya.

PakTrisno lantai2 anyarTulisan1 PAKAI_1

Lantai 2 adalah ruang pertemuan dan perpustakaan (kiri). Pak Trisno Kambali (kanan). 

Sejumlah lukisan menghiasi dinding. Bukan sekadar hiasan dekoratif, karena Pak Trisno fasih menjelaskan makna tiap lukisan yang masing-masing punya ceritanya sendiri, misalnya lukisan Pohon Uang sebagai gambaran sukses finansial dan pertumbuhan kekayaan terus-menerus.

Ada juga hiasan-hiasan bertuliskan kata-kata motivasi atau inspirasi, misalnya: Salesmanship: Opportunity Seldom Comes Knocking At Your Door, You Must Find It; Atau: Everyone Makes Mestakes But You Must: 1. Admit The Mistake, 2. Learn from it, and 3. Don’t repeat it.

“Semua hiasan yang saya pasang di sini profan, tidak sakral,” kata Pak Trisno. Dia juga sempat bilang, “Saya ini bukan orang religius.” Seakan dia sedang mengungkapkan sisi lain dirinya yang selama ini dikenal sebagai pelayan aktif Gereja dan sebagai Pewarta yang siap diutus ke mana saja.

Pohon emasTulisan 1 PAKAI_1

Pak Trisno Kambai dan lukisan-lukisan Pohon Uang di lantai 2.

Sementara itu lantai 3 dijadikan cafe. Lantai ini dikelilingi jaringan atau kisi-kisi besi-baja yang digantungi pot-pot tumbuh-tumbuhan hidup, menghadirkan suasana hijau dan sejuk alami. Maka meski tidak ber-AC seperti lantai 1 dan 2, di lantai 3 udara bebas berembus keluar masuk. Orang bisa pesan chinese tea, teh poci, kopi, mie instan, dan berbagai camilan macam singkong, misro atau combro di smoking area ini.

“Sekarang pengelolaan optik saya serahin ke anak-anak karena saya sudah berumur,” kata Pak Trisno. Dari keempat anaknya, anak laki-laki pertama dan kedua lulusan Jurusan Animasi School of Design, Program Studi DKV Binus. Keduanya sudah berkeluarga dan masing-masing sudah punya anak. Anak ketiga perempuan, dokter lulusan FK UAJ Jakarta. Satu lagi keempat lulusan sekolah bisnis di Singapura.

Namun alasan menyerahkan optik ke anak-anak sebenarnya bukan hanya masalah umur, melainkan juga karena ada bisnis lain yang perlu perhatiannya, yaitu perusahaan importir alat-alat kesehatan mata yang dibuat bersama temannya, jadi Pak Trisno tidak terlibat secara operasional harian di optik.

lantai 3 siang malamTulisan 1 PAKAI - Copy_1

Suasana lantai 3 siang hari dan malam hari (Insert). 

Ada seninya

Apakah optik merupakan bisnis yang menjanjikan? ”Buat dagang oke, buat menghasilkan uang oke, masalahnya optik itu ada seninya. Seninya itu, ketika orang memutuskan untuk membuka optik, paling tidak ada 2 tahun harus berani tidak makan dari situ. Kalau enggak, optik ya masih bisa hidup tapi tidak akan berkembang, gitu-gitu aja, enggak ke mana-mana, karena hasilnya buat makan juga. Itu persoalannya,” kata Pak Trisno.

Dua tahun adalah masa perkenalan, katanya. Orang datang ke optik tidak seperti orang beli jajanan yang datang beli dan datang lagi beli lagi. Datang ke optik juga belum tentu beli. Kalaupun beli kacamata, baru beli lagi setengah tahun, setahun, atau dua tahun lagi. ”Karena itulah, selama 2 tahun itu kita bangun networking (jejaring),” tegasnya.

”Aku sendiri punya prinsip bukan cari Pembeli, tapi cari Pelanggan. Kalau cari Pembeli bukalah toko seperti di ITC pusat perbelanjaan, pasar. Pembeli itu hit and run, balik atau nggak, tipu atau nggak, itu urusan lain. Belum tentu balik lagi. Yang penting aku jual...jual...jual! Tetapi kalau cari Pelanggan buka tokonya seperti Butik. Cari Pelanggan yang balik lagi. Maka harus loyal, tidak menipu, dan yang penting bukan menjual dan menjual tetapi memuaskan dan memuaskan pelanggan. Puaskan...puaskan...puaskan! Kepuasan yang penting. Saya gunakan strategi pemasaran MLM, Mulut Lewat Mulut, ” kata Pak Trisno sambil tersenyum.

Fatima 14 23 wkt stmptTULISAN 1 PAKAI_1

Pak Trisno bersama isteri, Bu Mike Yani, tengah berziarah ke Fatima, Portugal, ketika membalas percakapan WhatsApp, Rabu, 15 Oktober. (dok pri)

Ketika maksud hal tersebut dikonfirmasi ulang beberapa hari kemudian lewat WA Pak Trisno membalas, ”Itu perbedaan prinsip marketing. Pembeli tidak sama dengan Pelanggan. Pembeli hanya sekali-sekali datang, sedang Pelanggan berkali-kali dan jadi referensi kita.” Balasan itu Pak Trisno sampaikan ketika ia tengah berada di Fatima, Portugal, untuk berziarah, Rabu, 15 Oktober, pukul 06.32 waktu setempat atau 12.32 WIB.

Dunia optik mulai Pak Trisno pelajari sejak 43 tahun lalu setelah ia meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di Jakarta, dua tahun sesudah peluangnya kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka kandas karena orangtuanya tidak sanggup membiayainya. Padahal dia termasuk siswa berprestasi. (bersambung)

gabung teko daftar hargaTULISAN 1 PAKAI_1

Cafe KITA ngoopi Yuk menyediakan berbagai makanan dan minuman, lengkap dengan daftar harganya.


Teks/Foto: ps/Arya/Adv

Artikel ini bisa dibaca di Google dengan mengetik kata kunci Gereja Santa Bernadet, lalu klik Santabernadet.

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna