Flyer Seminar Doa Rosario Maria.
Pada hari Sabtu, 18 Oktober 2025, PDPKK Yoselina dan PDPKK Santa Bernadet menyelenggarakan Seminar bertajuk: ”Doa Rosario Maria: Apakah Sebuah Mantra Kristiani?” Dihadiri oleh 306 peserta, termasuk yang datang dari 12 Paroki, seminar berlangsung di Aula Sehati-Sejiwa.

Seminar diikuti 306 peserta.
Acara tersebut menghadirkan narasumber Romo Albertus Purnomo OFM, Ketua Lembaga Biblika Indonesia, dosen STF Driyarkara, KPKS, dan penulis buku yang produktif. Berikut ini rangkuman pemaparannya.
Bulan Oktober menurut tradisi gereja dikenal sebagai bulan Rosario, dimana pada bulan tersebut biasa dilakukan ritual doa devosi Rosario di komunitas-komunitas umat Katolik seperti di lingkungan, wilayah, maupun komunitas kategorial lainnya.
Mengapa bulan Oktober disebut sebagai Bulan Rosario? Hal itu karena terkait dengan Pertempuran Lepanto dimana armada tentara Liga Suci Katolik Eropa menghadapi serbuan tentara Kesultanan Utsmaniyah pada 7 Oktober 1571. Paus Pius V lalu menyerukan seluruh umat Katolik di dunia untuk melakukan doa Rosario dan akhirnya pasukan Kristen walau kalah jumlah tetapi dapat memenangkan pertempuran tersebut. Sebagai peringatan, Paus Pius V menetapkan hari raya untuk menghormati Bunda Maria Penakluk pada tanggal tersebut.
Kemenangan besar ini kemudian dipercaya didapatkan dengan perantaraan Bunda Maria. Dan sebagai penghormatan, Paus Gregorius XIII menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Kemudian, Paus Leo XIII secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Rosario pada tahun 1883 untuk mendorong umat berdoa Rosario setiap hari di bulan tersebut dengan intensi utama mendoakan pertobatan dan perdamaian bagi umat manusia di dunia.

Narasumber, Romo Albertus Purnomo, OFM.
Pada bad ke-3 Masehi, Rosario memiliki akar dalam beberapa tradisi doa Kristen awal. Tradisi-tradisi ini memiliki format yang serupa dengan Rosario sekarang ini, yang mencakup struktur berulang dari doa-doa yang berakar pada Kitab Suci. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai kesadaran yang terus-menerus akan kehadiran Allah dan hubungan yang mendalam dengan Kristus melalui pengulangan doa dengan pemanggilan namaNya. Para pertapa dan biarawan Kristen di Mesir pada masa ini (yang dikenal sebagai Bapa - Bapa Gurun) menggunakan batu yang kemudian dirangkai dengan tali doa untuk menghitung saat mengucapkan seratus lima puluh kali ayat Mazmur.
Santa Bernadet Soubirous.
Kemudian berbagai bentuk kalimat “Doa Yesus”, seperti “Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah aku ”, menjadi populer. Doa pendek ini diulang-ulang seperti mantra sambil menghitung manik-manik yang terangkai. Doa Bapa Kami juga diucapkan 150 kali dan dihitung menggunakan tali manik-manik dalam lima dekade (lima dikali sepuluh manik-manik).
Awal abad ke-12, mengikuti tradisi kuno doa berulang ini, Santo Alvery mulai memperkenalkan pengucapan 150 kali doa Salam Maria setiap hari. Dia juga berlutut dengan lutut kanan menyentuh tanah untuk seratus doa di antaranya dan berbaring telungkup dengan dada menyentuh tanah untuk lima puluh doa yang terakhir.

St Dominikus, pendiri Ordo Dominikan.
Pada tahun 1214, Santo Dominikus, pendiri Ordo Dominikan, menerima penglihatan dari Bunda Maria, yang memberitahunya tentang Rosario dan bahkan memperlihatkan kepadanya sepasang untaian manik-manik Rosario. Peristiwa inilah yang membuat Santo Dominikus menjadikan penyebaran Rosario sebagai misinya di manapun ia pergi. Ia mendorong umat Katolik awam untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk berdoa Rosario versi awal secara bersama-sama.
Awal abad ke-14, Dominikus dari Prusia, seorang Rahib Ordo Carthusian, mengembangkan Misteri Sukacita, Kemuliaan, dan Kesedihan dalam Doa Rosario, dengan memusatkan setiap dasawarsa doa pada peristiwa dalam kehidupan Yesus dan Maria. Doa ini membebaskan imajinasi spiritual umat untuk merenungkan momen-momen penting dalam Injil.

Paus Pius V.
Selama kepemimpinan Paus Pius V, Lesultanan Turki Utsmaniyah menjadi ancaman serius bagi negara-negara Kristen. Pada tanggal 7 Oktober 1571, sebuah armada besar yang terdiri dari 120.000 tentara Utsmaniyah mendekati pantai Yunani dan bersiap untuk menyerang. Pada hari yang sama, Persaudaraan Rosario Roma sedang berkumpul untuk berdoa dan diarahkan menjadi doa demi kemenangan pasukan Kristen. Peristiwa kemenangan armada Kristen inilah yang lalu disebut sebagai peristiwa Pertempuran Lepanto. Dan kemudian pada tahun 1597, penggunaan istilah “Rosario” pertama kali tercatat dalam publikasi.

St Louis de Monfort.
Pada awal abad ke-18, Santo Louis de Montfort, seorang imam Katolik yang begitu mencintai Maria dan Rosario, mendorong umat Katolik untuk mengkuduskan diri kepada Yesus melalui Bunda Maria. Ia menulis beberapa karya spiritual klasik, termasuk buku True Devotion to the Blessed Virgin, buku The Secret of the Rosary, dan buku The Secret of Mary. Karya –karya masterpiece ini merupakan beberapa karya awal Gereja yang menggabungkan studi tentang Maria (Mariologi) dengan studi tentang Allah (Teologi). Karya-karya Santo Louis de Montfort telah menginspirasi umat untuk mengenal dan mencintai Maria dan Yesus.

Penampakan Maria di Fatima 1917.
Maria menampakkan diri kepada tiga anak gembala di Fatima, Portugal pada tahun 1917 dan memberikan mereka banyak pesan, termasuk ajakan untuk berdoa Rosario setiap hari demi perdamaian dunia. Ia mengajak mereka untuk menambahkan doa pendek pada setiap dasa berupa kalimat “Ya Yesusku, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, dan bawalah semua jiwa ke surga, terutama mereka yang paling membutuhkan rahmatMu”. Doa pembaharuan ini lalu disebut sebagai Doa Fatima.

Paus Yohanes Paulus II.
Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2002 menetapkan Misteri Terang yang berfokus pada momen- momen epik dalam kehidupan Yesus ketika keilahianNya terwujud dalam aktivitas manusia biasa. Ia juga menamai periode Oktober 2002 hingga Oktober 2003 sebagai Tahun Rosario untuk menyebarkan devosi Rosario ke seluruh dunia. Kini kita sebagai umat Katolik sudah terbiasa melakukan doa Rosario dalam setiap kesempatan di kehidupan kita sehari-hari.
Mendaraskan doa secara berulang-ulang menjadikan sebuah pemikiran yang timbul di benak kita, apakah doa tersebut adalah doa mantra? Doa mantra sendiri sering disebut doa hati. Ciri khas doa mantra ini adalah terdiri dari kalimat pendek dengan sedikit kata-kata dan disebutkan berulang-ulang. Doa Rosario adalah sebuah doa yang bentuk luarnya berasal dari pengulangan doa mantra Kristen. Hal i ni menghubungkan mereka yang berdoa Rosario dengan semua saudara dan saudari mereka dalam tradisi doa lain yang juga menggunakan doa mantra, dimana kita ketahui tradisi doa mantra ini juga berkaitan dengan penggunaan untaian manik-manik. Manik-manik Rosario Kristiani sendiri juga sangat mungkin terinspirasi dari manik-manik doa muslim yang dibawa kembali oleh para prajurit Perang Salib dari Timur Tengah. Faktanya selain muslim, pemeluk agama kuno lainnya juga sudah memiliki tradisi manik-manik doa ini sejak lama.
Kembali ke hal mengenai doa mantra, pengulangan doa di dalam Rosario sendiri lebih adri sekedar mengulang doa tetapi juga menjadi sarana yang bertujuan untuk mencapai kesadaran yang terus-menerus akan kehadiran Allah dan menyadari hubungan yang mendalam dengan Kristus melalui pengulangan doa dengan pemanggilan namaNya. Lebih dari sekedar pengulangan, doa Rosario menenangkan pikiran dan hati, sebagai sebuah bentuk meditasi untuk masuk dalam tema-tema yang didoakan. Setiap sepuluh doa didedikasikan untuk
satu tema misteri sebagai sewbuah peristiwa penting dalam kehidupan Kristus dan Bunda Maria, yang membantu kita untuk memusatkan perhatian spiritual saat berdoa.

Manik-manik.
Manik - manik doa memiliki peran penting dalam doa Kristiani sebagai alat taktis untuk membantu kita fokus untuk mengatur dan memperdalam doa melalui meditasi. Gerakan berulang itu menghasilkan sebuah ritme penggunaan manik-manik dapat yang membawa kita ke keadaan yang lebih kontemplatif dan memungkinkan refleksi yang lebih mendalam terhadap kitab suci atau spiritual.
Rosario Limapuluhan (Rosario Dominikan): bentuk yang paling umum, terdiri dari satu salib dan rangkaian 59 butir manik yang dibagi menjadi lima bagian masing- masing berisi 10 butir. Rosario ini digunakan untuk merenungkan Misteri Gembira, Misteri Sedih, Misteri Mulia,dan Misteri Terang.

Rosario Lima puluhan (Rosario Dominikan).
Kaplet Kerahiman Ilahi: Rosario ini menggunakan manik- manik yang sama dengan rosario limapuluhan, tetapi memiliki doa-doa yang berbeda yang disampaikan oleh Yesus kepada Santa Faustina Kowalska.

Santa Faustina Kowalska.

Corona Franciscana
Corona Franciscana atau Mahkota Fransiskan: salah satu bentuk rosario khusus dalam tradisi Katolik yang b erfokus pada perenungan tujuh sukacita Bunda Maria. Doa ini berbeda dari rosario tradisional yang memiliki lima peristiwa karena Corona Franciscana terdiri dari
tujuh dekade rangkaian 10 butir manik-manik. Tujuh sukacita Maria adalah: Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, Maria mengunjungi Elisabet, Yesus dilahirkan di Betlehem, Yesus disembah oleh para Majus,Yesus ditemukan di Bait Allah,Yesus menampakkan diri kepada Maria setelah kebangkitanNya, Maria diangkat ke surga dan dimahkotai sebagai Ratu Surga.

Servite Rosary (Rosario tujuh Kedukaan)
Servite Rosary (Rosario Tujuh Kedukaan): Rosario i ni terdiri dari tujuh rangkaian manik-manik yang masing-masing berisi tujuh butir, yang digunakan untuk merenungkan Tujuh Kesedihan Maria.

Rosario misi
Rosario Misi: diciptakan oleh Uskup Agung Fulton Sheen, rosario ini memiliki lima kali sepuluh manik -manik berwarna berbeda dengan setiap warna mewakili sebuah benua untuk mendorong umat berdoa bagi seluruh dunia.

Rosario Brigittine
Rosario Brigittine: dibuat dan disebarkan oleh Bridget dari Swedia yang memiliki enam kali sepuluh untaian manik dan serangkaian misteri yang unik.
Dirangkum dari materi Seminar Rosario tangghal 18 Oktober 2025 yang dibawakan oleh Rm Albertus Purnomo OFM, Ketua Lembaga Biblika Indonesia (tots)
Foto-foto: Margaretha Sylvia/Ilustrasi: Materi Rm Alb Purnomo, OFM