Undangan Gathering EJ Angkatan XI.
Sabtu, 4 Oktober 2025, di Aula Sehati Sejiwa Gereja Santa Bernadet Paroki Pinang, diselenggarakan acara Gathering Emmaus Journey Angkatan XI dengan tema: “Memberikan Hati, Pikiran, dan Waktu Sepenuhnya untuk Tuhan”, pukul 08.15-13.30.
Ini kegiatan rutin pada setiap akhir buku 1 dalam tiap angkatan. Dipandu MC Ibu Endang dan Ibu Nani, acara dihadiri 128 orang: 57 peserta onsite, 34 fasilitator, 29 Panitia, 11 Emmasuer, 8 peserta online. Hadir juga peserta dari luar kota 3 orang. Secara keseluruhan gathering berjalan lancar dan penuh sukacita.

Rm Matius membuka dan memberkati Gathering EJ Angkatan XI.
Mengawali acara peserta menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Lagu Mars Emmaus Journey. Setelah itu doa pembuka dipimpin oleh ibu Santi, Emmauser angkatan X, dilanjutkan dengan berkat oleh Pastor Kepala Paroki Pinang Romo Matius Pawai CICM.
Dalam sambutannya Romo Matius memberikan semangat kepada seluruh peserta agar tidak mundur dan terus berjalan bersama. Beliau berharap agar para Emmauser membuka hati, membuka pikiran dan memberikan waktu untuk terlibat dalam pelayanan dan pengabdian di Gereja. Emmauser juga diminta untuk selalu siap dipakai oleh Tuhan.
Untuk menyegarkan suasana, Mbak Rauvy dan tim memandu dengan menyanyikan lagu-lagu pujian, diiringi musik oleh Bapak Collin, disertai gerakan penuh semangat, membuat peserta penuh sukacita dan suasana semakin meriah.

Testimoni pasutri Bp Sapta-Ibu Shinta.
Selanjutnya sesi sharing. Pasangan suami istri Bapak Sapta-Ibu Shinta membagikan pengalamannya terkait keikutsertaan mereka dalam kegiatan spiritualitas Katolik Emmaus Journey Angkatan XI. Terungkap bahwa sekitar 3 tahun lalu mereka diajak temannya untuk mengikuti EJ, namun mereka tidak mau. Dan saat inilah waktu yang tepat untuk mengikuti.
Ibu Shinta mengungkap bahwa setelah mengikuti EJ, hati merasa senang, nyaman dan sukacita. Sementara Bapak Sapta menyatakan bahwa dengan mengikuti pembelajaran EJ ia merasa dekat dengan teman-teman kelompoknya bahkan merasa seperti keluarga. Pada awalnya merasa sedikit kesulitan tapi berkat tuntunan Roh Kudus kesulitan dapat diatasi dengan baik. Bapak Sapta, bersaksi bahwa berkat membaca Kitab Suci setiap hari, cara pandang dalam menghadapi persoalan berubah. Sementara menurut Ibu Shinta, Kitab Suci merupakan surat cinta dari Tuhan.
Peserta angkatan XI lainnya, Kak Benedicta, juga membagikan pengalamannya dalam mengikuti EJ. Ia bercerita bahwa setelah mengikuti pembelajaran EJ merasa damai dan lebih bersyukur. Lika liku hidup yang semula dirasa berat kini menjadi lebih ringan. Melalui Kitab Suci, Firman Tuhan memberikan motivasi dan pengharapan. Semula mengikuti EJ hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi sekarang ingin mengikuti dengan sungguh-sungguh hingga tuntas. Kak Bene mengajak rekan-rekan angkatan XI untuk mengikuti hingga selesai.

Testimoni Kak Benedicta.
Setelah mendengarkan sharing peserta baru, Inovi Isdiyantoro selaku ketua panitia EJ angkatan XI, menyampaikan sambutan singkat. Ia menjelaskan kegiatan sesi berikutnya berupa games, dimana peserta akan bergerak dari pos satu ke pos yang lain secara berkelompok. Inilah yang membedakan dengan gathering–gathering sebelumnya, dimana sesi satu berupa games yang tetap mengandung nilai-nilai Kitab Suci dan bahan pengajaran buku satu.
Seusai penjelasan, peserta dibagi menjadi 6 kelompok. Masing- masing kelompok terdiri dari 10 peserta. Kelompok dengan anggota kurang dari 10 digenapi oleh fasilitator atau panitia. Sementara itu, di tiap pos sudah siap 2 permainan.
Kelompok satu dan kelompok dua memulai games di pos 1 yang posisinya berada di pojok ruang Aula Sehati Sejiwa. Kelompok 3 dan kelompok 4 langsung ke Pos 2 di Ruang Manuel, sedangkan kelompok 5 dan kelompok 6 menuju ke pos 3 di Balai Bernadet. Setiap kelompok wajib membuat yel-yel, dan dinilai oleh panitia.

Dinamika kelompok permainan di pos 1.
Di pos 1 permainan berupa: Berdirikan paku dan estafet karet. Sebelum mulai, tiap kelompok menampilkan yel-yel. Setelah panitia (Ibu Heris) menjelaskan aturan permainan, para peserta segera melaksanakan tugas, yaitu menyusun paku. Seluruh anggota kelompok tampak antusias menyusun paku. Sayangnya, hingga akhir tidak ada kelompok yang berhasil.
Pada permainan kedua, estafet karet gelang, seluruh peserta mengikuti secara aktif dan berusaha memindahkan sebanyak mungkin karet. Peserta yang mengumpulkan karet terbanyak dinyatakan sebagai pemenang.
Setelah menyelesaikan tugas di pos satu, kedua kelompok menuju ke pos dua di ruang Manuel. Sesampainya di sana mereka disambut oleh Bapak Margot yang telah siap dengan segala perlengkapan yang diperlukan. Setelah menampilkan yel-yel, kepada peserta dijelaskan tentang jenis dan cara bermain.

Dinamika kelompok permainan di pos 2.
Dua jenis permainan di sini adalah: “Lepas aku tali rafia” dan “bujur sangkar”. Permainan pertama dimulai, yaitu melepaskan tali rafia yang diikatkan di kedua pergelangan tangan masing-masing secara berpasangan tanpa menggunakan jari-jari tangan. Ada beberapa peserta yang berhasil melepas. Para peserta sangat antusias sampai-sampai ada yang berguling di lantai. Setelah waktu yang tersedia habis, dilanjutkan permainan kedua, yaitu menyusun puzzle kertas untuk membentuk dua bujur sangkar yang sama persis. Sayangnya tidak ada kelompok yang berhasil menyelesaikan tugas ini. Ketika waktu sudah habis, peserta kembali menampilkan yel-yel lalu meninggalkan ruangan menuju ke pos 3, yaitu di Balai Bernadet. ‘
Di Pos 3 permainannya adalah “Gambar berantai” dan “Puzzle T”, dipandu oleh Ibu Nadia. Permainan pertama adalah “Gambar berantai” dengan tiap kelompok diberi kesempatan dua kali memainkannya. Lima menit pertama tidak boleh bersuara. Tiap peserta menggoreskan garis pada lembar kertas dengan spidol, dilanjutkan peserta kedua, ketiga, dan seterusnya, garis yang dibuat tidak boleh putus, jadi harus tersambung dengan garis yang telah dibuat peserta sebelumnya. Setelah lima menit gambar dikumpulkan. Lalu dilanjutkan dengan lima menit kedua, mereka boleh bersuara/berkomunikasi untuk menentukan garis yang akan dibuat untuk membuat bentuk tertentu. Setelah selesai, gambar dikumpulkan. Kedua gambar yang telah dibuat kemudian dibandingkan.

Dinamika kelompok permainan di pos 3.
Dilanjutkan dengan permainan terakhir adalah “puzzle huruf T”. Para peserta menunjukkan kerja sama secara kompak menyusun potongan kertas. Setelah berhasil, peserta sangat puas dan bersukacita.
Setelah menyelesaikan permainan di ketiga pos, peserta kembali berkumpul di aula untuk beristirahat sejenak sambil menikmati hidangan kudapan yang tersedia. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi kelompok terkait dengan nilai-nilai dari tiap-tiap permainan dan dihubungkan dengan materi buku 1. Setiap peserta aktif mengungkapkan pendapatnya di kelompok masing-masing. Jawaban yang telah ditulis disampaikan pada diskusi besar. Kesimpulan dari hasil diskusi antara lain: Perasaan selama mengikuti games: senang, bahagia, gembira, damai, sukacita.

Berjoget bersama.
Adapun nilai-nilai dari permainan adalah: memupuk kerja sama tim, saling membantu, melatih kekompakan, memecahkan masalah bersama-sama, berlatih menyatukan hati dan pikiran, saling melengkapi, melupakan ego, kreativitas, saling membantu melepaskan masalah dan kesulitan, belajar lebih fokus (bukan fokus pada masalah, tapi fokus mencari solusi). Jika dikaitkan dengan materi buku satu dapat disimpulkan bahwa intinya adalah berfokus kepada Yesus.
Memasuki sesi kedua, yang diawali dengan menyanyi lagu Karena aku Kau cinta yang dibawakan oleh Romo Agustinus Sunaryo SVD, dan selanjutnya diikuti oleh semua yang hadir. Romo menyampaikan materi dengan tema utama: “Perjalanan menuju hidup mendasar”. Materi disampaikan dengan sangat baik, menarik, lucu, tidak membosankan, bahkan dengan cerita pengalaman/sharing yang membuat peserta tertawa hampir sepanjang sesi ini.

Narasumber Romo Agustinus Sunaryo SVD.
Beberapa poin (saripati) yang dijelaskan:
- Perjalanan untuk mencapai tujuan, perlu proses, perlu waktu dan tidak mudah, tapi jangan putus asa ketika mengalami kegagalan
- Kepentingan duniawi dengan rohani harus diharmonisasikan
- Dalam perjalanan menuju hidup mendasar haruslah berjalan bersama Tuhan Yesus
- Dasar untuk mencapai hidup mendasar adalah Kasih.
- Contoh kasih yang sempurna adalah Tuhan Yesus, yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan dunia; karena itulah, kita harus tinggal dalam kasih-Nya. Bagaikan anggur yang senantiasa menempel pada rantingnya.
- Dari perjalanan hidup mendasar, dilanjutkan perjalanan menuju hidup berbuah. Untuk dapat berbuah, harus mampu bangkit ketika “terjatuh” dan harus tetap tinggal dalam Kristus, bagaikan anggur yang senantiasa menempel pada rantingnya.

Pemberian kenang-kenangan kepada narasumber.
Sebagai ungkapan terima kasih, panitia yang diwakili oleh Ketua Panitia Mas Inov, menyerahkan tanda kasih kepada Romo Agustinus Sunaryo SVD. Setelah itu dilanjutkan dengan pengumuman dan pembagian hadiah kepada kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi. Penilaian mencakup: yel-yel, kerja sama tim, kecepatan waktu, komunikasi, dan keterlibatan peserta. Bagi kelompok yang tidak juara diberikan hadiah hiburan.

Peserta, Fasiltator, Panitia, dan Emmauser EJ Angkatan XI.
Acara diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ibu Paulin dan berkat penutup oleh Romo Agustinus Sunaryo SVD. Untuk memeriahkan suasana, Ibu Rauvy dan tim kembali menyanyikan lagu-lagu Mars ARDAS KAJ dan beberapa lagu lainnya, disertai gerakan-gerakan lincah. Setelah itu dilanjutkan dengan pembagian boks makan siang.
Foto dan Teks: Tim SKKS