Mendapatkan Pengalaman Iman Mendalam Mengikuti Misa Berbahasa Jawa, meski “Keponthal-ponthal”...

6 Juli 2025
  • Bagikan ke:
Mendapatkan Pengalaman Iman Mendalam Mengikuti Misa Berbahasa Jawa, meski “Keponthal-ponthal”...

Misa inkulturasi Hari Raya Hati Yesus yang Maha Kudus di Gereja St Bernadet.

Khususnya bagi orang Jawa, perayaan misa inkulturasi budaya Jawa di Paroki Pinang Jumat 27 Juni lalu memberikan beragam pengalaman. Lebih dari sekadar bisa bernostalgia karena sudah lama tidak ikut misa berbahasa Jawa, ada pengalaman iman yang mendalam, sekaligus apresiasi tinggi bagi para penggagasnya.

“Ini merupakan pengalaman iman yang amat sangat luar biasa,” ungkap Pak Martinus Sulopo ketika ditemui seusai misa. Meski sudah menginjak usia 70 tahun, Pak Sulopo mengaku sebagai orang Katolik Jawa baru pertama kalinya mengikuti misa dalam bahasa Jawa.

wulu wedaling bumiPAKAI

Wulu wedaling bumi (hasil bumi), persembahan wujud syukur atas karunia Tuhan.

“Karena saya dibaptis dewasa, waktu itu di Bogor sekitar umur 16 tahun, jadi saya juga tidak  hafal doa-doa Katolik dalam bahasa Jawa. Tadi saat mendaraskan doa Sahadat Para Rasul rasanya dalem banget. Kalau kita mendoakan Aku Percaya sepertinya hanya di bibir saja, tetapi saat tadi kita mengucapkan Kawulo Pitados  (bahasa Jawa doa Aku Percaya, red) rasanya itu seperti dari kedalaman hati. Karena tidak hafal—berbeda dengan umat di samping saya, termasuk istri saya—saya terbantu dengan teks di monitor. Tetapi saya keponthal-ponthal (terseret-seret karena tertinggal, red) bahasa Jawanya. Sambil membaca sambil menghayati dan kagum dengan bahasanya yang bagus, tiba-tiba sudah ganti baris,” kata warga Sesilia 2 ini.

Ketika ditanya apakah mengenali empat orang penabuh gamelan dari wilayahnya, termasuk yang ikut koor dan tari persembahan, Pak Sulopo menjawab, “Waduh, dari tempat duduk saya saya tidak bisa mengenali wajah mereka. Wah seneng sekali ternyata saudara-saudara kita di Wilayah Sesilia banyak yang ikut nguri-uri (merawat dan melestarikan) kabudayan Jawa. Salam buat mereka, semoga besok ketemu di rumah.”

Pak Yohanes dan orangtuanyaPAKAI

Pak Yohanes, anak, dan kedua orangtuanya.

“Ini misa inkulturasi yang sangat bagus, meskipun ini baru pertama kali deselenggarakan di Gereja Santa Bernadet,” kata Pak Yohanes dari Lingkungan Petrus 6. ”Dari awal sampai akhir semua tertata dengan baik, iringan gamelan dan koornya juga bagus. Ini Ibu dan Bapak saya dari Gereja Maria Kusuma Karmel juga saya ajak misa di sini biar bernostalgia misa bahasa Jawa,” imbuhnya. “Ini bagus banget. Saya sudah lama sekali tidak misa bahasa Jawa, kadang kalau pulang kampung misa pakai bahasa Jawa malah bingung. Di sini terbantu, doa-doanya bisa mengikuti di monitor,” tambah eyang yang mengaku dari Pakem Yogyakarta itu.

“Sebagai orang muda saya kagum. Di tengah gempuran budaya modern masih ada orang yang menginisiasi misa inkulturasi seperti ini. Ini Ciledug atau Pinang. Meskipun bukan metropolitan tapi ya sudah termasuk kotalah tetapi masih ada orang-orang yang mau dan mampu nguri-uri kebudayaan Jawa, menabuh gamelan, nembang (menyanyi dalam bahasa Jawa), bahkan menari, lengkap, ini mengesankan,” ungkap Mas Vincent yang hadir berempat, sepertinya dengan pasangan masing-masing.

Vincent Binar Yuta Dewa PAKAI_1

Mas Vincent dan Mas Dewa bersama pasangan mereka.

Mas Dewa menambahkan, sebagai orang Jawa dirinya tentu sangat senang dan menikmati misa pada pagi itu. Sementara Mbak Binar dan Mbak Yuta, meskipun tidak bisa berbahasa Jawa, tetapi tetap bisa mengikuti misa dengan baik dan menikmatinya. Menurut mereka, meski suara gamelannya keras tetapi membawa suasana yang adem dan suasana khusuk dalam doa.

Niyaga harus rajin latihan

Bagaimana dengan petugas liturginya, dalam hal ini para penabuh gamelan atau niyaga yang mengiringi koor?

Ibu Rubiyati yang menabuh instrumen gamelan Slenthem mengakui bahwa menabuh gamelan untuk mengiringi koor itu sulit dan berbeda. “Makanya saya harus rajin dateng latihan. Pak Mujadi yang nglatih itu pinter banget. Kita semua yang nabuh itu dibuatkan not sendiri-sendiri. Kita nggak bisa ngintip atau nanya sebelah saat menabuh, harus konsentrasi dan latihan. Tentang bedanya saya nggak bisa menjelaskan, pokoknya bedalah sama ngiringi kerawitan,” pungkas warga Sesilia 2 ini.

bu rubiyanti23PAKAI

Ibu Rubiyati (kanan depan dekat gong).

Tapi lain pendapat Mas Bastian Widi, Koordinator Panitia Pelaksana Perayaan yang masuk di deretan para niyaga. Menurut dia menabuh gamelan itu sama saja, yang beda adalah not atau balungan-nya. “Mungkin Bu Rubi biasanya main gendhing yang mengiringi wayangan atau uyon-uyon, jadi sudah hafal. Merasa sulit karena notnya tidak hafal, jadi harus selalu melihat teks. Dan memang Pak Mujadi mengaransemen ulang beberapa lagu koor itu. Dan ditambah ketukan, kalau notasi koor itu biasanya 1/8 atau 1/16, jadi tambah merasa semakin sulit,” jelasnya.

Teks: Bambang Gunadi/Foto-foto: Galih, Ignas, Bambang Gunadi

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna