Perayaan Inkulturasi Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus

3 Juli 2025
  • Bagikan ke:
Perayaan Inkulturasi Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus

Romo Ignas dan Romo Matius memimpin misa.

Hari Jumat 27 Juni 2025 adalah Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus dalam kelender liturgi Katolik. Pada Hari Raya ini, gereja menghormati kasih Allah yang tak terbatas, yang dinyatakan melalui hati manusiawi Yesus. Hati Yesus melambangkan kasih-Nya yang mendalam, kerendahan hati, dan pengorbanan-Nya bagi keselamatan umat manusia. Yesus memberikan beberapa janji khusus bagi mereka yang menghormati Hati-Nya. Yang pertama, damai bagi keluarga yang menempatkan gambar Hati Kudus di rumah mereka. Kedua, rahmat pertobatan bagi mereka yang menerima Komuni Kudus pada sembilan Jumat Pertama berturut-turut. Dan ketiga, kekuatan di saat kematian bagi yang setia dalam devosi ini.

Devosi kepada Hati Kudus Yesus berkembang terutama melalui penampakan-penampakan Yesus kepada Santa Margareta Maria Alacoque (1647–1690), seorang biarawati Ordo Visitasi di Paray-le-Monial, Prancis. Yesus meminta agar Gereja merayakan Hari Raya Hati Kudus sebagai bentuk penghormatan atas kasih-Nya yang terbuka bagi dunia. Lalu pada tahun 1856, Paus Pius IX menetapkan Hari Raya Hati Kudus Yesus sebagai perayaan resmi Gereja Katolik, yang dirayakan pada Jumat ketiga setelah Hari Raya Pentakosta.

pak MUJADI

Geguritan di awal misa dari seorang guru, Ignatius Mujadi.

Di hari dan tanggal yang sama, di dalam kalender Jawa, adalah hari pertama dalam bulan Sura atau lebih dikenal sebagai tanggal 1 Sura, tanggal dimana terjadi pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Layaknya pergantian tahun, inilah saat yang tepat bagi kita untuk melakukan kewajiban melakukan refleksi pada apa yang sudah kita lalui, bersyukur serta berdoa dan kemudian berdoa mempersiapkan diri dan menyerahkan tahun yang akan dijalani kepada penyertaan Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan.

galihPAPAT

Para penari Jawa dalam Misa Pahargyan 1 Sura.

Berawal dari gagasan beberapa anggota Karawitan Sekar Widya Laras, sebuah kelompok karawitan gerejawi yang berlatih rutin di Sekolah Sang Timur dan dianggotai umat Paroki Pinang, yang berkeinginan merayakan pergantian tahun Jawa tersebut dengan perayaan ekaristi sebagai ungkapan syukur, maka lalu terbentuklah sebuah kegiatan yang memadukan dan merangkai kedua perayaan yang telah disebutkan di atas menjadi sebuah keselarasan kegiatan bertajuk Pahargyan Syukur Tyas Dalem Gusti Yesus.

Perayaan Ekaristi Syukur Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus sekaligus Perayaan Tahun Baru Sura 1959

Perayaan ekaristi dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2025 pukul 08.00 wib dan dipersembahkan secara konselebrasi oleh Romo Ignas Sudaryanto CICM dan Romo Matius Pawai CICM. Misa dipersembahkan dalam bahasa Jawa dengan diiringi paduan suara dan karawitan Sekar Widya Laras, dengan homili berbahasa Indonesia oleh Romo Matius.

galih2PAKMUJADI

Guru karawitan Ignatius Mujadi di antara para penari.

Di awal perayaan ekaristi ini dilakukan pembukaan berupa tembang doa yang isinya bersyukur atas segala rahmat, karunia dan penyertaan Tuhan pada kita manusia, lalu dilanjutkan dengan geguritan, rangkaian puisi berbahasa Jawa yang dilantunkan oleh Ignatius Mujadi diiringi dengan tarian empat gunungan yang melambangkan alam semesta ciptaan Tuhan beserta empat unsur utama kehidupan manusia: bumi, air, angin dan api. Puisi tersebut intinya menceritakan bagaimana keempat unsur kehidupan itu akan selalu menjadi dasar kehidupan yang diberikan Tuhan pada manusia yang harus dijaga dan dirawat dengan benar walau berbagai kejadian dalam hidup kadang membuat manusia kebingungan dan biasanya malah jadi lupa berpegang pada ajaran sumber kehidupan yakni Tuhan Yesus Kristus, padahal manusia hanya wajib menjalani kehidupan secara baik dan bijak dengan tata cara dan sarana hidup yang  benar.

Arisugiya PAKAI

Tembang Sinom dibawakan oleh Aritasius Sugiya.

Lalu dilanjutkan dengan tembang Sinom dengan dua cakepan (syair) yang dibawakan Aritasius Sugiya sebagai pengantar misa yang mengingatkan dan mengajak para pemimpin untuk selalu ingat pada Tuhan dan hanya kepadaNya bersembah sujud. Serta mengajak kaum muda untuk mengabdi, melayani, saling mengasihi sesama, jangan ingkar janji, dan berjiwa tangguh dalam berkarya apapun dan dimanapun. Kedua syair yang dilantunkan di atas adalah karya umat Wilayah Ignatius Loyola bernama Ignatius Mujadi yang juga adalah guru karawitan Sekar Widya Laras.    

Karena hari itu dirayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus, maka dalam homilinya yang berbahasa Indonesia, Romo Matius Pawai mengajak umat untuk selalu mengingat kebaikan Tuhan pada masa lalu, kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita sekarang ini, dan  kesetiaan serta kepastian akan penyertaan Tuhan di masa mendatang.

galih1UMAT

Antusiasme umat mengikuti misa berbahasa Jawa.

“Luar biasa kasih Tuhan dalam menyertai perjalanan hidup manusia. Kesetiaan dan kebaikan Tuhan sudah diwartakan sejak zaman nabi Yehezkiel saat Bangsa Israel terbuang ke Babel, seperti bacaan pertama. Yehezkiel menyebut Allah sebagai satu-satunya gembala yang setia memperhatikan dan mengumpulkan domba-dombaNya. Alaah akan membimbing dombaNya ke air yang tenang dan menyegarkan, menuntun mereka di jalan yang benar dan membaringkannya di padang rumput yang hijau, sehingga kawanan domba tersebut akan merasa aman, tenteram, damai sejahtera, walau melewati jalan di lembah yang kelam,” papar Romo Matius.

totMazmur PAKAI

Pemazmur Totot Herwinoto.

Pada bacaan kedua, Romo Matius menegaskan lagi bahwa Rasul Paulus menjadi saksi bahwa Allah kita adalah Allah yang pengasih dan penyayang. “KasihNya pada dunia membuatNya mengutus PuteraNya yang tunggal ke dunia untuk membebaskan kita dari dosa. Yesus Kristus memperbarui hukum Tuhan dengan hukum cinta kasih yang murah hati,” tambah Romo Matius.

Pada bacaan Injil, Santo Lukas menggambarkan Allah sebagai Gembala yang tidak kenal lelah mencari domba yang hilang. “Allah akan sangat bergembira saat Dia menemukan kembali dombaNya yang hilang. Allah yang berbelas kasih akan selalu meberikan kedamaian dan keselamatan pada umatNya. Tugas kita sebagai umatNya untuk bertobat, menata diri kembali agar layak di hadapan Tuhan. Maka marilah kita sebagai umatNya, selalu menata langkah kita seperti sedang berbalut busana Jawa yang membuat langkah kita harus diatur agar tetap bisa berdiri dan berjalan dengan tegak, berjalan bersama umat lain sebagai kesatuan umat Allah” ajak Romo Matius yang mengakhiri homilinya dengan mengajak umat bernyanyi Sakjege Aku Nderek Gusti.

korPAKAI

Paduan suara dan karawitan Sekar Widya Laras.

Di awal pembuka homili, Romo Matius Pawai mengapresiasi kegiatan Pahargyan Syukur Sura yang baru pertama diadakan di Paroki Pinang ini sebagai awal pelestarian budaya dan pengukuhan iman Katolik. “Saya amat bahagia dan terima kasih pada para penggagas dan penggerak kegiatan ini yang bersatu dan berjuang keras mewujudkan semua rangkaian acara. Proficiat!” kata Romo Matius.

Pada akhir misa, Bastian Widi sebagai Koordinator Panitia Pelaksana menghaturkan terima kasih karena umat sudah hadir bersama-sama merayakan dan mengungkapkan rasa syukur dalam rangkaian acara Pahargyan Syukur Sura tersebut. “Panitia juga mengucapkan terima kasih kepada Romo Matius sebagai Pastor Kepala yang sudah mengizinkan acara tersebut dilakukan dan kepada Romo Ignas yang telah mempersembahkan ekaristi. Kami juga berterima kasih pada seluruh umat yang telah mendukung dengan berbagai bentuk donasi. Kami juga berterima kasih kepada para penggagas acara ini yang telah bekerja sama sebaik-baiknya untuk membuat acara ini terlaksana. Ini kesempatan bagi saya ngangsu kawruh, belajar dan menambah ilmu. Mari kita juga mendoakan kedamaian dunia karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Terakhir jika ada sesuatu yang tidak atau kurang berkenan, silahkan ingat-ingat saya,” kata mas Widi yang disambut senyum seluruh umat.

Ketua PAKAI

Koordinator Panitia Pelaksana, Bastian Widi.

Syukur dan Macapat

Sejalan dengan perayaan ekaristi tersebut sebagai sebuah rangkaian syukur, pada malam sebelumnya yang biasa disebut Malam Satu Sura, yang kebetulan adalah malam Jumat Kliwon yang baru akan terjadi delapan tahun lagi, diselenggarakan Malam Doa Syukur dan Macapat yang digelar di area samping Aula Sehati Sejiwa dengan balutan cahaya obor dan diiringi alunan gender, rebab dan siter. Beberapa penyekar (pelantun tembang macapat) melantunkan sekar maskumambang, mijil, sinom, asmarandana, dandang gula, pangkur, megatruh dan pocung, yang merupakan kisah perjalanan hidup manusia dari saat dalam kandungan hingga memasuki alam kematian.

Tembang-tembang ini menjadi sebuah refleksi akan perkataan, tingkah laku dan perbuatan serta pemikiran manusia dalam kehidupannya. Acara ini dihadiri oleh seratusan umat yang menikmati malam pergantian tahun Jawa dengan penuh syukur yang berlangsung hingga pukul 01.00 wib. Romo Hieronimus Jemantur CICM tampak menikmati tembang yang dilantunkan sembari menikmati ngopi dan rebusan yang disajikan. “Sangat menarik dan bagus sekali bagaimana sebuah kekayaan budaya dapat dihadirkan di paroki kita sebagai bentuk inkulturasi yang nyata, saya suka dan akan saya tunggu hingga rasa mengantuk tiba,” papar Romo Hieron sambil tersenyum.

Sarasehan Sederhana Seusai Misa

Pada hari Jumat itu, seusai perayaan ekaristi dilaksanakan sebuah acara Sarasehan Sederhana bertajuk 100% Katolik, 100% Indonesia dengan narasumber tunggal Romo Ignatius Sudaryanto CICM, dipandu oleh pembawa acara Pak Thomas Suraya dan dimoderatori oleh Pak Paulus Sulasdi. Sarasehan dihadiri sekitar 300-an umat yang juga berasal dari paroki lain yang dengan  antusias mengikuti sesi hingga akhir acara.

sarasehan PAKAI

Romo Ignas sebagai narasumber tunggal sarasehan.

Sarasehan ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat soal mengapa gereja Katolik mengadakan perayaan ekaristi dalam rangka Sura, yang selama ini identik dengan ajaran kejawen yang beraliran animisme dinamisme seperti memandikan pusaka, memberi sesajen dan melakukan ritual mistis. “Perayaan Sura sebagai sebuah tradisi budaya boleh dirayakan umat Katolik selama tidak melanggar aturan gereja Katolik yang sudah diimani dengan sepenuh jiwa raga melalui sakramen inisiasi yakni baptis, ekaristi, dan krisma,” terang Romo Ignas. “Romo Mgr Sugiyapranata SJ mencetuskan slogan 100% Katolik 100% Indonesia pada tahun 1954 dan dikuatkan oleh Paus Yohanes Paulus II saat tahun 1989 berkunjung ke Indonesia bahwa iman Katolik tidak bertentangan dengan identitas kebangsaan atau budaya lokal dan mendorong umat untuk menginkulturasi iman dalam budaya setempat,” tandas Romo Ignas dalam pernyataan pembuka sarasehan. “Jadi jangan ragu atau takut, jadilah orang Katolik yang 100% Katolik dengan taat sepenuhnya pada ajaran Gereja sakramen, dan iman, dan juga jadilah orang Jawa yang sepenuhnya Jawa dan Indonesia dengan menghayati, menghargai dan melestarikan kebudayaan lokal,” ajak Romo Ignas kemudian.

GAliHsARASEH

Sarasehaan di Aula Sejati Sejiwa dipenuhi peserta.

Lebih jauh Romo Ignas menjelaskan, budaya Jawa sarat akan nilai-nilai luhur seperti unggah-ungguh (saling menghormati dan menghargai), tepa selira (saling mentoleransi), gotong royong, guyub rukun, spiritualitas batin dan simbolisme. Semua hal tersebut selaras dengan ajaran dalam Katolik seperti cinta kasih, kerendahan hati dan perdamaian bagi semua orang. “Yang sangat penting adalah jangan menyembah Allah lain selain Allah kita, Allah-nya orang Katolik,” tambah Romo Ignas. “Umat harus bisa membedakan antara budaya dan kepercayaan tradisional yang bertentangan dengan iman Katolik seperti sinkretisme yang harus dihindari. Pendampingan pastoral yang baik juga perlu dilakukan agar umat tidak mencampuradukkan ajaran iman Katolik dengan praktik magis ala kejawen,” tegasnya lagi.

penanya WONOSANTUNI

Jauh-jauh ibu ini datang dari Wonosari untuk ikuti sarasehan.

Dalam materi berikutnya, Romo Ignas memberikan beberapa contoh soal spiritualitas Katolik ala Jawa. Misalnya seperti laku prihatin seperti puasa dan askese (upaya mencapai kesempurnaan diri melalui latihan rohani dan pengekangan diri dari hawa nafsu duniawi) dalam budaya Jawa yang mencerminkan semangat pertobatan dan pengendalian diri dalam Katolik. Laku doa hening dan kontemplatif ini sejalan dengan spiritualitas dalam Ignasian dan Benediktin.

Contoh lain lagi soal inkulturasi Jawa dalam Katolik adalah tata liturgi, misalnya misa dengan iringan gamelan, doa dengan bahasa Jawa krama. Dalam hal busana kebaya, lurik, atau beskap dalam misa atau perayaan gereja. Bahkan dalam simbol dan arsitektur desain gereja dengan bernuansa Jawa (atap joglo, ukiran, wayang). “Juga berbagai ekspresi seni sebagai sebuah bentuk dinamika kehidupan manusia berupa wayang wahyu, tembang rohani Jawa, tari-tarian bernuansa Injil dan sebagainya,” jeelas Romo Ignas dengan gamblang.

galihSARASHAN_1

Sepotong suasana sarasehan.

Sejatinya orang Katolik (bersuku) Jawa dipanggil untuk menjadi jembatan dialog antar budaya dan antar agama. Menghidupi iman dalam bahasa, kesenian, nilai, dan semangat budaya lokalnya. Beriman Katolik dalam budaya Jawa bukan sekadar mungkin, tapi diperlukan untuk menjadikan iman itu hidup dan berakar dalam konteks nyata. “Menjadi 100% Katolik dan 100% Jawa-Indonesia adalah wujud dari iman yang inkarnatif, seperti Kristus yang hadir dalam dunia nyata,” pungkas Romo Ignas menutup sarasehan siang itu. (totot - Sie Acara Pahargyan Syukur Sura)


Untuk melihat Youtube Misa lengkap, klik tautan di bawah ini:

https://www.youtube.com/live/cCk9SHfWAtM?si=PYiQWWHxnufayBIS

Foto-foto: Ignas, Galih, Tangkapan layar/ Video: Multimedia Komsos Sanberna


ALBUM FOTO

galihNGRAWIT


NGGAMEL


PAK E


MBAKYUNE_1


JHM-WideXPAK


galih NAOKO


tarian3 TIGA_1


tarian 2 PAKAI


galih5DING


galihKUMAT


umat ANTUSIAS


galih ROMIGN


sarasehan tanya almbum PAKAI


ROMATROMIG


ROMATIUS


 

Tags
Pinang

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna