Bp YM Seto Marsunu sebagai narasumber seminar EJ Sanberna.
Ditemui sejenak usai menjadi narasumber seminar EJ Sanberna di Aula Sehati Sejiwa Pinang, Minggu 8 Juni 2025, pengajar Kitab Suci YM Seto Marsunu bersedia melayani sejumlah pertanyaan dengan gaya bahasa yang lugas dan tegas.
Pertama-tama dia menjawab pertanyaan tentang tantangan yang dihadapi kelompok-kelompok spiritual seperti Emmaus Journey dan kelompok serupa pada umumnya.
“Ketekunan. Tantangannya di situ. Bisa jadi menghadapi kebosanan. Karena itu perlu komunitas, perlu ketemu, itu cara untuk menghindari kebosanan,” katanya.
Selanjutnya berkaitan dengan kebosanan ketika orang membaca Kitab Suci, Pak Seto sangat tidak menganjurkan baca Kitab Suci dengan HP. “Nggak bisa dengan HP. EJ baca Kitab Suci dengan HP itu aneh. Saya sudah menunjukkan tadi (dalam seminar), ternyata yang membaca dengan HP lebih lambat dari yang membuka langsung Kita Suci. Itu contoh,” lanjutnya.
“Nggak bisa orang sombong dengan mengatakan, ‘Nanti saya dengan HP saja tahu isinya.’ Nggak bisa saya baca langsung mengerti. Kalau kita membaca Kitab Suci (bukan membaca dari HP), kita bisa memberi tanda, bagaimanapun itu lebih gampang,” ujarnya lagi.

Bp YM Seto Marsunu. (Foto:ps)
Ditanya apakah memberi tanda itu berarti Kitab Suci boleh dicoret-coret pada ayat yang dirasa mengesankan karena punya makna dalam hidup seseorang, Pak Seto langsung menjawab sambil menyungging senyum tipis, “Nggak masalah… tapi nyoretnya jangan asal coret...”
“Supaya tidak bosan membaca Alkitab, tujuan membaca harus diperhatikan, kenapa saya membaca Alkitab? Selain tujuan adalah kegembiraan karena sesuatu yang menggembirakan tidak akan membuat kita bosan. Nah masalahnya bagaimana menemukan yang menggembirakan itu,” katanya.
“Kalau untuk pemula ketika mulai membaca sederhana saja, cari yang menyenangkan. Cari saja yang menyenangkan. Mulailah dengan itu. Lewati-lewati boleh, untuk pemula ya! (ada nada tekanan di sini). Mulai saja dari situ. Kalau mulai dengan, apa misalnya, Imamat 4-7 (tentang berbagai korban persembahan, Red), pasti bosen. Bacalah mulai dengan kisah Tuhan Yesus, misalnya, kita bisa tahu mana yang penting,” jelasnya. Pak Seto juga setuju jika orang mulai dengan membaca kisah-kisah Sejarah Bangsa Israel di Perjanjian Lama jika memang dirasa menarik.
Pembicaraan terpaksa terhenti karena panitia seminar tiba-tiba memanggil Pak Seto ke depan untuk menerima ucapan terima kasih antara lain berupa lukisan dirinya, dan memberikan kata penutup atau closing statement.
Teks: ps/ Foto: Tim SKKS