Sura, Tahun Baru Jawa yang Patut Disyukuri. Rm Matius dan Rm Ignas akan Mepersembahkan Ekaristi Syukur

16 Juni 2025
  • Bagikan ke:
Sura, Tahun Baru Jawa yang Patut Disyukuri. Rm Matius dan Rm Ignas akan Mepersembahkan Ekaristi Syukur

Komunitas karawitan Sekar Widya Laras berlatih di aula SMP Sang Timur, Minggu (15/6) malam, berkejaran dengan waktu yang semakin dekat.

Sebagai sebuah adat istiadat dan kebudayaan asli Jawa, merayakan Sura (dibaca: suro) berarti mensyukuri semua berkat dan rahmat Tuhan sepanjang tahun yang sudah dilalui sekaligus berdoa dan menyandarkan harapan pada penyertaan Tuhan untuk tahun mendatang yang akan segera dihadapi. Inti maknanya kurang lebih sama dengan perayaan-perayaan tahun baru versi lainnya. Entah tahun baru Masehi, tahun baru China, tahun baru Islam, dan lain sebagainya. Lalu apa bedanya Sura dengan yang lainnya kalau begitu?

Keunikan yang menjadi kebiasaan dan kebudayaan yang menyertai perayaan Sura tersebut adalah pembedanya karena ini tradisi Jawa. Sebutlah misalnya berjalan mengelilingi keraton yang dilakukan oleh seluruh abdi dalem dalam diam sembari mengarak pusaka dan kerbau bule setelah dimandikan di Solo, memandikan pusaka koleksi keraton lalu diarak “mubeng beteng” dalam diam sembari membawa obor di Yogyakarta. Terdapat juga beberapa kebiasaan yang menjadi ritual Sura pada masyarakat Jawa pada umumnya, misalnya ritual padusan (mandi berama-ramai) untuk membersihkan diri dari kesalahan dan pengaruh buruk, berziarah ke tempat-tempat suci dan makam leluhur, dan membuat jenang (bubur) Sura untuk disantap bersama-sama.

timur 2 PAKAI_2

Para penabuh gamelan tengah mengiringi koor.

Ritual pada perayaan Sura ini menjadi semakin unik karena ada berbagai aturan dan larangan terhadap kegiatan sehari-hari yang tidak boleh dilakukan saat malam satu Sura atau sepanjang bulan Sura seperti mengadakan hajatan pernikahan, tidak boleh berisik atau mengadakan keramaian, tidak membangun rumah atau pindahan rumah, dan sebagainya. Ya memang semua aturan dan larangan ini bersifat mitos dan diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi Jawa, tetapi tidak sedikit yang mempercayainya sebagai sebuah bentuk penghormatan terhadap adat istiadat dan petuah leluhur. “Biar bagaimanapun yang namanya nilai-nilai budaya dan nasehat baik dari para pendahulu kita tetap layak dihormati dan dilestarikan sebagai pengingat agar kita tidak seenaknya dan semaunya,” papar salah satu umat senior di Paroki Pinang.

Itulah sebenarnya alasan mengapa Sekar Widya Laras, sebuah komunitas karawitan yang berada di Paroki Pinang dan sementara bermarkas dan berlatih rutin di Sekolah Sang Timur Ciledug, berkeinginan mengadakan Pahargyan Syukur Sura di Gereja Santa bernadet. Tidak hanya bertirakat dan berdoa diiringi gamelan pada saat malam Sura di area parkiran motor gereja, tetapi juga akan dilaksanakan Ekaristi Syukur dengan bahasa Jawa dan diiringi juga oleh paduan suara dan irama gamelan Jawa.

timur 3 PAKAI

Kadang perlu berembuk dirigen dan pimpinan penabuh gamelan untuk penyesuaian/pelarasan karena koor dengan iringan gamelan berbeda dengan koor yang diiringi organ.  

Ekaristi akan dipersembahkan secara konselebrans oleh Romo Ignatius Sudaryanto CICM dan Romo Matius Pawai CICM. Rangkaian acara perayaan Sura ini akan ditutup dengan sarasehan singkat bertema 100% Katolik 100% Indonesia yang akan mebahas hubungan Sura dengan agama Katolik di Aula Sehati Sejiwa seusai misa. “Seluruh umat yang merasakan kerinduan akan misa berbahasa Jawa dan ingin ikut merayakan Sura, diundang dan dipersilahkan untuk hadir beramai-ramai. Ini acara sungguh dari kita, oleh kita, dan untuk kita semua,” papar ketua panitia pelaksana perayaan ini, Mas Bastian Widi.

timur 1 PAKAI_1

Siap berlatih sambil menunggu siapnya para penabuh gamelan.

Sebagai persiapan perayaan Sura ini, ada beberapa kegiatan yang dilakukan seperti latihan koor dengan lagu-lagu berhasa Jawa oleh koor gabungan paroki yang dipadu dengan latihan karawitan yang akan mengiringi. Ditambah dengan persiapan uba-rampai (pernak-pernik) seperti pembuatan dekorasi dan ornamen Jawa yang akan dipasang di gereja dan sekitarnya. “Umat diundang hadir dengan ciri busana Jawa sesuai yang dipunyai masing-masing, sumangga pinarak sedaya,” ajak ibu Theresia, dirigen koor gabungan ini.

timur 5 PAKAI

Peserta ibu-ibu lebih banyak dari peserta bapak-bapak.

Jadi mulai dari sekarang, persiapkan diri Anda dengan aksesories busana Jawa dan hadiri serta meriahkan pahargyan syukur Sura ini. Dipun tengga rawuhipun para kadang lan sederek seiman, sedaya umat Sanberna! (tots)


Rangkaian acara Pahargyan Syukur Sura di Paroki Pinang:

Kamis 26 Juni 2025 jam 22.00-selesai : doa syukur dan macapatan di parkir motor Sanberna

Jumat 27 Juni 2025 jam 08.00-selesai : Ekaristi Syukur di Gereja Sanberna, dilanjutkan sarasehan singkat 100% Katolik, 100% Indonesia di Aula Sehati Sejiwa

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna