Flyer acara Rekoleksi Akbar Pemazmur.
Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mazmur 104 : 33)
Minggu (7/7) siang selepas misa kedua di Gereja Santa Bernadet Pinang, berkumpul sekelompok umat yang mengenakan busana bernuansa warna biru di Aula Gereja. Mereka dengan antusias membawa kado dan tumbler. Ya, siang itu akan dilaksanakan acara Rekoleksi Akbar Pemazmur Sanberna bertema Sukacita Bermazmur dengan ayat penyemangat dari Kitab Mazmur bab 104 ayat 33. Acara diawali dengan misa bersama jam 08.30 wib.

Pembawa Acara mas Broto dan mbak Dwi Nani.
Dibuka dengan doa lalu dilanjutkan perkenalan antar anggota pemazmur tiga angkatan (2017, 2018, 2023) dipandu mas Broto dan mbak Dwi Nani sebagai pembawa acara, disambung dengan sambutan Kepala Paroki Pinang Pastor Lammarudut Sihombing, CICM, yang menyampaikan apresiasi kepada para pemazmur sebagai salah satu pelayan liturgi yang penting dalam perayaan ekaristi. Ia juga berpesan agar masing-masing lingkungan didorong untuk mempunyai pemazmur sebagai bentuk regenerasi dan partisipasi aktif pada pelayanan di paroki.

"Usahakan satu lingkungan satu pemazmur ya," pinta Romo Lamma saat membuka acara.
“Jika nanti ada pendaftaran baru untuk pemazmur, mohon nanti dari lingkungan kalau bisa masing-masing wajib mengirimkan satu orang perwakilan pemazmur agar makin bersukacita,” pinta Romo Lamma.

Korbid Peribadatan Y Sunaryo menyampaikan sambutannya.
Sambutan diteruskan oleh Korbid Peribadatan Y Sunaryo yang mengemukakan bahwa pelayanan di gereja itu tidak kenal jenjang dan struktur.”Melayani itu tidak kenal struktural karir dan tidak pandang jenjang. Siapa jadi apa sekarang lalu jadi apa di kemudian hari, semangatnya harus tetap sama, melayani Tuhan dengan bersukacita,” paparnya.

Mas Bambang Gunadi membawakan sesi pertama.
Liturgi dalam Bermazmur sebagai sesi pertama dibawakan oleh Bambang Gunadi selaku Ketua Seksi Liturgi Paroki Pinang. “Mazmur itu salah satu bagian dalam liturgi sabda sebagai nyanyian antar bacaan yang dinyanyikan secara bersahutan dengan umat yang hadir dalam sebuah perayaan ekaristi, jadi harus dibawakan dengan benar, baik, dan indah,” jelas mas Bambang.
“Membawakan nyanyian mazmur dengan benar, baik, dan indah memang menjadi standar tertinggi dalam pelayanan pemazmur di Sanberna. Oleh karena itu syarat utama dan pertama yang harus dipenuhi untuk menjadi pemamur adalah mengerti notasi dan tidak buta nada. Tanpa kecuali, calon pemazmur harus bisa bernyanyi dengan indah. Yang berikutnya adalah disiplin berlatih dan komitmen pada jadwal yang sudah disusun karena pemazmur adalah unsur penting dalam liturgi sabda pada perayaan ekaristi,” tambah Totot Herwinoto selaku Plt Koordinator Pemamzmur Sanberna.

Bu Theresia Eko membawakan sesi kedua.
Sesi kedua dengan tema Melayani dengan Sukacita dibawakan oleh ibu Theresia Eko. Materi berkisar seputar karakter dan semangat pelayanan pemazmur. “Kalau sudah ditugasi, mau di Amore atau di Pinang ya seharusnya wajib ditaati tanpa alasan, jangan memilih-milih tempat tugas. Sebelum tugas ya wajib latihan dua Kamis sebelumnya bersama tim teknis. Semua ini harus dilakukan secara disiplin dan berkomitmen. Sebagai pemazmur harus mau secara sukarela dan rendah hati mengosongkan cangkirnya agar bisa diisi dengan kopi baru, ilmu baru, pengalaman baru,” tegas bu Theresia dan para peserta menyambutnya dengan tepuk tangan. “Jadwal sudah disusun dengan rotasi waktu oleh para ketua kelompok, mari kita taati dan jalankan bersama dengan penuh sukacita,” ajaknya.
Sebelum makan siang bersama, acara dilanjutkan dengan tukar kado. Peserta sudah membawa kado masing-masing seharga minimal dua puluh lima ribu rupiah untuk ditukarkan dengan kado dari peserta lain. Prinsipnya semua bawa kado, semua terima kado. Rame dan seru!

Suasana makan siang bersama.

Suasana tukar kado.

Plt Koordinator Pemazmur Totot Herwinoto sedang menyampaikan sesi ketiga.
Sehabis makan siang dan pelemasan otot dengan line dance, giliran Totot Herwinoto membawakan paparan materi mengenai serba-serbi bermazmur di Paroki Pinang. ”Dengan jumlah 52 orang pemazmur, maka rata-rata tugas masing-masing anggota pemazmur itu hanya tujuh sampai delapan kali setahun bertugas di misa reguler. Tidak banyak dan tidak merepotkanb sama sekali kok,” tukasnya. “Karena ada kebutuhan regenerasi pelayanan, kita berencana mengadakan lagi penerimaan pemazmur baru yang akan dilakukan di September atau Oktober nanti. Mohon dukungan dan gerilyanya ke lingkungan-lingkungan mencari talenta tersembunyi. Sebisa mungkin seleksi awalnya dilakukan oleh rekan-rekan sendiri,” ajak Totot. “Bermazmur itu wajib dengan benar, baik, dan indah. Sudah ada aturannya di Pedoman Umum Misale Romawi. Jadi mutlak bahwa seorang pemazmur harus mengerti nada, bisa membaca notasi, dan bisa menyanyikan sebuah mazmur dengan lancar. Keindahannya didapat dari berlatih secara konsisten dan komitmen tinggi,” tambahnya.

Romo Lamma menyempatkan diri mengikuti acara sejenak.

Ketua Sie Liturgi Paroki Pinang mas Bambang Gunadi didampingi Koordinator Pasdior mbak Arum mengikuti acara.

Pemazmur muda penerus Gereja.

Foto bersama sebelum bubar.
Sore itu kemeriahan acara ditutup dengan berfoto bersama, lalu doa penutup pun didaraskan untuk memohon Roh Kudus dalam menjaga dan menyemangati karya pelayanan para pemazmur di Paroki Pinang. Ad Maiorem Dei Gloriam! (tots)
Foto-foto: Panitia.