Foto di pagi hari setelah Perayaan Ekaristi hari Minggu.
Memanfaatkan hari libur nasional, para katekis Santa Bernadet mengikuti retret di Rumah Retret Pondok Tempayan, Garut, Jawa Barat 9-11 Maret 2024 atau 2 malam 3 hari. Ini merupakan realisasi program Sie Katekese 2023 yang tertunda karena pandemi Covid-19 dan berbagai kesibukan pelayanan.
Dengan tema “Menjadi Katekis yang Setia, Rendah Hati dan Kreatif”, retret diikuti 25 orang katekis dengan disertai Romo Matius Pawai CICM selaku Moderator Katekese Paroki Pinang. Berangkat dari Pinang Sabtu 9 Maret jam 14.00, retret dilaksanakan Minggu dan Senin, 10 dan 11 Maret 2024.

Bersama Romo V Dwi Sumarno sebagai pembicara rekoleksi.
Minggu 10 Maret diawali dengan Misa Kudus jam 06.00 yang dipimpin Romo Matius. Dalam misa ini Romo Matius antara lain menekankan bahwa para katekis melalui pewartaan merupakan pribadi jembatan menuju keselamatan.
Seperti di Yerusalem ketika banyak orang datang berbondong bondong untuk mencari keselamatan melalui perjumpaan dengan Tuhan, demikian juga para katekis dipakai Tuhan sebagai jembatan kerahiman yang membawa banyak orang yang sedang dalam kegelapan, kerapuhan, keputusasaan untuk berjumpa dengan Tuhan agar mengalami apa artinya diselamatkan, apa arti dikasihi, apa arti mencintai.

Foto bersama setelah sesi Romo Dwi Sumarno.
“Para katekis harus berbangga bahwa Tuhan mencintai kita dan memberikan kesempatan kedua untuk berbuat baik,” kata Romo Matius.
Usai misa, acara dilanjutkan dengan Sesi 1 oleh Romo Matius dengan tema “Melayani dengan sukacita”. Di sini ditekankan bahwa katekis adalah orang yang melayani dengan sukacita. ”Siapakah katekis itu? Katekis adalah semua orang beriman kristiani, baik Klerus/Imam maupun awam, yang dipanggil Allah menjadi pewarta Sabda Allah,” kata Romo Matius.

Acara Katekis Gathering sore hari.
Selanjutnya Romo Matius juga menekankan peran katekis sebagai animator dalam keuskupan antara lain dengan mendidik umat tentang ajaran Katolik dan keyakinan Gereja, membangun fondasi iman, membantu umat menghadapi tantangan, mempromosikan persatuan dalam Gereja lokal, dan meningkatkan partisipasi dalam kehidupan Gereja.
Sesi 2 diisi oleh Romo V Dwi Sumarno Pr, Pastor Komisi Kateketik Keuskupan Bandung yang juga Pastor Gereja Bunda Maria Paroki Garut dan Direktur Rumah Retret Pondok Tempayan Garut. Materi sesi ini adalah “Pastoral Dasar”.

Makan malam dengan soto ayam yang menghangatkan tubuh.
Romo Dwi Sumarno menekankan perlunya membentuk diri pribadi menjadi seorang pelayan pastoral yang bertanggung jawab dalam tugas-tugas dalam Gereja di tengah masyarakat dengan terus-menerus melatih diri untuk membuka diri terhadap Roh Kudus. Mengutip Gal 5:25 ia mengatakan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.”
Dalam menghidupi peran katekis, Romo V Dwi Sumarno Pr mengingatkan beberapa hal: (1) hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi; (2) nilai-nilai kehidupan yang luhur dan utama ditimba dari Kitab Suci; (3) pernyataan atau perwujudan penyerahan diri dan cinta kasih kepada Tuhan; (4) upaya terus-menerus mengembangkan hidup pribadi dan rohani menjadi pribadi yang integral; (5) membagikan kehidupan dalam Kristus/membagikan Kristus dalam kehidupan atau berbagi kehidupan dalam terang Injil.

Berangkat bersama moderator Romo Matius Pawai CICM.
Usai makan siang yang didahului Doa Angelus, beberapa katekis menuju pemandian air panas (200-300 meter dari Pondok Tempayan) untuk menghangatkan tubuh dan relaksasi dengan air belerang dari pegunungan di Kota Garut.
Sore harinya ada Gathering Katekis yang dipimpin oleh katekis senior Bp Yohanes Roso Pramono. Di sini para katekis diajak untuk bersatu hati dan bergotong royong dalam pelayanan bersama yang tidak selalu mudah.

Foto pagi-pagi sebelum berangkat misa di Gereja Paroki Garut.
Dalam sesi 2 Romo V Dwi Sumarno juga memberikan materi tentang “Hidup dengan Penuh Syukur”. Semua yang ada serta terjadi dalam diri kita adalah kemurahan Tuhan. Memang tidak semua dalam hidup kita berjalan mulus, tetapi ada petunjuk jalan supaya kita punya harapan tentang arah masa depan. Kita sering membutuhkan masalah agar tahu bahwa kita punya kekuatan, menghargai hidup, tertawa, supaya bisa bersyukur. Tak kalah penting, adanya orang lain yang berarti kita tidak sendirian.
Romo V Dwi Sumarno memberikan reminder dalam pelayanan yang perlu disimak:
* Teruslah melangkah walau mendapat rintangan, jangan pernah takut menghadapinya.
* Perbuatan baik yang paling sempurna tidak terlihat, namun dapat dirasakan hingga jauh ke dalam relung hati.
* Jangan menghitung apa yang hilang, namun hitunglah apa yang tersisa.
* Sekecil apapun penghasilan kita, pasti akan cukup bila digunakan untuk kebutuhan hidup.
* Sebesar apapun penghasilan kita, pasti akan kurang bila digunakan untuk gaya hidup.
* Tidak selamanya kata-kata yang indah itu benar, juga tidak selamanya kata-kata yang menyakitkan itu salah.
* Hidup ini terlalu singkat, lepaskan mereka yang menyakiti kita.
* Sayangi mereka yang ada di sekitar kita.
* Berjuanglah untuk mereka yang berarti bagi kita.
* Bertemanlah dengan semua orang, tapi bergaullah dengan orang yang berintegritas dan mempunyai nilai hidup yang benar, karena pergaulan akan mempengaruhi cara pandang kita dan masa depan kita.

Di depan Gereja Katedral Bandung.
Dalam kesimpulan dikatakan, bersyukur adalah amplifier/penguat kebaikan dan hal-hal baik dalam kehidupan kita, orang-orang/teman-teman yang baik dalam hidup kita, dan memperkuat kebaikan pada diri kita sendiri.
Nilai-nilai kehidupan seorang katekis bergantung pada kata-kata yang diucapkan kepada sesama dan terutama kepada Tuhan. Perhatikan baik-baik kualitas kata-kata yang kita ucapkan, dan gunakanlah saringan yang paling halus supaya kata-kata itu mendatangkan kebaikan bagi diri kita maupun orang lain. “Change your words for change your world”, ubahlah kata-katamu untuk mengubah duniamu.

Hari ke-3 setelah misa pagi di Gereja Bunda Maria Garut.
Para katekis mengawali hari ketiga dengan ceria sambil berkumpul di halaman pondok Tempayan, berfoto ria, bersiap-siap mengikuti Perayaan Ekaristi pagi di Gereja Bunda Maria Garut, sekitar 7 Km jaraknya, di hadapan Station Kereta Api Garut.
Misa dipersembahkan oleh Romo V Dwi Sumarno Pr. Sesudah misa para katekis berfoto bersama di depan altar gereja dan depan Patung Bunda Maria. Sesudah itu para katekis juga menikmati jamuan makan pagi yang disediakan oleh Pastor Paroki Garut sambil mengobrol seputar katekis. Para katekis sangat bersyukur atas semua pengalaman kebaikan Tuhan selama retret ini.
Teks: Theresia Eka Murti, Ketua Sie Katekese Pinang/ Foto-foto: Tim Sie Katekese