Foto: Komsos/Rafaela Chandra.
Dalam homili Misa Kamis Putih 28 Maret 2024 Romo Lammarudut Sihombing CICM menyampaikan katekese ringkas tentang Kamis Putih.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.
Dalam bahasa Inggris Kamis Putih disebut Holy Thursday, dan juga Maundy Thursday. Holy berarti suci, maundy dari bahasa Latin mandatum yang berarti perintah atau ketetapan yang merujuk peristiwa saat Yesus memberikan perintah kepada para muridNya saat Perjamuan Terakhir.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.
Sehari sebelum wafat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir dengan para muridNya, dan Perjamuan Terakhir itulah yang disebut Perjamuan Ekaristi atau Misa. Perjamuan Ekaristi yang ditetapkan oleh Tuhan itu menggambarkan sebuah persatuan dengan para muridNya, adanya makan bersama, adanya kebersamaan, adanya persaudaraan, termasuk dengan Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati Yesus.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.
Jadi dalam perjamuan itu digambarkan sebuah persekutuan, persaudaraan, siapapun dia dari ke-12 murid itu diikutsertakan. Dan sesungguhnya Perjamuan Ekaristi yang kita rayakan menggambarkan adanya persekutuan, persaudaraan di antara kita dan Yesus menyatakan diriNya sebagai Roti dan darahNya sebagai Air Kehidupan. Yang membawa kita kepada keselamatan dilambangkan dengan Roti dan Anggur.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.
Yesus mengorbankan diriNya untuk keselamatan manusia dan itu digambarkan dengan sharing (berbagi) dalam Perjamuan Suci. Maka buah dari Perjamuan Suci, buah dari Ekaristi adalah kerelaan umat untuk berbagi, kerelaan umat untuk mengorbankan diri sebagaimana Yesus mengorbankan diriNya untuk keselamatan kita.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.
Di bagian akhir Yesus berkata, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.” “Lakukanlah ini” sebagai perintah supaya kita melakukan Perjamuan Kudus, Perjamuan Ekaristi, yang bermuara pada buahnya, yakni kerelaan kita saling berbagi, saling berkorban.

Foto: Komsos/Walter Arya.
Kemudian Yesus memberikan perintah untuk saling melayani yang dilambangkan dengan melakukan pembasuhan kaki para muridNya. Jadi dalam Kamis Putih itu Yesus menetapkan Ekaristi, lalu membasuh kaki sebagai lambang, simbol perintah untuk saling melayani.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.
Membasuh kaki dalam budaya Yahudi biasa dilakukan sebelum masuk ke rumah, dan biasa dilakukan oleh para hamba, para pelayan sebagai bentuk penghormatan dan pengabdiannya kepada tuannya. Dan juga lazim pembasuhan kaki dilakukan oleh para murid kepada gurunya. Itulah sebabnya Simon Petrus merespons dengan nada protes karena merasa diri sebagai murid dan Yesus sebagai gurunya.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.
Simon Petrus tidak menangkap perintah Yesus dengan membasuh kaki para murid yang secara simbolis berarti memerintahkan “kamu semua harus saling melayani”. Melayani membutuhkan sikap merendahkan diri, rendah hati sebagaimana seorang pelayan, seorang hamba, untuk saling menolong, saling membantu satu sama lain.

Koor Wilayah Thomas. Foto: Komsos/Kevin Meydio.
Sebagai murid-murid Kristus kita diperintahkan untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan Yesus dengan Perjamuan Terakhir, yaitu merayakan Ekaristi dimana Yesus telah membagikan diriNya, mempersembahkan diriNya, mengorbankan diriNya, dan melayani sesama kita dalam kehidupan sehari-hari.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.
Jadi warna putih dalam Kamis Putih bukan soal warna pakaian melainkan soal hati yang bersih, suci, murni. Untuk apa? Untuk melaksanakan perintah Yesus.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.

Foto: Komsos/Walter Arya.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.

Foto: Komsos/Rafaela Chandra.

Foto: Komsos/Kevin Meydio.
Untuk ponsel: Klik segitiga putih, lalu klik Youtube untuk mendapatkan gambar yang ebih baik.
Teks: ps