Wefie oleh Pak Steve Pristy di saat sesi foto bersama.
Menjadi pegiat Seksi Kerasulan Kitab Suci (SKKS) itu mempunyai konsekuensi harus senang atau minimal sering membaca Injil dikarenakan tugas utamanya memang mewartakan injiul bagi sesama. Belum lagi sederet prasyarat lainnya yang berkaitan dengan kepantasan seseorang menjadi pewarta seperti harus bisa bergaul dan bersosialisasi, tidak punya kesulitan komunikasi, tahu harus mencari referensi kemana, dan mempunyai kemampuan untuk mendengar karena seorang pewarta tidak hanya bicara tapi juga mendengarkan sesama.

Pak Steve Madyo sebagai pembicara pertama sedang berdialog soal perasaan sebagai katua SKKS bersama bu Etty dan bu Lita.
“Seorang pewarta sabda Tuhan wajib membersihkan gelasnya dari pecahan atau serpihan beling yang mungkin ada karena gelasnya pernah jatuh dan retak atau nahkan pecah. Harus semirip mungkin perilakunya dengan Yesus yang akan diwartakan,” tegas Pak Steve Madyo sebagai pemateri pertama di acara tersebut. “Ia juga harus mau dan rela menjadi tempat bersandar banyak orang, jangan cuma bicara tapi juga mendengarkan,” tambahnya melanjutkan.

Bingkisan tali kasih yang diserahkan bu Lita pada pak Steve Madyo.
Sebelum sesi materi dan setelah dibuka dengan doa, ibu Lita sebagai ketua SKKS Sanberna membuka acara setelah dipersilakan mbak Ninik yang bertindak sebagai MC di sore hari itu. “Acara ini dilakukan sebagai ungkapan syukur SKKS Sanberna karena sudah setahun ini kita bersinergi untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab sebagai pengurus maupun pegiat Kitab Suci di paroki. Tentunya itu wajib kita syukuri bersama dan terima kasih atas kebersamaannya selama ini,” sambut ibu Lita. Pada Sabtu sore itu (16/12), acara dilaksanakan di Ruang Hijau Resto & Brasserie di Pondok Jagung dan dimulai pada jam 16.30 wib. Sekitar dua puluh lima orang hadir termasuk ibu Etty, ketua SKKS sebelum ibu Lita, dan bu Wati Mandiro, seorang pegiat senior dalam pewartaan Injil di Sanberna.

Sesi kedua yang dibawakan pak Totot Herwinoto tentang pewarta Injil yang kreatif.
Sesi kedua, setelah jeda cemilan, dibawakan oleh Pak Totot Herwinoto dengan materi yang memberi inspirasi soal mengkomunikasikan Injil pada sesama. “Pewarta Injil sama dengan wartawan yang harus bisa memenuhi 5W1H sehingga informasi yang disebarkan tidak salah. Untuk itu harus dilakukan komunikasi efektif yang mengedepankan syarat bahwa seorang komunikan atau pendengar wajib mengerti dengan baik semua informasi yang dibagikan seorang komunikator atau pewarta,” papar pak Totot menjelaskan. “Ini berlaku ke luar dan ke dalam. Ke dalam tentu kita harus paham betul siapa Yesus dan apa saja yang Dia lakukan sesuai Injil. Ke luar ya kita wajib tahu siapa yang kita mau bagikan informasi ini, latar belakangnya, usianya, jenis kelaminnya, dan sebagainya. Kalau tidak, bisa terjadi kesalahpahaman dan bisa berakhir dengan kondisi yang tidak mengenakkan. Dan be creative, selalu menjadi manusia kreatif dalam cara mewartakan injil,” tambahnya lagi.

Bu Lita menyerahkan bingkisan tali kasih kepada pak Totot Herwinoto disaksikan pak Steve Madyo.
Sore itu acara berjalan dengan lancar dan mendatangkan banyak manfaat. Acara kemudian ditutup dengan doa, foto bersama lalu dilanjutkan dengan makan malam. Sembari berbagi pengalaman, semua yang hadir menikmati hidangan yang telah disediakan dengan nyaman. Semoga SKKS Sanberna dapat semakin berkembang dalam iman dan memenuhi karya pelayanannya dengan kasih dan kerahiman Yesus Kristus, Sang Guru sejati. (tots)

Foto bersama walau beberapa peserta sudah pulang karena acara lain.

Yang "ketinggalan" saat acara sudah berakhir di malam itu.
Foto-foto: Tim SKKS Sanberna