Seluruh peserta berfoto bersama sesampai di lokasi acara.
Setelah menunda pelaksanaan Family Gathering (FG) Wilayah Yohanes karena terjadinya pandemi covid-19 selama kurang lebih tiga tahun dan melewati satu periode pergantian kepengurusan Koordinator Wilayah dan Ketua Lingkungan, akhirnya pada Sabtu-Minggu tanggal 18-19 November 2023 lalu dilaksanakan kegiatan tersebut dengan melibatkan umat di tiga lingkungan di dalam teritori Wilayah Yohanes.

Pak Agus Sumarno memberi aba-aba gerakan membaca tema acara.
Selama dua hari itu sekitar 140-an umat yang terdiri dari berbagai kalangan dan usia tumplek blek dalam keceriaan dan kebahagiaan bersama. Persiapan kegiatan dilakukan oleh sebuah panitia kecil selama sekitar enam bulan, diketuai Pak Agustinus Aris DM. Koordinasi akhir dilakukan dengan menyelipkan waktu ditengah-tengah padatnya kegiatan BKSN dan Bulan Rosario.

Ibu-ibu meramaikan suasana pagi dengan line dance.
Kegiatan FG ini dilaksanakan di Wisma Kompas Gramedia Anyer dan umat berseragam nuansa warna merah diberangkatkan pukul tujuh pagi dengan tiga bus dari halaman Kantor Kelurahan Paninggilan sebagai titik kumpul. Sejak sejam sebelum jadwal berangkat, suasana titik keberangkatan sudah heboh dengan panitia yang melakukan persiapan/koordinasi dan juga peserta yang sudah tidak sabar untuk segera duduk manis di bus masing-masing.

Gerak dan lagu jadi ciri utama kreasi seni tiap kelompok.
Sempat terjadi kesalahan teknis karena penumpang bus 1 dan bus 2 tertukar. Untungnya persoalan segera bisa diatasi dan terselesaikan dengan segera agar jadwal berangkat tidak terlambat. Sesuai jadwal, jam tujuh tepat, ketiga bus sudah melaju menuju lokasi acara dan semua penumpangnya bergembira ria, bernyanyi dan berjoget bersama di dalam bus masing-masing. Perjalanan selama tiga setengah jam tidak terasa membosankan sama sekali.

Ayo goyang duyu....
Setiba di lokasi, umat yang ikut serta sudah disambut oleh panitia perintis (advanced team) dengan segelas es kelapa muda, sajian lagu-lagu ceria dan spanduk yang sudah terbentang di tepi pantai bertuiskan “Sukacitaku, Sukacitamu, Sukacita Semua!”. Di bawah naungan sebuah tenda, acara pun dimulai dengan gegap gempita oleh tiga orang MC yang dengan kocak saling berbagi peran: pak Agus Sumarno, pak Joni Hiwana, dan pak Totot Herwinoto. Pembahasan tema acara pun bisa memakan waktu satu jam dengan kehebohan dan keceriaan tanpa jeda, padahal sebenarnya panitia sedang deg-degan menunggu makan siang disiapkan pihak wisma.

Karaoke siang-siang sembari goyang dumang...
Tepat jam setengah satu siang, acara makan siang bisa dilakukan dengan menu soto ayam. Setelah menyantap menu yang segar itu acara dilanjutkan dengan pembagian kelompok, pembagian kunci kamar dan dilanjutkan acara bebas. Para peserta dapat bebas memilih kegiatan: istirahat di kamar, ngobrol santai di saung, karaoke di tenda atau sekedar jalan-jalan menyusuri garis pantai.

Pak Aris DM, ketua panitia, didampingi para kaling.
Setelah memasukkan tas ke kamar masing-masing, tanpa dikomando lagi, peserta langsung terbagi menjadi beberapa kelompok. Anak-anak yang masih kecil riuh bermain ayunan dan jungkat-jungkit, para OMK ngeriung di bibir pantai sembari foto-foto, ibu-ibu memilih bernyanyi dan berjoget di tenda sementara bapak-bapaknya nongkrong ganteng dan nggosip di sebuah saung ditemani kelapa muda dan duren. Nikmat apalagi yang kamu dustakan, kawan!

Sehabis line dance boleh dong foto rame-rame.
Hari pun mulai temaram menuju senja manakala matahari sudah mendekati batas cakrawala. Saat itulah para peserta dikumpulkan lagi di tenda acara untuk makan malam bersama setelah seperti biasa mereka dibuat tertawa terpingkal-pingkal atas ulah kocak para pembawa acara. “Ayo ketawanya yang kencang dan semangat biar pada makin lapar dan makan malamnya makin enak!” ujar pak Agus. Selesai makan malam yang menghangatkan suasana, para peserta yang sudah dibagi dalam delapan kelompok diberi waktu lima belas menit untuk bersiap-siap dan berlatih pentas dimana masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk menghibur peserta dari kelompok lain dengan bentuk kreativitas seni yang wajib berbeda satu sama lain.
Tidak disangka, semua kelompok sangat serius dan bersemangat mempersiapkan diri berlatih dengan berbagai tingkah dan ekspresinya. “Ini lho sampai berasa lapar lagi padahal baru kelar makan malam tadi,” tukas salah satu peserta yang sedang berlatih bersama kelompoknya sembari memegang perutnya. Luar biasa semangatnya.

Sukacita semua kalangan dan usia.
Acara puncak dari FG Yohanes pun dimulai dengan sesi heboh rombongan “penganten” korwil yang dikawal cucuk lampah dan tiga ketua lingkungan lengkap diiringi alunan musik karawitan dengan tembang Kebo Giro. Korwil Yohanes, Pak Ignatius Budi Prabowo, lalu membuka acara dengan meriah,” Dengan ini saya nyatakan acara pentas kreasi Sukacitaku, Sukacitamu, Sukacita Semua, saya buka, selamat menampilkan yang terbaik!” Kelompok demi kelompok pun mulai unjuk kreasi masing-masing diselingi dengan kehebohan para MC dalam memandu acara. Ada yang mempersembahkan gerak dan lagu, ada yang berpuisi, ada pula yang mengajak bermain seperti sedang mengajar BIA, semua kreatif dan semua berbeda bentuknya. Tiga orang juri yang ditunjuk pada malam itu pun merasa kebingungan menentukan pilihan juara saking bagus dan kreativitasnya suguhan seni para peserta. Akhirnya juri menentukan juaranya adalah juara bersama karena semua kelompok sudah menampilkan kreasi terbaiknya dan semua terhibur, semua sukacita dan semua peserta mendapatkan hadiah souvenir berupa sebuah mug.

Yang tua dan yang muda, laki-laki perempuan, semua goyang.
Sebelum pengumuman juara, Pak Aris DM sebagai ketua panitia menyatakan rasa haru dan kebanggannya karena semua acara berjalan lancar dan meriah. “Benar-benar luar biasa semangat semua umat untuk menyukseskan acara ini, terutama terima kasih kepada tim panitia yang bekerja keras dalam persiapan dan pelaksanaan acara,” papar Pak Aris. Sementara Pak Budi Prabowo sebagai Korwil Yohanes dalam sambutannya mengemukakan pentingnya kegiatan kebersamaan dalam sukacia ini dilakukan secara rutin beberapa tahun sekali. “Saya salut semangat dan keceriaan para peserta sejak berangkat sampai semalam ini masih sama, heboh dan luar biasa. Terakhir kita adakan acara ini di tahun 2016, dulu anak-anak masih kecil-kecil tapi sekarang sudah pada jadi OMK semua. Terima kasih para panitia, saya mendorong untuk FG selanjutnya dua tahun lagi saya serahkan pengelolaan kepanitiaannya pada OMK Wilayah Yohanes,” tegas pak Budi. Spontan tepuk tangan membahana disertai teriakan-teriakan pemberi semangat para orang tua kepada para OMK yang hadir.

Tim advanced sudah hadir duluan mempersiapkan penyambutan.
Malam itu acara dilanjutkan dengan Karaoke Karokowe ditemani bakso dan seafood barbeqyu berupa ikan, cumi dan udang. “Hebat ini acaranya, semua senang dan semua kenyang, mantab!” tukas seorang bapak sembari mengacungkan jempol sebelum menyeruput kuah baksonya. Pukul satu pagi, televisi dan sound system pun dimatikan agar semua peserta dapat beristirahat dengan suasana pantai yang sejuk dan tenang. Selamat tidur…

Antri makan bersama selalu jadi kemeriahan tersendiri.
Pagi harinya acara dilanjutkan dengan line dance yang dilakukan ibu-ibu dengan lagu-lagu yang bisa membuat tubuh auto-goyang. Sarapan dilakukan setelahnya dan acara bebas kembali diberlakukan. Panitia sengaja tidak menyusun acara yang padat dengan lomba dan sesi-sesi serius. “Kegiatan FG kali ini memang sengaja dibuat santai dan longgar, apalagi kondisi pesertanya sudah banyak senior-senior yang menikmati acara dengan caranya sendiri-sendiri. Yang penting semua kumpul santai, ngobrol seru, makan enak dan bersukacita, berangkat bareng, pulang bareng,” jelas Pak Aris sembari tertawa.

Pak Ignatius budi Prabowo, Korwil Yohanes sedang menutup acara.
Selesai mandi, semua peserta diwajibkan untuk check out dan membawa tas ke bus masing-masing sembari menunggu kedatangan RD Thomas Vilkanova Saidi, pastor kepala Paroki Cilegon Gereja St Mikael yang akan hadir memimpin misa sebagai penutup acara pada siang hari nanti. Panitia mempersiapkan misa lengkap dengan petugasnya seperti prodiakon, putra altar, pemazmur, lektor, koor, dirigen dan organis. Altar pun telah dihiasi lilin dan rangkaian bunga cantik. Misa dilakukan pukul setengah dua belas dan berjalan sekitar satu jam lima belas menit.

Suasana misa di tepi pantai.
Dalam kotbahnya, Romo Thomas mengemukakan bahwa kesukacitaan harus dibiasakan dan dilakukan mulai dari keluarga masing-masing dahulu. “Bagaimana kita bisa berbagi sukacita jika hubungan dan komunikasi antar suami istri, orang tua dengan anak, dan antar anak-anak tidak berjalan baik? Tidak ada kasih yang nampak dalam keluarga? Jadi wajib hukumnya kasih itu diterapkan di dalam keluarga, dalam berkomunikasi, dalam mewujudkan iman kita terhadap Yesus Kristus Sang Raja yang sangat mengasihi dan menyayangi kita umatNya,” papar Romo Thomas sembari tersenyum.

Foto bersama sebelum pulang.
Segera setelah misa selesai, dilakukan foto bersama dan pembagian makan siang dalam kotak yang disepakati disantap di dalam bus masing-masing agar bisa segera pulang sebelum jam dua siang agar tidak kejebak macet. Para koordinator bus segera mengabsen peserta masing-masing dan bus diberangkatkan setelah doa didaraskan. Lagi-lagi dalam perjalanan pulang, semua peserta di dalam bus masing-masing tetap bersemangat saling menghibur dan bernyanyi sepanjang perjalanan selama kurang lebih tiga jam. Benar-benar menyalakan api semangat Sukacitaku, Sukacitamu, Sukacita Semua. Sampai bertemu lagi di FG Wilayah Yohanes mendatang ya! Caiyooo! (tots)
Foto-foto: Wilayah Yohanes.

RD Thomas V Saidi saat mempimpin misa.

Misa berlangsung dengan khidmat dan membawa roh sukacita.

Suasana sukacita di bus saat berangkat.

Mug souvenir FG Yohanes yang dibagikan kepada peserta.